Ketika Satpol PP/WH Banda Aceh Bertindak Tegas

Oknum Anggota MPU Aceh Besar Akhirnya Dihukum Cambuk

Oknum Anggota MPU Aceh Besar Akhirnya Dihukum Cambuk
Penulis
Rubrik

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman, (Qs. An Nur, ayat 2).

Banda Aceh l Algojo terus mehantamkan rotan ke punggung perempuan paruh baya yang berada di atas panggung. Ratusan pasang mata warga, ikut menyaksikan itu.

Perempuan berpakain putih ini  terus menunduk malu. Sesekali dihelanya nafas panjang, menahan rasa sakit di tubuhnya. Bibir ditutup rapat, sambil memejamkan dua mata. Tapi, alojo tak perduli, terus memainkan rotannya.

Mereka yang menyaksikan, lantas bersorak sambil memberi komentar miris. "Nyan cewek, hahhahaha, cok na rasa, saketkan dicambuk. Pubut lom, (itu perempuannya, hahaha. Ada rasa sakitnya dicambuk, lakukan lagi)," kata seorang laki laki dalam kerumunan massa.

Tak hanya hinaan, beberapa lainnya malah menunjukkan rasa iba, melihat perempuan tadi terus dipukul menggunakan rotan. "Kasiannya, jadi pelajaran untuk tidak melakukan perbuatan terlarang lagi," ucap seorang ibu.

Lalu, giliran laki laki kurus paruh baya yang dihantam pukulan rotan oleh algojo. Pria dengan rambut setegah jotos itu mendapat hukuman sama. Saat itu, riuh penonton semakin terdegar.

Sakit? Tentu. Buktinya ketika algojo melayangkan rotan ke tubuhnya. Laki laki gemetar dengan mengenggam rapat kedua jemari tangan, menahan rasa perih.

Pada pukulan terakhir, mulutnya terbuka lebar sambil merintih; Ahhh!

Bagitulah, prosesi pelaksanaan uqubat cambuk bagi pelanggar Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014, tentang Hukum Jinayat. Kamis siang, 31 Oktober 2019, di Taman Bustanussalathin, Banda Aceh.

Itu dilakukan, berdasarkan putusan Majelis Hakim Mahkamah Syariah Kota Banda Aceh, Rabu (23/10/2019) terhadap Nurmawati binti Abdurahman (45)  dan Mukhis bin Muhammad (48). 

Majelis Hakim Mahkamah Syariah Kota Banda Aceh memvonis insan non muhrim ini dengan 30 dan 25 kali cambukan kerena terbukti melakukan mesum beberapa waktu lalu di kawasan Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh.

Nurmawati binti Abdurahman (45), merupakan seorang ibu rumah tangga dan masih terikat pernikahan sah dengan suaminya, sementara Mukhis bin Muhammad (48), merupakan anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Besar. Duh!

Tapi, siapa sangka walau berada dalam lingkungan yang identik dengan keagamaan, dan lembaga yang mengatur tentang hukum Islam. Mukhlis tak mampu menahan nafsunya.

Nah, atas perbuatan tersebut, statusnya sebagai MPU Aceh Besar terancam hilang, dia dipecat dari jabatannya.

Begitupun, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh, M. Hidayat, yang ditemui awak media pada acara tersebut, terkesan menutupi status Mukhlis, sebagai anggota MPU Aceh Besar.

Padahal, Wakil Bupati Aceh Besar, Tgk Husaini A.Wahab atau akrab disapa Waled Husaini, mengaku benar jika benar Mukhils merupakan oknum MPU Aceh Besar.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh, M. Hidayat

“Ya kalau kalian sudah komfirmasi ke Wakil Bupati dan ternyata benar, berarti itu benar. Saya di Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh, berpedoman pada identitas yang sebenarnya yaitu KTP. Menyangkut dengan profesi sampingan atau lainnya saya tidak tahu, ungkap hidayat. 

Menurut Hidayat, ketika ditangkap, pihaknya mengambil KTP dan melihat identitangnya adalah sebagai wiraswasta.

“Jadi itu yang kita jadikan acuan. Menyangkut dengan pengembagan bahwa dia anggota MPU Aceh Besar, kami tidak kembangkan seperti itu. Ketika identitas sudah jelas, berkas terpenuhi, kita sampaikan ke kejaksaan dan berproses hingga dilakukan cambuk,” jelas Kepala Satpol PP Banda Aceh ini, panjang lebar.

Nah, selain Mukhlis dan NurMawati, sepasang non muhrim lainnya Raudhatun Nur bin Alm. Zulkifli (18) juga menerima cambukan 15 kali. Raudhatun berpasangan dengan anak dibawah umur. Sebab itu, ia hanya menerima hukuman sendirian.

“Pasangannya anak sekolah dibawah umur 18 tahun, jadi tidak dicambuk. Ia dititipkan di Panti Sosial untuk direhabilitasi. Saya tidak bisa memberikan penjelasan secara utuh. Ini merupakan terdakwa yang didapati WH Provinsi. Kita khusus yang dua orang saja, yang kita dapatkan ditanggul Ulee Lheue,” sebut Hidayat.

Selain itu dia mengatakan, pihaknya tidak pandang bulu. Apapun profesinya, jika kedapatan melakukan zina atau penaggaran syariah maka akan di hukum cambuk. “Kita bertindak tegas, tidak melihat profesi. Jika kedapatan akan kita proses,” janjinya.

Semoga ada hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian, serta terus berpegang teguh pada hukum Allah secara adil. Wallahu A'lam.***

Komentar

Loading...