Realisasi Investasi Aceh 2020

Modal Asing Berkurang, Dalam Negeri Meningkat

Modal Asing Berkurang, Dalam Negeri Meningkat
Foto: Firdaus Hasan/MODUSACEH.CO
Rubrik

Banda Aceh | Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh merilis angka investasi Aceh dari Januari-Desember 2020 yang disebut melebihi target.

Informasi ini disampaikan Kepala DPMPTSP Aceh, Martunis pada rapat realisasi investsi Aceh di Aula Kantor DPMPTSP, Kamis, 25 Februari 2021 di Banda Aceh.

Kata dia, investasi Aceh tahun 2020 sebesar Rp9,1 triliun. Jumlah ini mencapai 150,60 persen dari target investasi tahun 2020 yaitu Rp6 triliun.

Selain itu katanya, jumlah invertasi tersebut mampu menyerap tenaga kerja 4.715 orang dari 675 proyek investasi.

Sebelumnya, investasi Aceh tahun 2019, Rp 5,8 triliun lebih, teridiri dari sumber penanaman modal asing (PMA) Rp1,196,9 miliar, sedangkan dana penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp4,615,1 miliar.

Lalu pada tahun 2020, PMA mencapai Rp738,0 miliar sedangkan PMDN, Rp8,3 triliun lebih. Artinya penambahan modal asing dari 2019 sampai 2020 berkurang sementara penanaman modal dalam negeri justru meningkat.

Berikut lima negara penanaman modal asing (PMA) triwulan ke IV, Hongkong RRT investasi US$ 14.101.837, Korea selatan investasi US$ 1.155.524, Belgia investasi US$ 530.138, Singapura investasi US$ 369.941 dan RR Tiongkok investasi US$ 51.734.

Foto: Ist

Menurut Martunis, kalau dilihat per triwulan ke IV/2020 PMDN lima  top sektor penyumbang investasi adalah, kontruksi mencapai Rp1.241,1 miliar dan menyerap tenaga kerja 60 orang.

Sektor industri mineral non logam (Rp 239,2 miliar dan menyerap 2 tenaga kerja), sektor perumahan kawasan industri dan perkantoran (Rp130,2 miliar, menyerap 150 tenaga kerja), sektor industri makanan (Rp58,1 miliar dan menyerap tenaga kerja 261 orang) serta sektor jasa lainnya Rp36,3 M.

Triwulan ke IV/2020 PMA, lima top sektor yaitu listrik gas dan air (US$ 15.383.890 dan menyerap tenaga kerja 3 orang dan 8 tenaga kerja asing), sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan (US$ 630.158, menyerap 3.349 tenaga kerja dan 2 tenaga kerja asing).

Ada lagi, sektor pertambangan (US$ 161.100, tidak menyerap kerja), sektor industri makanan US$ 108.857, tidak menyerap tenaga kerja dan sektor jasa dan lainnya (US$ 24.097, menyerap 13 tenaga kerja dan 1 tenaga kerja asing).

"Sebab itu investasi harus kita arahkan pada kebijakan penurunan kemiskinan, kalau transmisinya memang jelas bahwa investasi menyediakan tenaga kerja, lalu industri makanan misalnya dia membeli komoditas pangan dari masyarakat. Inilah yang jadi PR kita kedepan. Selain itu, investasi perlu kita arahkan ke industri hilirisasi sehingga dampak terhadap kemiskinan itu lebih terasa," jelas Martunis.

Sementara penyediaan lapangan kerja di sektor kontruksi misalnya PLTU, kebutuhan tenaga kerjanya memiliki kompotensi khusus dan itu belum dimiliki masyarakat miskin.

"Kedepan kita lebih menyasar industri pengolahan, tapi memang butuh tantangannya sangat konsen dan efisiensi. Misalnya produktitas tenaga kerja, apakah ilegal tax pungli, pajak nanggroe dan juga regulasi lainnya. Beda dengan kontruksi dan pertambangan, margin mereka sangat besar," tutup dia.***

Komentar

Loading...