Breaking News

Nurhadian, Potret Janda Miskin di Aceh Besar Butuh Perhatian

Nurhadian, Potret Janda Miskin di Aceh Besar Butuh Perhatian
Azhari Usman/ MODUSACEH.CO

“Jangankan untuk bangun MCK, dinding dapur saja yang hampir roboh tidak ada biaya untuk diperbaiki. Makanya, saya dan anak-anak buang air besar dalam kantong plastik dan dibuang ke semak-semak”

MODUSACEH.CO | Potongan kayu ukuran 5 kali 5 sentimeter terlihat direbahakan pada dinding rumah milik Nurhadian (47), janda asal Gampong Neuhen, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Minggu (21/10/18).

Kayu dengan panjang satu meter itu sengaja disandarkan di dinding, untuk menopang papan yang didirikan, menutupi lobang dinding yang telah hancur. Tak hanya papan, potongan seng bekas juga dijadikan dinding untuk menambal tiplek yang sudah lapuk dimakan usia.

Dilihat dari dekat, bangunan rumah milik Nurhadian sangat memprihatinkan. Rumah dengan luas 4 x 10 meter ini hanya terdapat satu kamar tidur, dengan kondisi dapur yang sangat sempit tanpa dilengkapi MCK.

Itu sebabnya, untuk melakukan aktifitas cuci mencuci dilakukan di luar rumah dekat sumur, dengan kondisi terbuka tanpa ada bedeng untuk penutup. Begitupun, untuk mandi, Nurhadian bersama enam anaknya terpaksa dilakukan dalam dapur dengan mengangkut air dengan ember.

20181027-8b277b3a-de3b-4f75-9699-b7473d700679

Potret kondisi rumah milik Nurhadian sangat tak layak huni. Sebab, dengan kondisi rumah yang hampir roboh dan sempit itu, harus didiami Nurhadian bersama dengan enam anaknya.

Ditemani putri ke 4, Rahmi Zumarni (15) dan putra sulungnya, Rahmul Hakimi (10), Nurhadian mengaku belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah maupun buat baru. Baik dari unsur perangkat Gampong setempat, maupun dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) aceh Besar.

Katanya, walau telah 10 tahun lebih menjadi janda, tak ada pihak yang mendata dirinya untuk mendapatkan bantuan, seperti banyak program dari pemerintah pusat dan daerah.

“Setelah tsunami (bencana dahsyat gempa dan tsunami Aceh 2004) saya pernah tinggal di barak penampunga bersama korban tsunami, dengan harapan mendapat rumah bantuan. Namun, saya tidak pernah mendapatkannya,” tegas wanita paruh baya ini bernada ter isak- isak.

Dengan suara tegar, Nurhadian menceritakan saat –saat ditinggal suami untuk selamanya di tahun 2007 lalu. Sebelumnya, suami Nurhadian telah lama sakit karena mengindap penyakit tumor.

Setelah ditinggal suaminya, Nurhadian mengaku sangat terpukul. Ditambah, kala itu dirinya tidak punya pekerjaan tetap namun harus membesarkan 6 anak-anaknya seorang diri yang masih kecil-kecil.

Tak mau larut dalam kesediah terlalu lama, Nurhadian mengaku bangkit dan mengerjakan semua pekerjaan asal mendapatkan uang secara halal. Bahkan, dia sengaja pergi ke Gampong Lamteba, Kecamatan Seulimun, Aceh Besar membeli ampas padi dan dijual di seputaran kediayamannya tinggal.

“Berkat doa dan usaha, saya berhasil menyokolahkan anak-anak saya semua. Bahkan, anak perempuaan saya yang pertama, Ramaton (25) telah menjadi sarjana, dan adiknya Ramatillah (23) telah selesai kuliah. Namun, belum di wisuda karena butuh biaya Rp. 3 juta yang sampai hari ini belum saya lunasi karena belum punya uang,” ungkapnya.

Karena terus menghabiskan uang untuk biaya sekola anak-anak, maka dia mengaku tak memperdulikan kondisi rumahnya yang kian hari makin menua. Sehingga, sampai saat ini kondisi rumahnya lapuk dimakan usia dan tidak ada MCK.

Biasanya, cerita Nuradian dirinya bersama anak-anak menjadikan kantong plastik sebagai tempat buah air besar, dan dibuang dibelakang rumah dalam semak-semak. Namun, kini semak-semak tersebut telah dibersihkan oleh pemiliknya untuk dijadikan kebun. Sehingga, air besar yang telah dibuang dalam plastik terpaksa di tanam dalam tanah.

“Kalau saya yang sudah tua tidak apa. Tapi, saya punya akan empat lima orang, dan dua orang telah telah gadis, bagaimana mungkin kami terus buang air besar dalam plastik,” ujarnya. Itu sebabnya, dia mengharapkan keibaan semua pihak memberikan bantuan berupa MCK pada keluarganya.

“Rahmi Zumarni, anak saya ini tidak bisa bicara, karena jatuh dulu waktu kecil-kecil. Semantara, anak saya ke tiga Rahmah Khalifah (19) tinggal di pesantren, dan anak saya ke lima Rahmalina (13) masih belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Keuchik Gampong Neuhen, Faizan mengakui jika Nurhadian adalah warganya dan janda anak enam. Dia juga mengakui, Nurhadian merupakan satu warga Neuhen yang masuk katagori paling miskin.

“Begini ya, kalau masalah tidak punya MCK, bukan Buk Nurhadian saja. Masih banyak warga saya yang tidak punya MCK. Maka, kita terus berusaha mencari bantuan, baik pada Pemkab Aceh Besar dan pada Anggota DPRK Aceh Besar melalui aspirasi mereka,” ungkap Faizan pada media ini beberapa waktu lalu.

Faizan membantah pernyataan Nurhadian yang mengaku tidak mendapat bantuan apapun dari aparat desa. Seingatnya, Nurhadian merupakan satu dari banyak warganya yang termasuk Penerima Keluarga Harapan (PKH) dan pernah mendapatkan bantuan santuanan tunai dari Baitul Mal Aceh.

“kalau disegi rumah, saya mengakui belum memberikan pada keluarga Buk Nurhadian. Kita juga memahami, beliau janda dan menjadi tulang punggung keluarga yang harus kita bantu. Tapi, kita aparat desa tidak diam dan terus mencari bantuan,” ungkapnya. 

Faizan menyebutkan, Gampong Neuhen didiami oleh 3208 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk sebanyak 13.000 jiwa. Dengan manyoritas warga sebagai petani dan nelayan, penduduk paling miskin di Gampong Neuhen mencapai 40 persen, dan kurang mampu mencapai 30 persen serta katagori mampu mencapai 30 persen.

Anggota DPRK Aceh Besar, Zamzami MT Memberikan Bantuan MCK

Mananggapi permintaan Nurhadian, Anggota DPRK Aceh Besar diri Fraksi Partai NasDem, Zamzami, MT langsung memberikan bantuan berupa pembangunan MCK. Pada media ini, dia mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami oleh Nurhadian.

“Hari ini, saya sudah perintahkan orang untuk membawa material. Langsung kita suruh tukang untuk membuat MCK, dan saya harapkan MCK ini bermanfaat bagi Ibu Nurhadian dan keluarga,” harapnya.

Zamzami mengaku, bantuan tersebut bukanlah aspirasi dirinya, melainkan bersumber dari dana pribadi keluarga. Dia juga memastikan tidak ada unsur politis dari bantuan tersebut, hanya saja bantuan ini hanya wujud dari empati yang diberikan pada Bu Nurhadian yang telah puluhan tahun buang air besar dalam plastik.

“Nanti, setelah selesai dibangun MCK, akan ganti tiplek yang dijadikan dinding-dinding rumah dan dapur yang telah lapuk. Ini murni sumbangan sosial saya, untuk apa kita berpolitik dalam membantu anak yatim. Apalagi, saya di Gampong Neuhen tidak ada satupun suara dalam Pileg 2014,”ujarnya.

Zamzami juga mengaku terkejut dengan pengakuan yang disampaikan Geuchik setempat, jika banyak warga disana belum memiliki MCK dan terdapat 30 persen warga paling miskin. Sebab, dirinya tidak pernah mendapat laporan tentang kondisi tersebut. Itu sebabnya, jika pun dirinya memberikan bantuan hanya diprioritaskan untuk pembangunan masjid dan menasah di Gampong neuhen.

“Mungkin, mereka malu tidak melapor pada saya, karena disini (Gampong Neuhen) saya tidak punya suara. Maka, saya pun memberikan bantuan untuk kepentingan umum di Gampong Neuhen, tidak bersifat pribadi, karena itu tadi saya tidak tahu. Tapi, saya sudah bertekat untuk memprioritaskan bantuan untuk masyarakat Neuhen. Karena Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten- Perubahan (APBK-P) Aceh Besar telah disahkan. Maka, di APBK 2019, saya akan masukkan aspirasi untuk warga paling miskin, terutama yang belum punya MCK. Dan, sekarang saya sudah suruh staf saya untuk mendata,” janji Zamzami.***

 

Komentar

Loading...