Breaking News

Dibalik Muprov VI Kadin Aceh, 18-19 Juni 2019

“Operasi Senyap” dari Bale Saudagar Aceh

“Operasi Senyap” dari Bale Saudagar Aceh
Forum Penyelamat Kadin Aceh mengelar aksi demontrasi di Gedung DPR Aceh (Foto: MODUSACEH.CO)

SECARA de facto, siapa sosok Ketua Umum Kadin Aceh untuk lima tahun mendatang (2019-2024), terjawab sudah.

Sebab, hingga pukul 17.00 WIB, Sabtu (16/6/2019) kemarin, dari lima calon Ketua Umum Kadin Aceh yang mendaftar, ternyata hanya satu yang mengembalikan berkas persyaratan yaitu; H. Makmur Budiman. Sisanya atau empat nama lain seperti Sayed Isa, Nora, Hazwan serta Nahrawi alias Toke Awi, justeru mundur sebelum bertarung di arena.

Tentu, banyak alasan kenapa mereka ogah tampil di gelanggang. Tapi bagi sebagian pelaku dunia usaha serta media pers di Aceh, kondisi akhir ini memang sudah bisa dibaca dan tebak sejak awal; mayoritas soal dana partisipasi Rp 750 juta.

Bisa jadi, alasan ini ada pengecualian bagi Toke Awi. Sebab, pengusaha “tajir” ini kabarnya memiliki fulus “tanpa seri”. Tapi lagi-lagi, cakap memang harus serupa buat, kata orang Melayu. Faktanya? Nol besar!

Itu sebabnya, nyali empat calon lainnya, jika tak elok disebut; “cemen” ya nebeng popularitas gratis melalui media pers.

Maklum, jika mereka memang benar-benar serius, tentu mengirim tim sukses untuk mempelajari lebih dulu syarat yang diwajibkan, bukan langsung datang dan mendaftar. Ini namanya; pertama mengesankan, kemudian “lebay” juga!

20190616-demo2

Ambil alih Kantor Kadin Aceh beberapa waktu lalu (Foto: Guenta.com)

Tapi memang, secara de jure, masih ada proses atau tahapan yang harus dilalui peserta Muprov VI Kadin Aceh, 18-19 Juni 2019 di Banda Aceh. Mulai dari pembukaan, pengajuan dan pengukuhan  calon tunggal (aklamasi) hingga sidang-sidang komisi.

Dan, inilah titik akhir dari perjuangan asosiasi pengusaha Aceh, yang tergabung dalam FORUM PENYELAMAT KADIN ACEH, menghempas 15 tahun hegemoni kepemimpinan Firmandez di organisasi para pengusaha tersebut.

Menyebut nama Firmandez, tentu tak bisa lepas dari sosok Muhammad Mada alias Cek Mada, Muhammad Iqbal (Iqbal Pieung), Muntasir Hamid, Faisal Oesman, Ikbal Idris Ali, Syafruddin Budiman dan belasan pengusaha lainnya.

Figur mereka tak begitu mudah lekang dari hiruk pikuk Kadin Aceh dari waktu ke waktu. Bayangkan, Firmandez, merupakan satu-satunya Ketua Umum Kadin Aceh yang berhasil menancapkan kukunya selama 15 tahun di organisasi ini, tapi pengawasan yang berarti dari dunia usaha Aceh dan kritik serta “perlawanan” dari sohib lamanya yaitu, Cek Mada dan kawan-kawan.

Berbagai langkah dan usaha dilakukan anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar asal Aceh ini untuk mempertahankan “rezimnya”. Namun, pada paruh keempat, setelah tiga periode berkuasa, kuku Firmandez tercabut sudah.

Walau dia tetap berusaha menempatkan “kadernya” di organisasi ini, tapi Dewi Fortuna tak lagi berpihak kepadanya, seiring dengan gagalnya dia melangkah kembali ke Senayan, hasil Pileg 17 April 2019 lalu. Namun nasib apes yang saat ini dialami Firmandez, memang bukan cerita baru. Sejarah kelam, berulang kembali.

Syahdan, 15 tahun silam, pemilik Sultan Hotel Banda Aceh ini, juga merebutnya “secara paksa” tumpuk kekuasaan dari tangan H. Dahlan Sulaiman. Saat itu, Firmandez memang tidak sendiri, bersamanya ada Muhammad Mada alias Cek Mada, Muhammad Iqbal (Iqbal Pieung), Muntasir Hamid, Ikbal Idris Ali, Syafruddin Budiman dan belasan pengusaha lainnya.

Didukung penguasa  militer daerah Aceh ketika itu (Aceh Berstatus DOM), Cek Mada Cs melakukan “Operasi Senyap” dari Sultan Hotel Banda Aceh. Hasilnya, dengan modal sekecil-kecilnya, Firmandez justeru meraih hasil besar. Menjadi orang nomor satu di Kadin Aceh.

Namun, seiring bergulirnya waktu, berbagai dinamika terjadi. Buntutnya, melahirkan berbagai pergesekan antara Firmandez versus Cek Mada dan kawan-kawan. Yang menukik dan menjadi sorotan tajam adalah, Firmandez ditenggarai menanamkan “rezim” keluarganya pada organisasi dunia usaha tersebut. Dan nyaris, tanpa pengawasan yang ketat dan berarti.

Sejarah kembali berulang. Jika sebelumnya Firmandez bisa duduk di kursi empuk Ketua Kadin Aceh hingga 15 tahun, karena kerja keras Cek Mada dan kawan-kawan. Kini, Cek Mada dan kawan-kawan pula yang mengakhirinya.

20190616-demo3

Bersama Ketua Umum Careteker Kadin Aceh Teuku Zulham beraudiensi dengan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah (Foto: MODUSACEH.CO)

Ibarat pepatah, Cek Mada Cs yang menaikkan, maka dia pula yang mengakhirinya. Hanya saja, proses yang dilalui tak semulus ketika Firmandez “naik tahta”. Nyaris butuh waktu setahun bagi Cek Mada untuk melakukan “Operasi Senyap”. Mulai dari mengalang kekuatan di internal dunia usaha Aceh hingga membangun komunikasi dengan Kadin Indonesia. Tak kecuali, Pemerintah Aceh sebagai mitra strategis Kadin.

Akibatnya, berbagai protes keras dan aksi demontrasi hingga berbuntut pada perebutan Gedung Kadin Aceh (Bale Saudagar) terjadi. Bahkan, sempat singgah ke ranah hukum. Begitupun, tak menyurutkan “Operasi Senyap” yang dilakukan Cek Mada dan kawan-kawan dari Bale Saudagar Aceh.

Hasilnya, kisah dan riwayat Firmandez selama 15 tahun menahkodai Kadin Aceh dengan penuh haru-biru, berakhir sudah.***

Komentar

Loading...