Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Nafsu, Amarah dan Kekuasaan

Nafsu, Amarah dan Kekuasaan
google.com
Rubrik
Sumber
dari berbagai sumber

MODUSACEH.CO | Kata nafsu berasal dari Bahasa Arab yaitu; nun, fa’ dan sin. Karena itu, kata nafsu dalam kosa kata bahasa Arab digolongkan dalam isim. Nafsu berarti jiwa atau ruh manusia. Artinya, kata yang menunjukkan benda, hewan, tumbuhan, manusia atau segala sesuatu yang menyerupai. Dengan demikian, nafsu dalam bahasa Arab dianggap berwujud, ada seperti hewan, tumbuhan, manusia.

Dalam kamus bahasa Indonesia, nafsu berarti: keinginan, kecendrungan, dorongan jiwa yang kuat untuk melakukan perbuatan, apakah yang baik maupun buruk. Misal, ikan bawal yang disajikan Badu membangkitkan nafsu makan Budi. Ini berarti, ketika Badu menyajikan ikan bawal yang digorengnya kepada Budi, maka dalam jiwa Budi muncul dorongan agar ia segera melakukan tindakan atau memakan ikan bawal yang disajikan Badu. Dorongan agar segera memakan ikan bawal yang disajikan Badu inilah yang disebut dengan nafsu.

Menurut M. Quraish Shihab, nafsu adalah dorongan yang menarik manusia ke bumi/tarikan bumi. Sebab, manusia memiliki dua tarikan yang saling berlawanan, yaitu: langit dan tarikan bumi. Tarikan langit adalah malaikat, sementara  tarikan bumi adalah binatang atau juga kerendahan. Tarikan langit dan tarikan bumi ini mengisyaratkan jika manusia menuruti tarikan langit, maka ia telah menyucikan jiwanya. Sebaliknya, jika manusia menuruti tarikan bumi, maka ia telah mengotori jiwanya. Dengan demikian, kata M. Quraish Shihab, manusia dapat mencapai posisi lebih tinggi daripada malaikat dan juga dapat lebih rendah daripada binatang.

Dari tiga pengertian di atas dapatlah ditarik kesimpulan. Nafsu, adalah bagian dari jiwa yang mendorong kita untuk melakukan suatu tindakan baik atau yang menyebabkan kita menjadi sukses maupun tindakan yang menyebabkan kita menjadi orang yang gagal.

Setiap dari kita pasti sibuk melakukan sesuatu, belajar, bekerja, beternak ayam atau juga sibuk melamun. Semua kesibukan yang kita lakukan itu, karena dorongan nafsu. Karena nafsulah kita melakukan sesuatu.

Dalam berbagai literatur, juga ditemukan tentang pengertian atau makna dari “nafsu amarah”, yang sering dianggap atau dipahami sebagai  martabat nafsu paling rendah dan kotor di sisi Allah SWT.

Segala  yang ditimbulkan darinya adalah tindakan kejahatan yang penuh dengan perlakuan mazmumah (kejahatan/keburukan). Pada tahap ini, hati  nurani diyakininya tidak akan mampu untuk memancarkan sinarnya,  karena hijab-hijab dosa yang melekat tebal, lapisan lampu makrifat benar-benar terkunci. Dan, tidak ada usaha untuk mencari jalan mensucikannya. Karena itulah, hati terus kotor dan diselaputi oleh pelbagai penyakit. Itu sebabnya, kata nafsu dan amarah dalam bahasa  Arab tidak sama artinya dengan kata ‘nafsu’ dan kata ‘amarah’ dalam bahasa Indonesia.

Kata  ‘nafsu’ artinya jiwa. Kata ‘amarah’ bermakna memerintah atau menyuruh  untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan  dalam bahasa Indonesia, kata ‘nafsu’ artinya   keinginan atau dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang kurang baik. Kata ‘amarah’ berarti  mengeluarkan kata-kata untuk menunjukan perasaan yang tidak suka atau sangat tidak senang. Karena itu pilihan kata sangat penting diperhatikan, karena   kata atau istilah berfungsi untuk mempenjelas makna.

Lantas, bagaimana dengan nafsu kekuasaan?  “Negeri akhirat itu Kami berikan kepada mereka yang tidak menghendaki ketinggian dan membuat kerusakan di muka bumi“ ( QS. Al Qashas: 83 ). Dalam Islam, kepemimpinan dan kekuasaan adalah sebuah amanah yang harus dipertangungjawabkan kepada manusia maupun kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadis dijelaskan: “Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin, apakah telah menjalankan tugas dan tanggungjawab kepemimpinannya atau mensia-siakan tugas tersebut “ (Riwayat Ibnu Hibban).

Suatu amanah dapat dijalankan dengan baik, jika si penerima amanah mendapatkannya dengan penuh kesadaran tugas dan tanggungjawab. Nabi Muhammad SAW pernah berpesan kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, engkau adalah pribadi yang lemah, sedangkan kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan itu akan menjadi penyesalan dan kehinaan di hari akhirat, kecuali mereka yang dapat menjalankannya dengan baik“ (riwayat Muslim).

Abu Dzar adalah sahabat yang sangat rajin beribadah, tetapi Nabi tidak memberikan apapun jabatan kepemimpinan kepadanya, sebab seorang pemimpin harus mempunyai keberanian dalam kepemimpinan sedangkan Abu Dzar walaupun rajin beribadah, tetapi lemah dalam sifat-sifat yang diperlukan bagi seorang pemimpin seperti keberanian, dan lain sebagainya. Seorang pemimpin mempunyai syarat yang lebih dari seorang pekerja, pegawai, dan orang biasa.

Begitupun, selain syarat keberanian dan keilmuan, kepakaran dan manajemen juga dibutuhkan, maka ada syarat lain yang juga penting dimiliki seorang pemimpin yaitu; tidak mudah terpengaruh hawa nafsu, baik dunia, kekayaan, kekuasaan dan lain sebagainya. Sebab jika seseorang mempunyai syarat kepemimpinan dzahir seperti keilmuan, keberanian tetapi tidak mempunyai syarat batin, maka kepemimpinan tersebut akan dipakai untuk mencari nafsu serakah; kekayaan ataupun kekuasaan. Karena itu sejak dini, Rasulullah mengantisipasi umatnya jangan sampai memilih pemimpin yang sejak awal sudah menunjukkan nafsu kekuasaan dalam dirinya.

Maklum, pemimpin yang dapat menjalankan tugas dengan baik, adalah pemimpin yang mengambil kepemimpinan dengan penuh kesadaran, dan tanggungjawab, bukan mereka yang mendapatkannya dengan nafsu dan emosi.

Rasulullah pernah bersabda kepada sahabat Abdurahman bin Samrah: “Wahai Abdurahman bin Samrah, janganlah engkau meminta kekuasaan, sebab jika engkau diberikan tanpa meminta, maka engkau akan ditolong (Allah) dalam menjalankannya, tetapi jika engkau meminta kekuasaan tersebut (dengan nafsu), maka engkau telah menjadi wakil (hawa nafsu). Hadis diriwayatkan oleh Bukahri dan Muslim.

Hadist lain juga menguatkan hal ini: “Barangsiapa yang meminta kekuasaan, maka dia telah menjadi wakil atas hawa nafsunya, dan barangsiapa yang diberikan kepadanya kekuasaan (tanpa meminta) maka malaikat akan turun kepadanya untuk menolongnya dalam kepemimpinannya“ (Hadis riwayat Abu Daud, Tirmidzi).

Jika seseorang telah memiliki nafsu kekuasaan dalam dirinya, maka nafsu itu bukan saja akan merusak pribadinya, tetapi juga akan meningkat menjadi nafsu yang lebih berbahaya yaitu, menjerumuskan rakyatnya kepada nafsu liberalisme, militerisme, permisisivisme (serba boleh), dan lain sebagainya.

Imam al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan. Nafsu kekuasaan itu ada beberapa tingkat yaitu: hubbul istiela (nafsu ingin menaklukkan), hubbul isti’la (nafsu ingin ingin menundukkan orang lain), takhsis ( nafsu meminta hak pregroratif), dan hubbul isti’bad ( nafsu memegang seluruh kekuasaan ditangannya, otoriter).

Hubbul Istiela adalah nafsu ingin memiliki kebesaran, kehebatan baik dengan ilmu pengetahuan,  kekuatan materi, dan penaklukan hati manusia. Dalam mengaplikasi nafsu ini, seorang pemimpin akan menunjukkan kehebatannya dalam ilmu pengetahuan, pengauasaan alam, darat, laut, dan udara. Nafsu ini juga dapat dilakukan dengan penaklukan kekuatan yang terdiri dari benda materi seperti emas dan perak (harta kekayaan), barang tambang , aset alam seperti hutan, flora dan fauna. Nafsu ini akhirnya akan berusaha menguasai manusia dengan mengeksploitasi tenaga manusia sebagai pegawai, buruh, dan lain sebagainya.

Jika seorang pemimpin telah memiliki nafsu istiela (penaklukan), maka dia akan naik kepada nafsu kedua yaitu nafsu Isti’la (nafsu ingin menundukkan). Artinya seorang pemimpin setelah menunjukkan kemampuannya, kehebatannya, dalam penguasaan ilmu, kekayaan, dan peminat, maka dia akan berusaha agar segala sesuatu itu akan tunduk dibawah perintahnya, sehingga tidak boleh ada seorangpun yang dapat mencegahnya, dan menyainginya. Inilah yang disebut dengan hubbul isti’la (keinginan ingin menundukkan segala sesuatu yang ada dibawah perintahnya).

Jika seorang pemimpin telah berhasil menundukkan segala sesuatu baik itu kekayaan Negara, kekayaan alam, loyalitas pegawai dan rakyat, maka si pemimpin akan membuat peraturan-peraturan yang memberikan kepadanya dan kroni-kroninya hak-hak istimewa yang tidak didapat oleh yang lain. Inilah yang disebut dengan hubbut takhsis (keinginan memiliki keistimewaan), sehingga hanya pemimpin, kroni dan kelompok tertentu yang mendapatkan fasilitas dan prioritas.

Dengan keistimewaan tersebut, maka nafsu kekuasaan tersebut akan naik menjadi hubbul isti’bad (segala seuatu hanya tunduk dan melayan kepentingannya). Hubhul isti’bad ini menjadikan seorang pemimpin menjadi diktator, otoriter dan anti kritik, sehingga segala kekuasaan hanya berada ditangannya.

Menurut al Ghazali, tingkat inilah yang telah sampai kepada pribadi Firaun sewaktu dia berkata kepada rakyatnya: “ Aku adalah tuhanmu yang paling tinggi“. Nah, ada pemimpin di negeri dan daerah ini seperti yang disebutkan Imam al Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin? Fa’tabiru ya ulil albab! Ikuti dan simak kupasan mendalam Laporan Utama MODUS ACEH, edisi 23. Beredar mulai Senin, 2 Oktober 2017.***

Komentar

Loading...