Terkait Pernyataan Lembaga Wali Nanggroe

Mualem: Ghazali Abbas Sudah Menabur Angin  

Mualem: Ghazali Abbas Sudah Menabur Angin  
google.com

Banda Aceh | Beragam pendapat dan wacana, terkait posisi Wali Nanggroe Malek Mahmud Al-Haytar, akhirnya mendapat tanggapan dari Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Ketua Partai Aceh (PA), Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem.

Nah, dari berbagai pendapat tadi, perhatian Mualem tertuju kepada Ghazali Abbas Adan, anggota DPD RI asal Aceh. Dia menilai, Ghazali Abbas yang akan maju kembali sebagai calon senator asal Aceh itu, sudah menabur angin. “Maka, dia juga harus siap-siap menghadapi “badai”, tegas Mualem.

Pendapat tersebut disampaikan Mualem dalam wawancara khusus dengan MODUSACEH.CO, Sabtu pagi (17/11/2018) di rumahnya, kawasan Ule Kareng, Banda Aceh.

Sebelumnya atau Selasa, 13 November 2018 lalu di Jakarta. Ghazali Abbas Adan mengatakan pendapatnya, terkait berbagai wacana tentang berakhirnya masa jabatan Wali Nanggroe yang saat ini diemban Malik Mahmud Al Haytar.

Menurutnya, adanya Lembaga Wali Nanggroe merupakan semangat kebatinan dalam rangka memberi tempat kepada Almukarram Dr. Tgk Di Tiro Hasan Muhammad, sebagai lanjutan pengabdian kepada rakyat Aceh yang dicintainya.

"Karena memang beliau lah yang paling mustahak dan dari sisi apapun memenuhi syarat menempati maqam ini," ujar Ghazali Abbas Adan seperti diwartakan Harian Serambi Indonesia, Rabu, 14 November 2018. Namun sebut Ghazali Abbas, sejak berpulangnya Tgk Di Tiro Muhammad Hasa ke rahmatullah, kata Ghazali Abbas, maka dengan sendirinya gugurlah semangat kebatinan itu.

"Artinya Lembaga Wali Nanggroe itu tidaklah penting dan tidak diperlukan lagi, karena sebagaimana faktanya selama ini lembaga tersebut tidak memberi nilai tambah apapun terhadap citra dan bobot daerah dan rakyat Aceh, juga menguras anggaran, misterius dan tidak ada pertanggungjawaban jelas dan transparan kemana saja anggaran itu dipergunanakan serta apa manfaat bagi rakyat Aceh," lanjut Ghazali Abbas.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, menurut Ghazali Abbas, hentikan berwacana tentang kelanjutan dan orang yang mengisi lembaga itu. "Dengan demikian, anggarannya bisa dialihkan dan alokasikan kepada hal-hal yang menjadi prioritas pembangunan menuju Aceh Hebat sebagaimana dicanangkan Pemerintah Aceh saat ini," kata Ghazali Abbas Adan.

Pendapat itu tak diamini Mualem. “Sebagai politisi senior, yang paham sejarah, proses perdamaian serta MoU Helsinki serta UUPA, rasanya pendapat itu tak pantas keluar dari mulut seorang Ghazali Abbas yang juga berdarah Aceh,” kritik Mualem.

20181117-ghazali-abbas

Ghazali Abbas (Foto: lintasgayo.co)

Menurut Mualem, Ghazali Abbas tampil pada panggung “sandiwara” yang salah dan rapuh, untuk menarik perhatian rakyat Aceh, apalagi menjelang Pileg dan Pilres 2019. “Sejak keluarnya pernyataan tersebut, saya banyak mendapat telpon dan masukan dari lapangan, terutama kader PA dan mantan kombatan GAM dan para panglima di Aceh. Sejujurnya, mereka sangat marah dan tersinggung dengan perkataan Ghazali Abbas. Tapi, kepada mereka saya katakan, tak usah peduli orang yang sedang cari panggung gratis,” sebut Mualem.

“Mungkin dia sudah bisa baca dan punya firasat akan sangat berat jalan menuju Senayan (anggota DPD RI) dua kali. Karena itu cari sensasi. Tapi, cara yang dia tempuh sangat tidak tepat dan salah masuk “kamar”, sindir Mualem. Dia berharap, Ghazali Abbas Adan cukup sudah menabur angin jika tak mau diterpa “badai”. Nah, apa saja kata Mualem? (selengkapnya baca edisi cetak, Senin, 18/11/2018).***

Komentar

Loading...