Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Nasib Penderes Karet

Ketika Harga tak Seimbang Kebutuhan Harian

Ketika Harga tak Seimbang Kebutuhan Harian
Foto: Juli Saidi/MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Meulaboh | Sudah lama pensiun, kini Fatimah (60) sejak awal 2021 mulai menderes getah karet di kebun miliknya, Desa Ujong Tanoh Darat, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat.

Sabtu pagi, 20 Febreuai 2021. Janda empat anak ini menceritakan ihwal kegiatan deres getah karet yang dia kerjakan bersama anaknya.

Dari kebun miliknya itu, harga satu kilogram getah karet dia terima Rp8 ribu. Fatimah hanya bisa menghasilkan sekitar Rp240 ribu per bulan. "Ini baru mulai lagi menderes," ujar perempuan itu dalam Bahasa Aceh, Sabtu.

Hitungan penghasilan Rp240 ribu per bulan ini diraih Fatimah dalam 15 hari dan dia mampu memanen getah karetnya 15 kilogram.

Belum lagi getah karet akan berkurang jika daunnya mulai gugur. "Getahnya kurang karena daunya tidak ada. Kalau daunnya lebat maka dalam 15 hari bisa dapat 50 kilo," jelas Fatimah.

Itu sebabnya, jika dihitung berdasarkan kebutuhan sehari-hari, antara lelah yang ia rasakan dengan penghasilan yang dia raih tentu saja tak seimbang.

Fatimah mencontohkan, harga beras untuk satu sak Rp150 ribu. Bila dibandingkan dengan harga karet yang ia jual Rp8 ribu per kilo, maka dia kekurangan Rp20 ribu.

Tetapi Fatimah masih tetap bersyukur. Sebab sejak tahun 2019 getah karet tidak laku. Sedangkan deres karet yang ia kerjakan karena tak ada pilihan lain.

Jika tahun-tahun sebelumnya Fatimah bisa mendapat penghasilan dari menjual kayu bakar, kini tidak ada lagi.

"Sekarang kayu bakar tidak laku lagi," jelas Fatimah menceritakan kondisi kerja masyarakat kalangan bawah tersebut.

Jika ingin kerja potong padi di sawah orang, sebut Fatimah, padi sudah dipanen pakai mesin.

Abdullah asal Kabupaten Aceh Timur warga desa setempat, juga mengaku harga karet tidak sesuai harapan masyarakat.

Menurutnya, tahun 2018 lalu harga karet sekitar Rp7 ribu per kilog. Alasan harga itu pula, ia mengaku menggunakan lahan milik mertuannya untuk bangun rumah.

"Kalau harga karet bagus tentu kita upayakan tanah lain untuk bangun rumah," kata Abdullah, Sabtu (20/2/2021).

Sementara itu, berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh. Angka kemiskinan Aceh tak kunjung baik, yang terjadi justru sebaliknya, yaitu tinggi.

BPS menyebut, September 2020, jumlah penduduk miskin di Aceh sebanyak 833,91 ribu orang atau 15,43 persen, bertambah sebanyak 19 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2020 yang jumlahnya 814,91 ribu orang atau 14,99 persen. 

Selama periode Maret 2020–September 2020, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan dan perkotaan mengalami kenaikan. 

Di perkotaan, persentase penduduk miskin naik sebesar 0,47 poin dari 9,84 persen menjadi 10,31 persen, sedangkan di daerah perdesaan naik 0,50 poin dari 17,46 persen menjadi 17,96 persen.  ***

Komentar

Loading...