Tak Masuk Dinas Karena Sakit

Oknum Disdik Lhokseumawe Potong Dana Tunjungan Sertifikasi Guru Rp 3,5 Juta

Oknum Disdik Lhokseumawe Potong Dana Tunjungan Sertifikasi Guru Rp 3,5 Juta
SekolahDasar.Net/Ilustrasi
Rubrik

Lhokseumawe | Apes benar nasib Hajjah Salbiah. Karena tidak masuk dinas lima hari (tiga hari karena sakit) dua hari untuk istirahat pemulihan, dana sertifikasi guru milik Kepala SD 21, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe ini, dipotong Rp 3,5 juta oleh staf Disdik di kota itu. Alasannya, sesuai aturan, karena  Hajjah Salbiah tak masuk dinas. Padahal, dia mengantongi surat keterangan dari dokter, tempat rumah sakit dia dirawat. Akibat dari pemotongan sepihak ini, putra guru yang akan memasuki massa pensiun ini, Fahmi Reza, yang juga seorang wartawan televisi swasta di Banda Aceh, mempertanyakan kebijakan yang diambil staf Disdik Lhokseumawe yang bernama Er dan Fitri. “Kalau memang aturannya seperti itu, kami tak mempermasalahkan. Tapi, ibu saya tak masuk karena sakit. Kalau pun dua hari dinyatakan absen, apa benar harus dipotong sampai Rp3,5 juta.

Kejadian itu bermula bulan Maret 2017 lalu. Hajjah Salbiah mengalami sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit swasta. Begitu pulih, dia mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe. Betapa terkejut ketika dia mengetahui dana tunjangan sertifikasi  guru telah dipotong, karena alasan sesuai aturan. “Saya bertanya, kenapa dipotong begitu besar. Seorang staf bernama Er mengaku, sesuai perintah atasannya yaitu Fitri. Saat ditanya kepada Fitri, saya juga mendapat jawaban yang sama,” ungkap Salbiah pada MODUSACEH.CO, Rabu petang.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe Rusli mengaku tak tahu informasi ini. “Saya tak tahu, mengapa tidak melapor kepada saya,” kata dia saat dikonfirmasi. Terkait aturan tadi, Rusli mengaku akan mempelajari dulu. “Saya akan komunikasi dulu dengan Bu Salbiah. Sementara, Fitri yang dihubungi media ini tak tersambung. Walau nada sambung terhubung, staf Disdik Kota Lhokseumawe ini tak mengangkatnya.

Sejumlah guru di Lhokseumawe mengaku. Praktik potong memotong sepihak ini kerap terjadi di dinas tersebut. Namun, banyak guru yang tak berani berkutik, karena takut mendapat sanksi. “Bisa-bisa kami dipindahkan ke sekolah lain, di luar Banda Aceh,” ungkap sumber yang tak mau ditulis namanya ini.  Menurut dia, manajemen di Disdik Lhokseumawe memang terkesan tak jelas. "Kalau dana tunjangan sertifikasi kami terlambat di bayar, kami tidak protes. Tapi, begitu kami tak masuk, walau sakit, tetap saja di potong secara sepihak, karena alasan peraturan," ulas sumber tadi. Gawat!***

Komentar

Loading...