Breaking News

Hukuman Pasangan Pelaku Jarimah Zina

Nyaris Pingsan Saat Dicambuk 100 Kali

Nyaris Pingsan Saat Dicambuk 100 Kali
Terpidana Wahyuni alias Yuni binti Muhammad Yusuf menjalanni hukuman cambuk (Foto: Din Pasee)

Lhokseumawe I Meski sempat merasa perih kesakitan, namun pasangan bukan muhrim sebagai pelaku Jarimah Zina akhirnya terpaksa menahan dengan tegar hukuman 100 kali cambuk di Stadion Tunas Bangsa Desa Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Pelaksanaan Uqubat Cambuk terhadap pelanggar Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014, tentang hukuman Jinayat itu, berlangsung secara terbuka pukul 16.00 WIB, Jumat, 5 Februari 2021. 

Awalnya pihak Kejaksaan Negeri Kota Lhokseumawe mengeksekusi satu pria Junardi alias si Beut bin Usman, sesuai putusan Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe. Dia terbukti melakukan jarimah zina, tanggal 28 Desember 2020.

Perbuatan pelaku yang masih lajang itu melanggar Pasal 33 ayat satu Qanun Aceh, Nomor 6 tahun 2014, tentang hukum jinayat dengan hukuman cambuk sebanyak 100 kali.

Ketika menjalani hukuman yang dicambuk dengan rotan oleh algojo, pelaku sempat beberapa kali mengangkat tangan sebagai tanda minta berhenti karena mengeluh kesakitan.

Akibatnya,  proses hukuman cambuk berlangsung agak lama karena menunggu kesiapan pelaku hingga tuntas menerima 100 kali cambuk.

Selanjutnya, pihak petugas mengeksekusi Wahyuni alias Yuni binti Muhammad Yusuf, sesuai putusan Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe bahwa tanggal 28 Desember 2020 telah melakukan jarimah zina.

Perbuatan pelaku selaku wanita yang sudah bersuami itu melanggar Pasal 33 ayat satu Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014, tentang hukum Jinayat dengan hukuman cambuk sebanyak 100 kali.

Pelaksanaan hukuman cambuk oleh algojo wanita ini, pelaku Yuni juga sempat beberapa kali meminta berhenti dan menunda waktu sejenak karena mengeluh kesakitan.

Dia nyaris pingsan, namun Yuni terpaksa harus menahan cambuk sebanyak 100 kali hingga tuntas.

Kepala Kejaksaan Negeri Kota Lhokseumawe Mukhlis mengatakan. Kedua terdakwa yang merupakan pasangan selingkuh itu harus tetap berada dalam tahanan sampai dengan pelaksanaan uqubat selama jangka waktu 30 hari mendatang.

Kata dia, penerapan Syariat Islam seperti hukuman cambuk ini perlu dilaksanakan secara berkelanjutan supaya bisa menjadi peringatan dan pelajaran bagi masyarakat lain agar tidak melakukan pelanggaran Syariat Islam di Aceh.

Disebutkannya, selama masa pandemi pihaknya telah dua kali melaksanakan hukuman cambuk bagi pelanggar Qanun Aceh dan kondisi itu tidak menjadi hambatan dalam untuk menegakkan Syariat Islam.

“ Walau ditengah kondisi pandemi kita tetap melakukan hukuman cambuk kepada pelanggar Qanun Aceh. Masyarakat juga perlu menyaksikannya sebagai bahan renungan, pelajaran dan peringatan agar tidak sekali-kali melakukan pelanggaran. Nanti ke depan akan menyusul satu kasus lain dan siap-siap menerima hukuman cambuk,” ujarnya.***

Komentar

Loading...