Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Mengendus Pemilik Narkoba Peudada

Misteri Sosok R dan Dugaan Oknum Polisi-TNI Yang Ikut “Bekerja”

Misteri Sosok R dan Dugaan Oknum Polisi-TNI Yang Ikut “Bekerja”
Barang bukti (BB) 340 kilogram narkoba jenis shabu-shabu di TPI Peudada (Foto: Ist)

MODUSACEH.CO | Jarum jam sudah bergerak ke pukul 23.30 WIB Jum’at malam, 29 Januari 2021.

Namun, denyut nadi Kota Juang Bireuen masih begitu terasa, mengeliat untuk melayani warganya.

Di beberapa sudut kota, sejumlah cafe dan warung kopi justeru masih tetap buka.

Saya pun memilih satu diantara belasan warung yang ada. Sasarannya apalagi, kalau bukan menyeruput beberapa gelas kopi ekspreso, untuk melawan ngantuk yang mulai menyerang mata.

Maklum, walau 30 menit waktu berlalu, narasumber yang saya tunggu belum juga ketemu. Rasa kesal pun muncul.

Tiba-tiba, telpon seluler saya bergetar. “Abang geser dari warung itu, kita ketemu di cafe xxx,” kata sumber tadi, memberi petunjuk. Tanpa basa-basi, saya pun beranjak dan mengikuti arahan narasumber tersebut.

***

Sebelumnya, dari Kota Banda Aceh, saya meluncur untuk bertemu beberapa sumber di Bireuen.

Maklum, bagi kalangan tertentu, kabupaten yang sarat makna dan nilai sejarah perjuangan bangsa Indonesia ini pun, mulai memunculkan anekdot yang kurang elok.

20210131-sabe2

Pengangkutan narkoba jenis sabu-sabu dari boat oleh petugas (Foto: jurnalpolisi.id)

Jika ada yang menyebut, Bireuen Kota Keuripik, Kue Nagasari, Kota Juang atau bahkan Kota Santri. Ini tentu tak soal dan biasa.

Tapi, sadar atau tidak, kini mulai disebut sebagai; Kota “SS”. Artinya, Kota Santri dan Shabu-Shabu. Pelebelan tadi tentu bukan tanpa sebab.

Selain memiliki puluhan pesantren dan dayah. Berbagai peristiwa penangkapan bandar, pengedar dan penguna narkoba jenis shabu-shabu memang kerap terjadi di kota ini.  Ironis memang!

Terkini, terkait misteri penemuan 340 kilogram narkoba jenis shabu-shabu di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Peudada, Kabupaten Birereun, Rabu, 27 Januari 2021.

Memang, paska penemuan tadi, berbagai tanda tanya muncul. Misal, kenapa pemiliknya dengan mudah meninggalkan “barang” bernilai ratusan miliar ini? Lalu, dari mana barang haram itu berasal dan siapa pemiliknya? Adakah oknum tertentu yang ikut terlibat?

Tentu, tak mudah untuk mendapatkan berbagai informasi tadi.

Apalagi, si pemilik narkoba tersebut hingga kini masih misteri. Selain itu, tentu memiliki jaringan yang sudah cukup kuat.

Nah, disinilah modal kepercayaan dari narasumber menjadi taruhannya.

Begitupun, jajaran redaksi media ini tak patah arang. Berbagai riset dan analisa data terus dilakukan.

Mulai dari menguak kembali jalur distribusi hingga nama-nama sejumlah mantan “pemain” maupun “para veteran” aparat kepolisian yang sebelumnya dikenal terampil dalam memburu sejumlah bandar, pengedar dan pemakai sabu-sabu atau akrab disebut; “SS”.

“Baik, saya tunggu Abang di Bireuen. Kita ketemu di sini saja. Tapi, hanya Abang sendiri, jangan beritahu teman-teman wartawan yang lain,” kata seorang sumber media ini di ujung telpon seluler, Jumat pagi.

Mendapat “pintu masuk” pertama,  saya tak mau buang waktu dan berlama-lama. Usai shalat ashar, langsung tancap gas, menuju Kabupaten Bireuen.

Sebelumnya, sejumlah nelayan di Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen, menemukan satu boat yang terdampar, Rabu, 27 Januari 2021, sekira pukul 06.00 WIB.

Setelah mendekat dan melihat isi dalam boat, ternyata puluhan paket narkotika jenis sabu yang sudah dikemas rapi. Kabarnya, barang haram itu berasal dari Iran.

Ini memang diluar kelaziman. Sebab, selama ini narkoba jenis sabu-sabu identik dengan produk yang diimpor dari negeri tirai bambu, China.

Ceritanya begini. Seperti biasanya para nelayan melakukan aktivitas pergi melaut di pagi hari.

Saat boat nelayan keluar Kuala Pandrah, mereka melihat satu boat tanpa pemilik alias tak bertuan terdampar.

“Saat para nelayan menghampiri boat tersebut, mereka melihat ratusan paket sabu yang dimasukkan dalam viber ikan,” kata seorang warga dari Pandrah kepada awak media.

Selanjutnya, nelayan memberitahukan informasi ini kepada aparat kepolisian terdekat. Jadi, bukan hasil dari operasi polisi sebagai pihak pertama yang menemukannya.

Berikutnya, boat dan ratusan paket sabu tersebut ditarik polisi air dan udaha (Pol. Airud) Peudada untuk diamankan dan kini sudah berada di Mapolres Bireuen, guna pengembangan selanjutnya.

 ***

Entah karena terus saya jejal dengan kopi pahit, mata saya akhirnya tak mau diajak berdamai untuk tidur. Padahal, jarum jam sudah berada di angka 03.00 WIB dini hari.

Selain itu, sejumlah informasi yang disampaikan dan ungkap sang narasumber tadi, khususnya dibalik dugaan pemilik dan para oknum yang terlibat dalam”operasi” 340 kilogram shabu di Peudada ini, membuat insting dan naluri jurnalisme saya tak bisa diam.

“Ya, pemainnya tetap warga lokal. Tapi, operasinya sudah regional bahkan dunia,”  sebut sumber yang tidak mau dibuka jati dirinya ini.

Sekali lagi, tak gampang memang untuk bisa mengajak narasumber ini bicara. Apalagi, bila tak memiliki data apa pun dan sekecil apa pun tentang sosok “pemain” di jalur tersebut.

Bagaimana dengan Murtala Ilyas, apakah mereka satu jaringan? Pancing saya kembali. “Bisa ya juga tidak. Sebab, bila masih jadi pemain pemula, mereka memang saling terkait. Tapi, kalau sudah jadi pemain utama, mereka sudah punya jaringan tersendiri,” ulas sumber ini.

Lantas, bagaimana misteri dan teka-teki soal “barang tanpa awak tadi”? Pancing saya kembali. Sumber yang lebih banyak diam ini pun kembali berkisah.

Kata dia, barang itu milik bandar R, warga Peudada. Mereka mengambilnya dari tengah laut pada malam hari. Dan itu produksi Iran, bukan China.

Nah, saat hendak didaratkan melalui boat, mesin mereka terkena jaring nelayan sehingga  R dan rekannya tak bisa melaju ke daratan atau sasaran yang dituju. “Ini informasi awal yang saya dapatkan,” ungkap dia.

Kondisi ini terus terjadi hingga menjelang subuh. Karena merasa kurang aman dan takut terhendus warga (nelayan) lain serta aparat penegak hukum. R akhirnya meninggalkan boat tadi hingga hanyut ke bibir dermaga.

Untuk operasi ini, diduga R tidak sendiri. Dia dibantu seorang oknum polisi berinisial S yang bertugas di jajaran Polres Bireuen.

Selain itu, ada nama Z, seorang oknum TNI-AD yang bertugas di jajaran Kodim Bireuen.

“Tapi saya menduga, pasti ada oknum lainnya yang terlibat. Sebab, S hanya berpangkat Bripka sedangkan Z adalah Kopral. Namun, ini hanya dugaan dan kita tunggu saja hasil nyanyian S dan Z serta penyelidikan Polri serta POM TNI-AD,” saran sumber ini.

Sementara itu, hingga Minggu, 31 Januari 2021, jajaran Polres Bireuen belum menyampaikan informasi lanjutan atau perkembangan terkini dari peristiwa tadi kepada masyarakat melalui media pers.

“Pasti ada, sabar saja. Ini kan harus hati-hati dan melibatkan banyak pihak untuk mengungkapnya secara tuntas. Termasuk tim dari Mabes Polri,” jelas sumber tersebut.

Malam mulai turun ke peraduan, jarum jam pun sudah bergeser ke pukul 04.00 WIB subuh. Kami pun sepakat untuk bubar.

Dari kegelapan malam, sang narasumber itu pun menghilang dengan sepeda motor bututnya,  sementara saya kembali tancap gas, menuju Kota Lhokseumawe untuk bermalam. (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...