Pasien Terpaksa Dirujuk ke Banda Aceh

Nelangsa Warga Pulau Aceh, Siapa Peduli?

Nelangsa Warga Pulau Aceh, Siapa Peduli?
Hasil tangkap layar video (screenshot) seorang pesien dari Pulau Aceh diangkut naik boat nelayan menuju Kota Banda Aceh.
Rubrik

MODUSACEH.CO I Kapal motor (bot) itu terlihat dipacu dengan kecepatan tinggi. Di dalamnya tampak beberapa orang, salah satunya seorang pria dengan tangan terpasang infus serta hidungnya dibantu alat pernafasan.

Dari rekaman video yang beredar dan viral itu diketahui, seorang warga Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Dia bernama Zainal Abidin (56) warga Leoh, Pulau Aceh. Kabarnya, nelayan ini mengalami sakit jantung.

Ya, dia sedang diboyong ke Kota Banda Aceh untuk mendapat perawatan medis. Kondisinya boleh disebut; sangat memprihatinkan!

Selain itu, terlihat seorang petugas kesehatan sibuk melayani pasien sepertinya dalam “keadaan darurat”. Dia memeriksa pesien yang didampingi satu orang wanita, seorang laki-laki dan anak kecil. Diduga keluarga pasien.

Dari bagian belakang bot, seorang pria dengan lihai memainkan tangan kirinya, mengendalikan bot dengan tujuan Kota Banda Aceh, Jumat, 26 Maret 2021 kemarin.

Nah, itulah potret nelangsa (kesedihan) jika tak elok disebut; elegi warga Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Ironisnya, derita itu terus terjadi namun nyaris tak ada yang peduli.

Jika pun ada, hanya janji-janji (manis) para politisi saat akan melampias “birahi” politiknya saban lima tahun sekali. Baik untuk Pilkada maupun Pileg.

Lihat saja, sebelumnya seorang perempuan warga Desa Seurapong, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar, usai melahirkan terpaksa harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.  Zainoel Abidin (RSUDZA), untuk mendapatkan penanganan medis.

Perjuangan Darmayanti tersebut terekam dalam satu rekaman video yang kemudian menjadi viral di media sosial.

Rekaman itu menjadi potret betapa warga di Pulo Aceh harus berjuang, menyeberang laut dengan sarana seadanya, demi mendapatkan pertolongan medis, bertarung maut.

Kepala Puskesmas Pulo Aceh, Misriadi saat itu menuturkan, awalnya Darmayanti melahirkan pada bidan Puskesmas Pulo Aceh.

Karena retensi plasenta atau ari-arinya masih tertahan dalam rahim sehingga terpaksa harus dirujuk ke RSUDZA di Banda Aceh.

“Bayinya dalam kondisi bayi sehat. Tetapi ari-arinya masih tertahan, Darmayanti didampingi dua orang bidan saat dirujuk ke Banda Aceh,” kata Misriadi, Kamis dua pekan lalu di Banda Aceh.

Satu pengakuan miris Misriadi yang patut dicatat adalah. “Sampai saat di Pulo Aceh belum ada fasilitas ambulans laut, sehingga membawa pasien harus dengan kapal nelayan dan menghabiskan waktu 1,5 jam waktu perjalanan,” sebut dia.

Tapi apa lacur,  itulah moda alat transportasi satu-satunya warga di sana. Jika pun, hanya janji-janji manis dari penguasa.

“Selama ini ketika ada pasien yang harus dirujuk, ya tetap dibawa dengan kapal nelayan. Bahkan, kalau ada warga Pulo Aceh yang meninggal di Banda Aceh, masyarakat membawa pulang jenazahnya harus sewa bot dengan biaya sekitar Rp 3 juta,” ujarnya.

Sampai kapan nelangsa dan elegi itu akan berakhir?

Entah itu sebabnya, berbagai reaksi muncul dari warga daratan (Banda Aceh). Salah satunya, Ahmad Mirza Safwandy, seorang akademisi Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Melalui akun media sosial facebook, Mirza begitu Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Jurnalis Aceh (FJA) ini akrab disapa, menulis komentarnya; mending Pulo Aceh jadi kabupaten baru atau gabung dengan Banda Aceh dan Sabang saja. Karena Aceh Besar sedang dalam puncak kegagalan!

Kritik serupa juga muncul pada akun facebook Muhammad Akbar. Selain itu, juga terpapar pada dinging akun facebook Aceh Dalam Politik.

Lantas, apa kata Bupati Aceh Besar Mawardi Ali? Hingga kini memang sulit dihubungi media ini. Begitupun, melalui Kabag Humas dan Protokol Setdakab Aceh Besar, Muhajir, kembali janji manis diumbar.

Seperti disampaikan kepada laman detik.com. Katanya, Pemerintah Aceh Besar telah mengalokasikan dana untuk membeli kapal ambulans laut bagi masyarakat di Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar. Pembelian kapal ini menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) 2021.

Katanya, tahun ini sudah dianggarkan dari dana APBK dan sedang dalam proses lelang. “Untuk pengadaan ambulans laut akan dilaksanakan tahun ini. Akan segera ditenderkan melalui Unit Layanan Pengadaan (ULP),” ujar Muhajir.***

Komentar

Loading...