Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Jejak TKA China di PLTU Nagan Raya (bagian dua)

Nasib Investasi Negeri Tirai Bambu Berakhir Semu?

Nasib Investasi Negeri Tirai Bambu Berakhir Semu?
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengajak pelaku usaha di Aceh untuk memanfaatkan perubahan kebijakan impor yang kini diterapkan oleh Pemerintah China dengan meningkatkan kualitas produk yang layak ekspor untuk pasar global. Itu disampaikan dalam Forum Export - Import Indonesia dan China pada acara China International Import Expo 2018 (CIIE) di Shanghai, China, Selasa, 6/112018.(Foto: Ist)
Rubrik

Tahun 2014 silam, Pemerintah Aceh menjalin kemitraan investasi sektor pertambangan, minyak dan gas dengan sejumlah jaringan bisnis global dari China. Sedikitnya, Rp400 triliun akan diinvestasikan di Aceh. Hasilnya?

MODUSACEH.CO I Hari itu, Senin, 4 Agustus 2014. Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Hukum dan Kerjasama Internasional, Dr Adli Abdullah mengatakan. Konsep kemitraan tahap awal yang digagas dan diluncurkan, salah satunya pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan alih teknologi antara pelaku usaha lokal di Aceh dengan pihak China .

Kerjasama tahap awal ini diharapkan pada  pengembangkan proyek-proyek infrastruktur secara simultan. Termasuk tahap penyediaan lahan, eksplorasi, dan ketersediaan tenaga kerja.

Saat itu, Adli Abdullah sesumbar. Katanya, ada sekitar 60 orang usahawan China bertemu Gubenur Aceh, dr Zaini Abdullah dan jajaran pejabat kunci di Pemda Aceh.

Pertemuan ini membahas tiga bidang strategis terkait investasi sektor minyak dan gas (migas), dengan nilai investasi mencapai Rp 400 Triliun.

Delegasi China dijadwalkan segera membangun kawasan industri modern terpadu setelah pemerintah menyediakan lahan seluas 500 hektar. Mereka tergabung dalam satu grup bisnis berjaringan global Apex Development (S) PTE LTD. Hasilnya?

Bergerak lurus, Jumat, 29 September 2017. Perusahaan China Huadian Hong Kong Co, Ltd meneken dokumen kerja sama dengan Pemerintah Aceh. Kerja sama ini dalam rangka investasi di bidang energi terbarukan yang akan dikerjakan di Tanah Rencong.

Prosesi tandatangan ini dilakukan perusahaan China Huadian Hong Kong Co, Ltd bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh.

Ketika itu, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf sebagai saksi dan ikut menandatangani rencana investasi di Aceh yang difokuskan pada tenaga Hydro.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Aceh saat itu Mulyadi Nurdin mengaku. Perusahaan China Huadian Hong Kong Co, Ltd, telah berhasil menginvestasikan dan membangun Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Asahan No 1, Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara Lafarge Lhoknga, Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batam, Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Bali di Indonesia.

Selain itu, lanjut Mulyadi Nurdin, CHD merupakan perusahaan yang saat ini berinvestasi di sejumlah Negara seperti Rusia, AS, Peru dan Bangladesh.

"Sebagai platform investasi internasional yang dimiliki sepenuhnya oleh China Huadian Hong Kong Co, Ltd. Mereka memiliki keahlian dalam pembiayaan pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga batubara, pembangkit listrik tenaga air, pembangkit tenaga angin dan matahari, dan sangat ingin memperluas usahanya di Indonesia," kata Mulyadi dalam keterangan tertulis kepada media pers, Jumat, 29 September 2017.

Proses tandatangan kerjasama ini dilakukan di Jakarta pada Rabu (27/9) lalu. Menurut Mulyadi, MoU tersebut bertujuan untuk mengembangkan kapasitas listrik di Aceh sekitar 2.000 MW dengan total investasi sekitar 5 milyar US$.

"Namun Jika ada kebutuhan yang lebih tinggi di Aceh, nilai investasi ini dapat ditingkatkan, karena MoU ini sifatnya umum," jelas Mulyadi seperti mengutip pernyataan Gubernur Irwandi.

Kata Mulyadi China Huadian Corporation merupakan satu dari lima produsen listrik nasional di China, yang sepenuhnya dimiliki negara dan diatur Komisi Pengawasan Aset dan Administrasi Negara Dewan Negara China. "Dengan kapasitas operasi di seluruh dunia sebesar 143 GW dan total pendapatan 27 miliar Dolar AS, CHD berada di peringkat 331 di Fortune 500 pada 2016," ungkap Mulyadi, bangga. Lagi-lagi, faktanya?

Tak hanya itu, PT Samana Citra Agung juga menandatangani kerja sama atau MoU dengan Jiangsu Pengfei (Group China) untuk pembangunan pabrik semen di Kecamatan Muara Tiga dan Batee, Kabupaten Pidie.

Penandatanganan kerja sama itu disaksikan langsung Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Rabu (7/11/2018) di China. Nova Iriansyah mengaku, MoU antara PT. Samana Citra Agung dengan Jiangsu Pengfei, bukanlah dalam bentuk investasi, melainkan hanya kontrak pembangunan pabriknya.

"Di Cina itu MoU untuk kontrak pembangunan pabriknya, bukan investasinsya," kata Nova Iriansyah kepada wartawan usai menghadiri Seminar Anti Korupsi di Poltekkes Kemenkes Aceh, Kamis (15/11/2018) di Banda Aceh.

Nova menegaskan, kontrak investasi pembangunan pabrik semen di Laweung sejauh ini masih dengan Semen Indonesia. Dan, Jiangsu Pengfei hanya perusahaan kontraktor. "Kalau investasi ngak mungkinkan, kontraknya sudah sama Semen Indonesia, mana bisa tiba-tiba kontrak dibatalkan sepihak," ujarnya.

Kata Nova, dengan adanya kontraktor seperti ini maka setelah selesai dengan Semen Indonesia, sudah ada perusahaan yang siap membangun pabrik ini tanpa harus ada biaya terlebih dahulu. "Dia bangun terus, selesai baru dibayar," tuturnya.

Menurut Nova, perusahaan itu merupakan kontraktor yang memiliki kualitas bagus, dan bisa saja nantinya setelah semua proses disini selesai, kontrak pembangunan itu sudah siap masuk. "Yang saya tahu begitu, sehingga saya mendukung, kalau nanti itu kan enggak ada masalah sebenarnya dengan Semen Indonesia," tegas Nova Iriansyah. Hasilnya?

Tapi, lupakan semua “janji manis” investasi dari negeri tirai bambu tersebut. Liriklah sejenak berbagai kerjasama pertambangan dan praktik tambang ilegal di Aceh.

Sedikitnya, ada 18 perusahaan tambang, baik milik perusahaan lokal (Aceh) maupun nasional, yang telah dicabut izinnya oleh para bupati dan walikota di Aceh.

20200906-data-tambang

Selidik punya selidik, berbagai berbagai perusahaan tambang “modal dengkul” itu, tetap saja “menjual” izin tambangnya atau bermitra dengan perusahaan asal China

Tahun 2016 misalnya, riset data yang dilakukan media ini dari berbagai sumber mengungkap. Berbagai praktik ilegal tambang emas terjadi di Aceh. Misal, Kabupaten Aceh Barat, persis di Kecamatan Pante Ceureumen, Kecamatan Panton Reu, Kecamatan Sungai Mas dan Kecamatan Woyla Timur.

Diperkirakan saat itu, emas yang diproduksi per bulan di Aceh Barat mencapai 89.262,9 gram. Jika dikalkulasikan setahun mencapai 1.071.154,5 gram atau 1,1 ton. Jika setiap gram emas dijual seharga Rp400.000, setahun kerugian negara mencapai Rp568.361.004.627. Tentu, ini hanya prediksi kerugian di Aceh Barat saja, belum kawasan lain seperti Geumpang, Kabupaten Pidie.

Kenapa bisa terjadi? Diduga, melibatkan banyak pihak. Begitu juga kondisi yang sama di Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya. Antara 2015 dan 2016, pertambangan ilegal bermunculan di sejumlah sungai yang terdapat di wilayah tersebut.

Selain itu, pertambangan emas ilegal juga terlihat di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Jaya, Pidie, Gayo Lues, Aceh Tengah dan Aceh Tenggara.***

Komentar

Loading...