Breaking News

PandemicTalks Sebut Kasus Covid-19 Lebih Buruk dari Publikasi

PandemicTalks Sebut Kasus Covid-19 Lebih Buruk dari Publikasi
Lokasi pemakamkan jenazah Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Selasa (8/9/2020). (Foto: antaranews.com)
Penulis
Rubrik
Sumber
CNN Indonesia.com

Jakarta | Inisiator PandemicTalks, Muhammad Kamil mengungkapkan tingginya positivity rate atau rasio positif virus corona di Indonesia menandakan tingkat penyebaran Covid-19 masih sangat mengkhawatirkan.

Meskipun, lanjut Kamil, pandemi sudah berjalan hampir 10 bulan sejak Maret 2020. Adapun positivity rate harian tercatat sebesar 27,6 persen. Analisa angka ini berasal dari data testing orang dan jumlah positif pada Senin (21/12) kemarin.

Berdasarkan data, ada pemeriksaan kepada 24.753 orang dan ditemukan 6.848 kasus positif. Meski jumlah pemeriksaan pada orang sedikit, akan tetapi temuan kasus positif terus tinggi.

"Kasus Covid-19 sebenarnya berkali lipat di masyarakat," kata Kamil saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (22/12).

Belum lagi, tambah Kamil, masih tingginya angka kematian dalam beberapa hari terakhir yang bahkan mencatatkan rekor. Pada Minggu (20/12) ada 221 kasus kematian, sementara data Senin (21/12) mencatat 205 kematian. Angka kematian kumulatif pun tembus 20.085 kasus.

Menurut dia, tingginya angka kematian dalam beberapa hari terakhir semestinya jadi pengingat kehati-hatian pemerintah supaya ketahanan rumah sakit bisa terjaga.

"Ini adalah tanda bahwa sistem kesehatan sudah tak mampu merawat semua pasien terutama yang bergejala berat. Dimana seharusnya jika sistem kesehatan masih kuat, angka kematian karena Covid-19 harusnya bisa di tekan," ungkap dia lagi.

Yang Luput dari 3T Pemerintah
Sementara itu, Kamil melanjutkan, Indonesia masih terus bermasalah dengan proses rasio-lacak-isolasi (RLI) atau yang kerap disebut 3T (testing-tracing-treatment). Padahal menurut dia, problem ini harusnya bisa diselesaikan pada awal pandemi.

Ia menjabarkan, saat ini tim pelacakan Covid-19 hanya bisa menelusuri sebanyak 1-2 orang dari penemuan 1 kasus positif. Padahal menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pelacakan dilakukan idealnya pada 25-30 orang.

Kondisi itu mengakibatkan temuan kasus Covid-19 terlambat, sementara pasien bisa saja dalam gejala berat sehingga mestinya harus segera dirawat di rumah sakit.

"Sistem tracing di Indonesia jelas tidak jalan, indikasinya adalah RLI di Indonesia itu hanya 1,62 atau bisa dibilang tiap 1 orang positif, maka hanya bis dilacak 1-2 orang yang kontak erat, padahal rekomendasi WHO minimal 25-30. Contoh baik di Singapura RLI score nya 70," jelas dia lagi.

"Intinya, data-data yang dipublikasi pemerintah saat ini tidak merepresentasikan kondisi sebenarnya, tapi dengan positive rate tinggi dan kematian tinggi, maka bisa dipastikan kondisi sebenarnya berlipat kali lebih buruk dari angka-angka yang dipublikasi pemerintah," imbuh Kamil.

Berkaca pada kondisi pandemi di Indonesia tersebut, Kamil berharap pemerintah segera mengintervensi sistem kesehatan sehingga mampu bertahan menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Di samping itu, pemerintah juga harus melakukan pelacakan (tracing) lebih banyak terhadap kontak erat, tidak hanya meningkatkan testing.

"Yang luput adalah meningkatkan pelacakan pada kontak erat, bukan hanya meningkatkan testing. Wabah kan bukan banjir yang ditunggu surut sendiri. Kalau nggak ada intervensi public health secara masif kolektif ya nggak bakal surut wabahnya," Kamil menyarankan.

20201222-infografis

Kasus positif Covid-19 di Indonesia Senin (21/12) bertambah sebanyak 6.848 kasus, sehingga terakumulasi total 671.778 kasus. Dari total itu, sebanyak 546.884 sembuh, 20.085 kasus meninggal dunia, dan 104.809 masih merupakan kasus aktif yang membutuhkan perawatan.

Adapun PandemicTalks sendiri merupakan platform yang menghimpun informasi dan menyajikan data Covid-19 di Indonesia dari basis spektrum sains serta ekonomi sosial politik secara berkala.***

Komentar

Loading...