Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

UKM HAHoe Unsyiah Berkunjung ke Redaksi MODUSACEH.CO

Muhammad Saleh: Pertanggungjawaban Berita Kepada Allah dan Nurani, Bukan Penguasa

Muhammad Saleh: Pertanggungjawaban Berita Kepada Allah dan Nurani, Bukan Penguasa
Jurnalis HAHoe melihat ruang redaksi MODUS ACEH H. Muhammad Saleh (Foto: M. Yusrizal)
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Haba Aneuk Hukoem (HAHoe), Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, berkunjung (audiensi) ke Kantor Redaksi Tabloid MODUS ACEH dan Media Siber MODUSACEH.CO Jalan T. Iskandar No:15, Beurawe Banda Aceh, Rabu 11 November 2020 siang.

Kunjungan enam anggota Pers Kampus yang telah berdiri sejak 2011 lalu itu, didampinggi dosen Fakultas Hukum Unsyiah Ahmad Mirza Safwandy, yang juga pendiri media siber acehTrend.com dan disambut Pimpinan Perusahaan/Redaksi MODUS ACEH, H. Muhammad Saleh.

Sementara dari HAHoe hadir Liza Aidhil Fitra (Ketua Umum Pers HAHoe), Sarah Atiqah (Sekretaris), Zahra Hayati (Bendahara Umum), Amelia Nurmanthy (Web Master), Mayang Fitria PD (Litbang), dan Zulfitriansyah (Anggota).

20201111-haho2

Jurnalis HAHoe memperhatikan sejumlah piagam penghargaan yang diraih MODUS ACEH (Foto: M. Yusrizal)

Kedatangan rekan-rekan jurnalis HAHoe ini, untuk memperkaya pengetahuan mengenai media pers di Aceh, salah satunya Tabloid MODUS ACEH dan media siber MODUSACEH.CO.

Dalam pertemuan ini Muhammad Saleh memaparkan secara terperinci mengenai sejarah perjalanan media lokal kritis yang lahir 16 April 2003 silam serta prestasi yang pernah diraih.

Muhammad Saleh mengatakan, media yang dipimpinnya sangat terbuka dengan berbagai lembaga, dan dia berterima kasih atas kunjungan mahasiswa ke media ini.

Katanya, banyak pihak seperti peneliti dalam dan luar negeri yang datang dan melakukan riset serta penelitian.

Termasuk sejumlah mahasiswa yang magang. “Itu Ocha, mahasiswa Unimal Lhokseumawe, dia lagi magang dua bulan di sini,” kata Shaleh, begitu dia akran disapa, sambil memanggil Ocha.

Pertemuan berlangsung santai di ruangan rapat Redaksi MODUS ACEH dan banyak pertanyaan disampaikan para jurnalis kampus HAHoe kepada Ketua Umum Forum Jurnalis Aceh (FJA) tersebut.

Liza Aidhil Fitra, Ketua Umum HAHoe misalnya, dia bertanya tentang keberanian MODUS ACEH untuk bangkit kembali setelah beberapa kali di teror bom dan bentuk lainnya.

“Jurnalis itu mengemban risalah kebenaran yang berpijak pada kebenaran jurnalisme (data, fakta dan peristiwa), bukan kebenaran yang absolut. Sebab itu hanyalah milik Allah SWT. Untuk membawa risalah tersebut, jurnalis membutuhkan nyali dan mental yang kuat,” ungkap Muhammad Saleh memberikan bocoran, kenapa ia masih bersikukuh mempertahankan media ini dari serangan pihak-pihak yang menginginkan media pers satu ini punah dari “peradaban”.

Nah, dengan kebenaran itulah sebut dia,  seorang jurnalis harus diuji atau mengalami berbagai tahapan pengujian.

Sebab, informasi yang dihasilkan media pers selalu bermata dua atau tak akan pernah bisa memuaskan para pihak.

“Mungkin si A senang, tapi belum tentu dengan si B. Nah, si A tersanjung sementara si B marah dan berang sehingga menempuh cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalahnya. Padahal, ada hak jawab dan bisa melapor ke Dewan Pers,” ungkap dia.

Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO ini juga membeberkan cara menguji kebenaran infromasi yang diproduksi seorang jurnalis, yaitu  melalui Kode Etik Jurnalistik, Etika Pers dan UU Pers No:40/1999.

Terkait pertanggungjawaban kebenaran informasi yang diproduksi seorang jurnalis dan media.

Tegas Shaleh hanya kepada Tuhan dan Hati Nurani. Jika tidak, banyak wartawan yang “mati muda” (karirnya punah) karena berbohong dengan hati nuraninya sendiri.

“Negara memberi hak dan ruang bebas nilai. Tetapi, karya jurnalistik tetap terikat dengan etik dan moral agar berjalan pada rel yang telah ditentukan,” lanjut Saleh.

Karena itu tegas Shaleh kembali, pertanggungjawaban kebenaran informasi (berita) yang dihasilkan seorang jurnalis, hanya kepada Tuhan dan hati nurani, bukan penguasa dan kekuasaan.

Seterusnya, pengabdian media dan jurnalis hanya kepada publik (rakyat), bukan kekuasaan atau penguasa. Apalagi sampai mematikan ketajaman nurani dan kebenaran informasi.

20201111-haho1

Jurnalis HAHoe menyerahkan penghargaan kepada Pimpinan Redaksi MODUS ACEH H. Muhammad Saleh (Foto: M. Yusrizal)

Zulfitriansyah juga menanyakan keadaan pasar jurnalistik selama wabah Covid-19. Saleh membenarkan, selama pandemi memberi pengaruh penurunan pasar media pers cetak.

Namun ia tetap optimis prahara ini bisa dilalui perusahaan pers di Aceh dan Indonesia secara umum, jika para jurnalisnya tetap kreatif dan inovatif untuk bisa memproduk berita, sesuai tuntutan zaman dan selera publik.

Itu sebabnya kata Shaleh, seorang jurnalis di Aceh wajib untuk terus meningkatkan kualitas dan profesionalitasnya.

Menurut amatannya bukan tidak mungkin jurnalis luar Indonesia akan masuk mengisi lapangan kerja jurnalistik di Indonesia termasuk Aceh.

Maka salah satu kuncinya ialah, seorang jurnalis harus tampil membekali diri dengan kemampuan narasi dan literasi yang bagus.

Dalam kunjungan perdana, anggota HAHoe juga melihat ruang-ruang redaksi seperti, ruangan kerja para wartawan, ruang Podcast SISI LAIN, serta sederetan piagam penghargaan jurnalistik tingkat nasional yaitu; Adiwarta Sampoerna dan Muchtar Lubis Award yang pernah diraih MODUS ACEH dalam kurun waktu 17 tahun.

Saleh berharap, kunjungan HAHoe kali ini bisa memantik semangat mahasiswa untuk bisa memperdalam ilmu jurnalistik.

"Era saya akan segera berakhir. Kini, giliran generasi kalian yang mengisinya," pesan wartawan senior ini.***

Komentar

Loading...