Hidup di Gunung dan Seadanya

Nasib Miris Keluarga Mustafa Warga Desa Alue Meuganda

Nasib Miris Keluarga Mustafa Warga Desa Alue Meuganda

Sebelum tinggal di pegunungan, dahulu keluarga kecil itu menempati rumah bekas kantor transmigrasi yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempatnya saat ini. Kondisinya sudah lapuk di makan usia, membuat Mustafa dan Istrinya harus angkat kaki dan mencari rumah baru.

Meulaboh | Sudah tiga tahun lamanya Mustafa (60) dan Kartini (45) tinggal di gubuk 4 kali 3 meter. Tak ada peralatan elektronik di rumah ini. Maklum, jangankan untuk membeli barang, makan saja pas pasan, belum lagi kebutuhan gizi untuk anaknya Santi yang masih berumur 4 tahun.

Perjalanan hidup Mustafa serta Kartini memang tak seindah penduduk desa yang lain. Meski pembangunan saat ini begitu digencarkan pemerintah melalui Alokasi Dana Desa, masih saja ada warga yang tak bisa menikmati hidup layak.

Raut wajah Mustafa pria asal Desa Alue Meganda, Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat sedikit ceria, saat kedatangan MODUSACEH.CO bersama sejumlah awak media dan Ketua KNPI Aceh Barat, Muhammadi.

Sudah lama tidak ada tamu yang datang menyambangi keluargannya yang tinggal di pegunungan jauh dari keramaian.

“Ya beginilah kondisi kami, jauh dari penduduk lain, kami tinggal di tanah orang saat ini yang masih berbaik hati, meskipun jauh dari keramaian tanpa listrik tetap sabar, asalkan tidak tiris saat hujan saja sudah cukup. Kondisi rumah memang sangat sempit  tapi ya,,, cukup cukupkanlah,” kata Mustafa saat bercerita kepada wartawan.

Sebelum tinggal di pegunungan, dahulu keluarga kecil itu menempati rumah bekas kantor transmigrasi yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempatnya sekarang.

Namun, dekat dengan pusat permukiman warga yang lain. Hanya saja saat ini kondisi bekas kantor itu sudah lapuk dan membahayakan mereka jika masih disinggahi. Hal itulah membuat Mustafa dan istri angkat kaki dan pindah.

Niat mereka untuk memperbaiki ada, namun pupus karena tak punya uang untuk membenahi plafon yang sudah lapuk dan lantai yang sudah keropos.

Tidak tahu tinggal dimana, mustafa kemudian meminta kepada warga yang ia kenal untuk dipinjami tanah membangun rumah. Di sanalah bermula ia dan istri beserta anaknya mulai tinggal di atas gunung menjauh dari keramaian.

Selama ini pihak desa hanya bisa membantu beberapa lembar seng untuk meringankan bebannya.

Dari pusat desa, letak rumah Mustafa berjarak sekitar 4 kilometer. Jalan bebatuan dan tanjakan harus dilewati jika menuju ke sana. Belum lagi dinding gunung mulai rawan longsor, apalagi di musim penghujan.

Sebelum sampai ke SMPN 3 Woyla Timur, ada lorong di sebelah kanan menuju ke arah pegunungan yang menjadi tempat Mustafa dan istrinya tinggal.

Gubuk berkontruksi kayu itu juga tidak ada aliran listrik. Saat malam hari hanya lampu teplok yang menjadi sumber penerangan. Ruang tamu sekaligus menjadi tempat tidur, dapurnya hanya selebar 30 sentimeter.

Tak ada lemari dan barang antik, apalagi baju megah, mereka tak punya sama sekali. Selama ini Mustafa hanya bekerja sebagai penerima upah harian, jika ada yang membutuhkan tenaganya.

“Biasanya dipanggil untuk potong sawit, ambil getah, mengurus kebun sebentar, itulah pekerja yang bisa saya kerjakan di sini. Kalau tidak ada yang membutuhkan, saya habiskan waktu di kebun untuk menanam cabai dan mengurus batang pisang,” ujarnya.

Ia bercerita, selama menjadi warga Desa Alue Meuganda, kehidupannya memang tak kunjung berubah. Maklum saja, tidak ada harta yang dia punya. Pekerjaan yang dilakoninya pun hanyalah sebagai pekerja lepas.

Saat ini pun hanya bisa menanam produk pertaian di kebun pinjaman milik warga lain. Sehingga, mengharap belas kasihan orang lain untuk bisa bertahan hidup.

Kondisinya memang sangat susah, tak ada banyak bantuan yang dia terima. Namun, mereka tak pernah mengeluh dengan kondisi tersebut dan tetap tabah menjalani kehidupan.

Dalam waktu seminggu, Mustafa sering mengambil jadwal hari Jumat untuk turun ke permukiman dan pusat desa, dengan berjalan kaki sekitar 3 kilometer dari rumah. Tujuannya untuk menjual beberapa tandan buah pisang yang dipetik di kebun pinjamannya agar bisa membeli beras dan bahan makanan.

“Seminggu sekali turun ke bawah untuk beli beras dan persediaan bahan makanan di rumah, sebelum membeli saya jual pisang dulu dan jualan apa yang bisa dipetik di kebun biar bisa beli bahan makanan untuk anak dan istri,” ungkap Mustafa.

Mustafa berharap, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat bisa membantu dan memerhatikan keluarganya. Setidaknya ada tempat tinggal yang bisa mereka tempati.

“Tidak ada yang lain kami minta, hanya rumah layak huni saja, yang bisa kami tempati, dekat dengan permukiman dan bisa berbaur dengan orang lain,” tutur Mustafa. Semoga harapan Mustafa sampai ke Bupati Aceh Barat, Ramli MS.***

Komentar

Loading...