Dibalik Meninggalnya Warga Sinabang

Negatif di RS Simeulue, Positif di RSUDZA Banda Aceh

Negatif di RS Simeulue, Positif di RSUDZA Banda Aceh

Simeulue | PA (19), warga Kecamatan Simeulue Tengah, Kabupaten Simeulue diduga meninggal dunia positif terinfeksi virus Covid-19.

Kabarnya, PA meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin (RSUDZA) akibat penyakit gondok yang telah lama dia derita.

Namun beredar informasi kalau PA yang sempat di rawat di rumah sakit terbesar di Aceh itu, hasil test swab karena terinfeksi virus yang diduga berasal dari negeri tirai bambu itu.

Anehnya, meski hasil swab positif Corona. Penanganan jenazah korban tidak dilakukan sesuai protokol kesehatan Covid-19. Bahkan, pelaksanaan fardhu khifayah PA yang dilakukan masyarakat desa setempat secara biasa saja.

Selain itu, kegiatan kenduri di rumah duka juga tetap dilaksanakan, sesuai adat dan kebiasaan masyarakat di daerah itu.

Lantas, mengapa meninggalnya PA tadi dibiarkan begitu saja, tanpa adanya penanganan standar protokol kesehatan pada orang yang terinfeksi pandemi?

Bukankah virus itu dapat menyebar dengan cepat pada orang lain apabila tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Nah, siapakah yang harus bertanggung jawab apabila seluruh orang yang telah berinteraksi dengan korban juga telah papar virus ini?

Sementara pihak keluarga PA mengatakan, dia murni meninggal dunia karena penyakit dideritanya. Itu sebabnya, mereka tidak menerima kalau PA dinyatakan positif corona.

"Sebagai abang kandung PA, saya  membantah keras kalau adik kandung saya meninggal karena Covid 19, karena sudah dirapit tes di RS Simeulue sebelum dirujuk dan hasilnya non reaktif. Ditambah lagi di RS Zainal Abidin, dua kali rapit tes dan hasilnya juga non reaktif. Jadi, sangat tidak masuk akal adik kandung saya meninggal karena Covid. Almarhum tidak ada riwayat perjalan dari luar daerah," tulis SD, abang PA di salah satu group WahatApp (WA) di Simeulue.

Untuk itu SD berharap, karena keluarga PA masih dalam keadaan berduka. Maka dia meminta agar masyarakat tidak terlalu membesarkan permasalahan ini karena mereka saja belum menerima surat hasil swab tadi.

Sementara itu, Juru Bicara Satuan Tugas Covid-19 Simeulue, Ali Muhayatsah, SH mengatakan. Terkait pasien asal Simeulue atas nama PA yang meninggal dunia, 30 Juli 2020 lalu di Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh.

Awalnya dirawat di RS Simeulue akibat penyakit gondok yang dideritanya. Namun karena kondisi kesehatannya semakin memburuk, PA di rujuk ke RSUDZA Banda Aceh. Sebelum berangkat PA telah di rapid test dua kali dengan hasil negatif.

"Sebelum berangkat PA terlebih dulu telah di rapid test sebanyak dua kali dengan hasil negatif Covid-19," ungkap Ali Muhayatsah.

Menurut Ali Muhayatsah, berdasarkan keterangan saudara kandung PA selama di rawat di RSUDZA Banda Aceh, memang tidak ada pemberitahuan kepada pihak keluarga kalau adiknya sedang diambil sampel swab.

Hingga, tanggal 30 Juli 2020, sekira pukul 24.30 WIB, PA meninggal dunia. Selanjutnya, pada pukul 02.00 WIB, PA diberangkatkan dari RSUDZA dengan ambulance menuju Labuhan Haji untuk diseberangkan dengan KMP Teluk Sinabang menuju Simeulue.

Masih menurut Ali Muhayatsah. Tanggal 31 Juli 2020 sekira pukul 15.00 WIB. Kadis Kesehatan Aceh dr Hanif, melalui temu pers menyampaikan. Berdasarkan hasil swab dari Balitbangkes Aceh, ada satu orang warga Simeulue berinisial PA dinyatakan positif Covid-19.

"Mendengar kabar itu Direktur RSUD Simeulue drg. Farhan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Aceh. Hasilnya, ternyata yang dimaksud nama tadi adalah PA, yakni pasien rujukan dari RS Simeulue yang telah di kebumikan di desanya," jelas Ali Muhayatsah.

Lebih lanjut, baru 1 Agustus 2020, pukul 14.27 WIB, surat resmi hasil swab PA diterima Dirut RSUD Simeulue dengan Nomor: PM.03.01/3/7/19/2020. Isinya menyebutkan, hasil pemeriksaan Covid-19, PA terkontaminasi (terpapar) Covid-19 saat di rawat di RSUDZA Banda Aceh, bukan di Simeulue.

"Atas kejadian itu, Satgas covid-19 Simeulue membuat surat kepada Gubernur Aceh cq Dinas Kesehatan Aceh terkait kelalaian dan keterlambatan informasi yang di terima Pemerintah Kabupaten Simeulue. Lalu, Tim Satgas segera melakukan penegasan kembali terkait regulasi dalam penanganan dan pencegahan penyebaran virus yang telah banyak memakan korban itu," tegas Ali Muhayatsah.

Dijelaskan Ali Muhayatsah, setelah kejadian tadi, Tim Satgas Simeulue segera melakukan rapid test massal di kampung korban dan di RS Simeulue. Semua yang berinteraksi dengan PA di tes kesehatannya.

"Hasil rapitd test yg dilakukan terhadap keluarga AP dan masyarakat yang melakukan kontak langsung. Ada 63 orang dinyatakan non reaktif atau negatif corona, sedangkan tiga belas Anak Buah Kapal (ABK) Fery yang di rapid test di RS Simeulue juga negatif corona," jelas Ali Muhayatsah.***

Komentar

Loading...