Breaking News

Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Kabupaten Aceh Barat, Mahasiswa HPI STAIN TDM

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

Optimalisasi Potensi Ekonomi Pesisir Barsela

Optimalisasi Potensi Ekonomi Pesisir Barsela

WILAYAH pantai Barat Selatan Aceh (Barsela) meliputi pesisir Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan.Kawasan ini berbatasan langsung dengan samudra Hindia.

Sebagian besar wilayah Barsela mengalami kerusakan parah akibat gempa dan tsunami Aceh 15 tahun silam. Puluhan ribu nyawa melayang dan ribuan rumah serta infrastruktur publik lainnya rusak bahkan rata dengan tanah.

Pasca rekontruksi Aceh, secara fisik pembangunan Aceh nyaris sempurna. Melalui bantuan dalam dan luar Negeri, pemulihan (recovery) kondisi fisik berjalan sangat baik, pembangunan rumah layak huni bagi korban bencana berjalan cepat.

Ditambah realisasi alokasi dana Otonommi Khusus (Otsus) yang diterima Pemerintah Aceh, juga sebagian besar difokuskan pada pembangunan infrastruktur publik seperti jalan raya, jembatan, sekolah, rumah sakit dan lainya.

Hasilnya, wilayah pesisir Barsela menjadi kawasan dengan infratruktur memadai. Namun, keberhasilan rekonstruksi fisik ternyata tidak dibarengi dengan pemulihan kondisi ekonomi masyarakat, terutama di kawasan pesisir yang terdampak langsung musibah tsunami. Akibatnya angka kemiskinan di Aceh terutama kawasan peisisir masih sangat tinggi dan tidak mengalami penurunan secara signifikan.

Data BPS tahun 2019 mencatat, kemiskinan di wilayah Barat Selatan Aceh yang notabenenya pesisir masih berada diangka 2 digit. Angka tersebut masih diatas rata-rata nasional. Persentase kemiskinan di Kabupaten Aceh Jaya sebesar 13,36 persen, Aceh Barat 18,79 Persen, Nagan Raya 18,97 persen (2018), Aceh Barat Daya 17,10 persen (2018), dan Aceh Selatan 14,01 persen (2018).

Ada apa dengan kawasan pesisir? Jika kita cermati fenomena pesisir barat selatan Aceh, lahan yang dulunya digunakan petani sebagai tempat bercocok tanam, pasca tsunami telah menjadi danau-danau kecil yang tak layak tanam. Bahkan sebagian besar lahan pesisir Barsela saat ini malah menjadi lahan tidur.

Karena itu, sudah saatnya pemerintah maupun pihak swasta berfikir serta berbuat untuk menciptakan komoditi bernilai dolar dengan mengoptimalkan lahan pesisir bekas bencana alam gempa dan tsunami.

Menyulap Lahan Tidur Jadi lumbung Dolar

Kekayaan alam yang dimiliki Aceh sangat melimpah, salah satunya Samudra Hindia dengan segala kekayaan dan keanekaragaman hayati yang terkandung di sekitarnya.

Wilayah pesisir juga merupakan kawasan yang memiliki produktivitas hayati yang tinggi. Namun, sejauh ini kita belum mampu mengoptimalkan potensi alam tersebut dengan maksimal. Hanya nelayan tradisional dengan peralatan seadanya yang setia melalut untuk mengais nafkah dan memenuhi kebutuhan pasar lokal Aceh.

Bagaimana Strategi Optimalisasi Kawasan Pesisir Barsela?

Wilayah pesisir Barsela memang memiliki potensi keindahan dan kenyamanan sebagai tempat rekreasi dan pariwisata, hanya saja konsep pembangunan pariwisata tidak begitu cocok dengan kodisi sosial masyarakat Aceh yang mengedepankan nilai-nilai kesyariahan.

Saya berpandangan, salah satu jalan terbaik mengoptimalkan lahan bekas tsunami di pesisir Barsela adalah, mengkonversi lahan tersebut menjadi lahan budidaya yang dapat dikelola secara berkelanjutan (susteneble).

Konsep terbaik dan yang cocok direalisasikan di pesisir Barsela adalah budidaya udang vannamei yang memiliki nilai ekonomi tinggi atau bernilai dolar.

Meski saat ini Indonesia telah menjadi salah satu eksportir utama udang beku di pasar global, namun produksi udang Indonesia masih berada dibawah India, Ekuador, dan Vietnam.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat komoditas udang masih menjadi primadona untuk ekspor hasil perikanan. Hingga akhir tahun 2018, ekspor udang mampu menembus US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 26,3 triliun dengan pasar tujuan ekspor ke belahan Asia, Uni Eropa, dan Amerika. Permintaan pasar global yang tinggi harus mampu dibidik menjadi peluang menciptakan lumbung dolar di pesisir Barsela Aceh.

Sedikit berbagi pengalaman pribadi tentang usaha budidaya udang. Di akhir tahun 2017, saya memberanikan diri untuk berinvestasi budidaya udang di kawasan pesisir Desa Suak Pandan, kecamatan Sama Tiga, Kabupaten Aceh Barat.

Udang vannamei (litopenaeus vannamei) namanya, merupakan varietas unggulan dan primadona di Indonesia. Varietas udang ini sangat cocok dikembangkan di pesisir karena habitatnya menggunakan air laut. Vannamei mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan jenis udang lain. Vanname memiliki daya tahan yang baik terhadap perubahan kondisi lingkungan, memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap penyakit, memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat, memiliki derajat kehidupan yang tergolong tinggi, hemat pakan, dan waktu pemeliharaanya yang relatif cukup pendek, yaitu berkisar antara 90 hingga 100 hari dalam sekali siklus.

Awal mula dengan modal Rp 1 miliar, saya membuat 10 petak kolam terpal dengan luas areal 2 hektar, setelah berhasil dan puas dengan panen pertama, awal tahun 2018, saya membangun konstruksi kolam baru 44 petak di tanah seluas 6 hektar, di pesisir laut Suak Pandan.

Saat ini dalam tiga tahun beroperasi telah menampung 34 tenaga kerja lokal dengan jumlah omset keseluruhan tambak sudah mencapai Rp 10 miliar rupiah.

Jika dihitung jumlah keuntungan bersih dalam satu petak tambak mencapai Rp 74 juta rupiah. Kita bisa bayangkan jika garis pesisir Barsela yang panjangnya kurang lebih mencapai 1.200 kilometer (KM), jika 50 persen diantaranya dapat dioptimalkan menjadi tambak udang vannamei. Maka implikasinya selain dapat menciptakan komoditi unggulan ekspor dengan nilai dolar, keberadaan tambak juga dapat mendongkrak perekonomian masyarakat pesisir karena akan menyerap tenaga kerja lokal.

Jika dalam satu petak kolam udang ukuran 100 dikali 100 meter, maka membutuhkan satu teknisi. Dan, berapa jumlah serapan tenaga kerja lokal? Hal ini akan memberi dampak besar  pada peningkatan taraf hidup masyarakat pesisir hingga berdampak pada penurunan angka kemiskinan.

Solusi Mewujudkan Impian Pesisir Barsela

Optimalisasi kawasan pesisir barsela hanya dapat dilaksanakan jika adanya jalinan kerjasama yang baik dari berbagai sektor, baik pemerintah dan masyarakat pesisir, pihak swasta maupun perguruan tinggi sebagai institusi pengetahuan.

Konsep yang sering disebut model triple helix merupakan satu bentuk sistem inovasi yang berbasiskan pengetahuan (knowledge-based innovation system), yang mencoba menangkap dinamika komunikasi maupun organisasi dengan mengenalkan gagasan suatu hamparan pertukaran relasi yang bolak-balik (feed back).

Secara sederhana, triple helix dapat diartikan sebagai skema kerjasama antara universitas-industri pemerintah untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan. Konsep ini banyak dikembangkan di negara-negara maju dunia.

Sebagai perumus kebijakan publik, pertama peran pemerintah sangat penting untuk menciptakan roadmap (peta jalan) pembangunan pesisir Barsela. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh, mestinya mengakomodir pembangunan pesisir Barsela berbasis budidaya.

Solusinya, baik Pemerintah Aceh, pemerintah Kabupaten bahkan pemerintah Gampong di kawasan pesisir, bersinergi untuk menciptakan kontruksi hukum tentang pengelolaan wilayah pesisir Barsela.

Termasuk mengalokasikan biaya untuk pembangunan program budidaya udang vannamei dalam rangka penguatan ekonomi masyarakat pesisir pantai Barsela. Jika program ini dapat dijalankan, dalam kurun waktu 3 tahun pesisir Barsela akan terlepas dari belenggu kemiskinan.

Kedua peran sektor swasta, dapat berkontribusi dalam penyertaan modal (investasi) di wilayah pesisir Barsela. Secara pribadi, sebagai pengusaha yang bekerja di sektor tambak udang, saya bersama tim siap membantu dalam bentuk pendampingan teknis terhadap pengembangan budidaya udang vannamei di wilayah pesisir Barsela.

Ketiga peran perguruan tinggi, dapat menjadi rujukan terhadap pengembangan serta pembaharuan ilmu pengetahuan, berkenaan dengan budidaya udang secara komprehensif dan berkesinambungan.

Barsela memiliki kampus “jantong hatee” masyarakat Aceh yang terletak di Meulaboh yaitu Universitas Teuku Umar yang secara konkrit mengusung moto “Kampus Agro And Marine Industri” Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Tengku Dirundeng Meulaboh (STAIN TDM) dan juga Akademi Komunitas Negri (AKN).

Terakhir, wacana pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Barsela juga dapat menjadi stimulus pembangunan kawasan pesisir. Ini semakin memperkuat peluang pesisir Barsela sebagai ekpsortir udang vannamei terbesar di sumatera, bahkan Indonesia karena didukung infrastruktur yang memadai.***

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...