Moeldoko Tak Ingin Jokowi Kalah seperti Hillary Clinton

Moeldoko Tak Ingin Jokowi Kalah seperti Hillary Clinton
Wakil ketua TKN Moeldoko. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Penulis
Sumber
CNN Indonesia.com

Jakarta | Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Moeldoko tak ingin calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo bernasib seperti Hillary Clinton yang kalah oleh Donald Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2016. Kata dia, Hillary kalah karena banyak pendukungnya yang tidak menggunakan hak suara.

"Hampir seluruh warga AS yakin Hillary jadi pemenang, jadi banyak yang tidak datang ke TPS (tempat pemilihan suara) karena yakin Hillary pasti menang, tetapi akhirnya dia kalah," kata Moeldoko pada Deklarasi Alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) Bersama Perguruan Tinggi Lain, Relawan, dan Masyarakat Dukung #01 di Graha Wisata Surakarta, seperti dikutip Antara,Sabtu (26/1).

Moeldoko berharap agar masyarakat pemegang hak suara berbondong-bondong datang ke TPS untuk mencoblos pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. "Satu suara menentukan masa depan Indonesia. Pada saat Pilpres tersebut berdekatan dengan hari libur, jangan sampai tidak menggunakan hak suara," katanya.

Dari sisi stabilitas politik, dikatakannya, indeks demokrasi di Indonesia pertumbuhannya cukup bagus, yaitu sekitar 72 persen. "Maknanya adalah partisipasi publik untuk terlibat dalam pemilukada makin meningkat. Dari 171 Pilkada di Indonesia, ada 157 juta masyarakat Indonesia yang berbondong-bondong ke TPS," katanya.

Sementara itu, dari sisi kinerja, dikatakannya, Jokowi mampu memberikan kesejahteraan yang baik kepada masyarakat, salah satunya dari sisi menciptakan lapangan kerja baru. "Jokowi pernah menjanjikan 10 juta lapangan kerja, saat ini 8,9 juta tenaga kerja yang bisa diserap oleh industri. Sampai dengan akhir pemerintahan nanti 10 juta pasti bisa diselesaikan," katanya.

Dari sisi tingkat pengangguran, dikatakannya, Presiden Joko Widodo juga mampu menekan angka dari 5,15 persen menjadi 5,13 persen. Dengan hasil kerja tersebut, Indonesia memiliki misi pada tahun 2030 bisa menjadi salah satu dari enam pemain besar di perekonomian global.

Kata dia, presiden tidak hanya memikirkan pengembangan perkotaan tetapi juga pedesaan. Salah satu yang dilakukan untuk memajukan desa, yaitu melalui program dana desa. "Secara akumulasi, dana desa yang sudah digelontorkan oleh Presiden sebesar Rp252 triliun. Rinciannya pada tahun 2015 dana desa yang disalurkan sebesar Rp27 triliun, 2016 sebesar Rp40,7 triliun, 2017 dan 2018 masing-masing Rp60 triliun, dan tahun 2019 sebesar Rp73 triliun," katanya.***

Komentar

Loading...