Mengaku Diperas Haria dan Preman

Pedagang Demo Wali Kota Lhokseumawe, Minta Kadisperindakop Dicopot

Pedagang Demo Wali Kota Lhokseumawe, Minta Kadisperindakop Dicopot
Salah seorang wanita pedagang sayur berorasi tentang nasibnya yang kera dipungli preman.
Penulis
Rubrik
Sumber
Kontributor Kota Lhokseumawe

Lhokseumawe | Mengaku tak tahan diperas haria dan preman, sejumlah pedagang yang tergabung dalam Solidaritas Pedagang Bersatu (SPB), didampinggi Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR), melakukan aksi demontrasi ke Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Senin, 16 September 2019.

Ratusan pedagang Pasar Inpres, Jalan Listrik Kec. Banda Sakti Kota Lhokseumawe ini, terpaksa menutup dagangannya, karena ikut aksi unjuk rasa ini.

Akibatnya, masyarakat sempat kesulitan membeli keperluan sehari-hari, karena pasar sepi.

Kontributor MODUSACEH.CO di Lhokseumawe melaporkan. Rombongan pedagang dan mahasiswa, berkumpul di Kantor Wali kota setempat, sekira pukul 09.00 WIB. Lalu, meneriakkan yel-yel dan menyampaikan keluhan pedagang yang selama ini mengaku telah diperas dan diintimidasi dengan gaya preman.

Selain itu, para preman dan haria, juga merusak barang dagangan pada pasar setempat.

Selain membawa spanduk bertuliskan keluhan pedagang diperas preman, mahasiswa juga memakai topeng berwajah Wali Kota Lhokseumawe Suadi Yahya dan Kadisperindagkop Ramli.

Penanggung jawab aksi dari SMUR, Riski Rahmatullah mengaku, para pedagang dipungli oleh Haria Saidina, dibantu kakak kandungnya Androe. Kabarnya, dia tercatat dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) aparat Kepolisian setempat.

Ini terkait dengan sejumlah kasus kejahatan yang dia lakukan. Misal, membebaskan napi dalam LP Lhokseumawe dan pelaku pelemparan bom di rumah Mukim Ham, Desa Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Ironisnya, sampai hari ini polisi tak kunjung juga menangkap Androe. Bahkan dia masih bisa menjalankan bisnis jasa tersebut dengan leluasa.

Bayangkan, walau pedagang sudah membayar uang lapak di atas saluran, tapi tetap dicekik dengan pungutan liar.

Bila tidak memenuhi, maka terancam digusur atau kehilangan barang dagangannya.

Nah, aksi sepihak ini mendapat restu dari Kadisperindagkop Ramli. Terbukti dengan mengeluarkan surat Nomor 510/1035/2019, untuk menggusur lapak pedagang kecil.

Bahkan mahasiswa SMUR yang coba membantu pedagang juga tidak luput dari ancaman dan teror akan ditembak Androe.

"Para pedagang tak mau diperas dan diancam gusur. Karena tidak tahu mengadu kemana, akhirnya mengeluh hal itu pada mahasiswa. Kadisperindagkop Ramli justru tak peduli dengan nasib pedagang dan akan menggusur lapak. Pejabat ini sama sekali tidak membela pedagang, dan malah memberi kebebasan pada preman untuk mencekik rakyat, " ujarnya.

Kondisi pemerasan dan pungli dalam jumlah tak layak itu, sudah berlangsung lama hingga pedagang mengaku resah dan setiap hari dirugikan.

Para pedagang meminta Wali Kota Lhokseumawe, Suadi Yahya mengambil sikap tegas, dengan mencopot Kadisperindagkop Lhokseumawe, Ramli dan Haria Pasar Inpres Jalan Listrik Saidina.

Termasuk membasmi pungutan liar dan menertibkan retribusi yang mencekik leher pedagang.

Bukan hanya itu, sejak Kadisperindagkop Ramli menggunakan jasa preman, para pedagang disana, mengaku mendapat perlakuan seperti sapi perah.

Akibatnya, diduga kondisi pasar sudah menjadi tempat berkumpulnya para preman, yang mengkonsumsi narkoba. Ini terlihat, adanya bong di lapak pedagang.

Untuk itu pedagang dan mahasiswa minta agar Pemko Lhokseumawe harus membela dan membantu pedagang yang tertindas.

Sebab, selama ini mereka adalah penghasil restribusi PAD terbesar di Pasar Inpres Jalan Listrik.

Tuntutan lain, meminta Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan memeriksa Kadisperindagkop Ramli, meminta DPRK untuk membuat tim pansus menyelidiki indikasi korupsi retribusi.

Riski menegaskan, apabila tuntutan tersebut tidak diindahkan atau diabaikan, para pedagang Pasar Inpres Jalan Listrik mengancam akan melakukan aksi mogok kerja.

Tujuannya, agar pasar setempat tidak kehilangan retribusi, karena tak ada pedagang yang berjualan.***

Komentar

Loading...