Pansus II DPRA Minta Aparat Hukum Usut Proyek 'Malapetaka' Embung Lhokseumani

Pansus II DPRA Minta Aparat Hukum Usut Proyek 'Malapetaka' Embung Lhokseumani
Embung Lhokseumani, Desember 2015 | Foto: MODUSACEH.CO
Banda Aceh | Proyek Peningkatan Embung Lhokseumani yang menelan anggaran Rp 1,5 miliar lebih di Kecamatan Bate, Kabupaten Pidie rupanya bukan saja tidak membawa manfaat, tapi juga malapetaka bagi masyarakat di sana. Sebab, sebelum proyek peningkatan ini dikerjakan, warga Lhokseumani sesungguhnya dapat menggunakan dan mengairi air dari embung tersebut ke areal persawahan mereka. "Menurut penilaian kami Dinas Pengairan Aceh dalam membuat perencanaan asal-asalan yang akhirnya mengakibatkan kerugian keuangan negara, seharusnya setiap Rupiah yang dibelanjakan oleh penyelenggara negara, tujuannya adalah untuk mensejahterakan rakyat tetapi malah Dinas Pengairan Aceh membelanjakan Rp. 1.517.881.000,- untuk  menyengsarakan rakyat Lhokseumani Kecamatan Batee," kata Juru Bicara Pansus II Nurlelawati saat membacakan Laporan Hasil Pansus mereka pada Paripurna DPRA, Selasa (23/8/2016).

Untuk menyikapi permasalahan ini, lanjut Nurlela, Pansus Dapil II DPR Aceh meminta kepada auditor BPK RI dan aparat penegak hukum mengusut tuntas proyek Pembangunan dan Peningkatan Embung Lhokseumani, Kecamatan Batee yang dilaksanakan pada tahun 2015 itu. "Baik dari segi teknis pekerjaan maupun pelanggaran dalam hal administrasi keuangan," katanya.

Nurlela merincikan, berdasarkan rekam jejak yang diberikan oleh Dinas Pengairan Aceh dengan belanja Rp. 1.517.881.000, proyek ini telah terealisasi dan fungsional. Hasil kunjungan pansus ke lokasi ternyata proyek ini sama sekali tidak fungsional alias proyek malapetaka bagi masyarakat. Seharusnya embung ini sudah dapat mengairi tujuh gampong, yaitu  Gampong Alue Lada, Gampong Seulatan, Gampong Tuha, Gampong Mee, Gampong Teupin Jeue, Gampong Calong dan Gampong Dayah.  

Menurut Pansus II, ada beberapa hal yang menyebabkan kondisi itu terjadi. Di antaranya karena perkejaan tidak dilakukan sesuai dengan kontrak. Misal, hasil pengerukan sesuai dengan kontrak seharusnya dibuang di luar lokasi embung, ternyata di lapangan hasil pengerukan dibuang di lokasi embung sehingga embung menjadi sempit dan mengecil, padahal setiap kubik tanah yang dipindahkan ke luar lokasi embung dibayar oleh negara, sesuai dengan nilai kontrak," jelas Nurlelawati.

Selain itu, lanjut Nurlela, pekerjaan pembesian dinding proteksi tanggul terkesan dibuat asal jadi alias tidak sesuai dengan spesifikasi yang ada. Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Aceh Dalimi yang pernah berkunjung ke lokasi pada bulan Februari 2016 mendapati bahwa embung ini tidak selesai dikerjakan, sementara dana telah ditarik 100 persen pada bulan Desember 2015. "Temuan ini bahkan sudah pernah dimuat di media Serambi Indonesia dan Tabloid Mingguan Modus Aceh (grup MODUSACEH.CO)," katanya.  

Wakil Ketua DPR Aceh itu bahkan sudah pernah disampaikan kepada Inspektorat Aceh dengan Surat Nomor Istimewa/VI/2016 tanggal 20 Juni 2016 Perihal Hasil Kunjungan Kerja Wakil Ketua DPRA, untuk segera ditindaklanjuti. Namun, kata Nurlela, jawaban dari Inspektur Aceh melalui suratnya Nomor : 700/A.II/581/1A tanggal 30 Juni 2016 sungguh sangat mengecewakan. Pihak Inspektorat menerangkan bahwa pekerjaan Embung Lhokseumani sudah dilakukan pemeriksaan lapangan pada tanggal 18 Januari 2016 dengan hasil pihak rekanan tidak menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan progress pekerjaan saat itu sudah 89 % dengan rincian pekerjaan yang belum selesai yaitu proteksi tanggul sepanjang 40 M dan saluran type II. Sedangkan temuan yang dilaporkan oleh Wakil Ketua DPRA didapati pada bulan Februari 2016 dengan rincian pekerjaan proteksi tanggul hanya dikerjakan sepanjang lebih kurang dua meter dari total panjang 52.80 meter sesuai dengan kontrak kerja dan hal ini sangat bertolak belakang dengan hasil temuan pihak Inspektorat Aceh. "Hal ini menimbulkan kecurigaan kepada SKPA dengan fungsi pengawasan tersebut bahwa ada indikasi menutupi kelalaian dari Dinas Pengairan Aceh," kata NUrlela.*

Komentar

Loading...