Diambang Punah

Menyelamatkan Tradisi Komedi Mop-Mop

Menyelamatkan Tradisi Komedi Mop-Mop
Pelakon Komedi Mop-Mop (Foto: M. Yusrizal | MODUSACEH.CO)

Banda Aceh | Aceh Serambi Mekah, tanah beradat berbudaya. Tak akan habis jika hendak membicarakan tradisi kebudayaan maupun kesenian yang berkembang di provinsi ujung barat Indonesia ini.

Kesenian seudati, ratoh jaroe, saman, rapa’i geleng, mungkin telah lazim didengar. Bahkan beberapa kesenian Aceh telah populer di kancah nasional hingga internasional.

Misal Saman, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda oleh UNESCO pada 19 November 2011 lalu.

Nah, yang saya sebutkan tadi mungkin sekelumit kesenian Aceh yang bernasib baik. Sedangkan tradisi kesenian yang apes perlahan-lahan punah dan enggan untuk dilirik, dipapah, dirawat, agar kesenian tersebut bisa hidup kembali.

Pernah mendengar Mop-Mop? Umumnya mungkin mengerutkan dahi sambil mengobrak-abrik ingatan, dan berujung dengan ketidaktahuan. Ini sama persis ketika saya mendengar kata; Mop-Mop.

Kamis, 22 Oktober 2020, saya mendapat informasi ada pertunjukan Mop-Mop di salah satu warung kopi kekinian yang diberi nama “Kamp Biawak”.

Letaknya di bantaran Krueng Aceh, Gampong Limpok, Kota Banda Aceh. Menurut keterbatasan informasi yang saya peroleh, Mop-Mop adalah kesenian dengan genre komedi.

Foto: M. Yusrizal/MODUSACEH.CO

Tidak membuang waktu, pukul 16.30 WIB saya menyambangi lokasi dimaksud, turut serta membawa kamera analog Olympus Trip 35. Disambut pemandangan Krueng Aceh, menambah suasana tenang dan teduh sore itu.

Saya dijamu T. Zulfajri seorang pemuda Gampong Keuramat, Kota Banda Aceh. Dia aktif pada Studi Klub Pekerja Teater Aceh dan penggagas pagelaran Mop-Mop sore itu.

Menurut penuturan lelaki yang kerap disapa Tejo ini, Mop-Mop merupakan seni pertunjukan yang dimainkan tiga orang, dengan mengambil tema permasalahan keluarga seperti konflik dalam rumah tangga, maupun tentang panen.

Pemain pertama berperan sebagai Ayah. Ini peran penting sebagai sutradara panggung, mengatur jalannya alur selama pertunjukan.

Ayah juga disebut sebagai “Syeh” dengan memainkan musik penggiring berupa biola. Ia hanya duduk saja di atas kursi dengan terus memainkan biola, dan sesekali melakukan dialog.

Pemain kedua berperan sebagai Anak Perempuan atau disebut juga Dara Baro, dan pemain ketiga perannya sebagai Menantu Laki-Laki atau disebut juga Linto Baro.

Dara Baro dengan Linto Baro ini bertugas sebagai orang yang membangun konflik percekcokan dalam rumah tangga.

Cerita-cerita yang diangkat akan tampak ringan-ringan saja, tapi dengan penuh jenaka hingga mengundang gelak tawa para penonton.

Bukan seperti drama televisi umumnya yang menampilkan prahara rumah tangga dengan alur berat dikonsumsi penonton.

Mop-Mop diperkirakan telah hadir di Aceh jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Menurut penuturan Tejo, kesenian ini bahkan telah hadir semasa kerajaan-kerajaan masih memerintah di Aceh.

Banyak penamaan untuk kesenian ini. Ada yang menyebutnya Kesenian Biola Aceh, Apa Raoh, dan juga Mop-Mop.

“Kesenian Mop-Mop hadir di Pidie, namun berkembang di Aceh Utara, ungkap Tejo, pemuda yang giat melakukan penelitian pada kesenian yang hampir punah ini.

Mop-Mop pernah populer berkisar tahun 50 sampai dengan 70-an. Kini bukan lagi dikatakan meredup, Mop-Mop bisa disebut telah berada di ambang kepunahan.

Bagaimana tidak. Penuturan Tejo, tiga pelakon Mop-Mop yang tampil hari itu merupakan generasi terakhir yang mampu menguasai kesenian Mop-Mop.

Umur mereka telah senja, pergerakannya di atas panggung tidaklah energik seperti anak-anak muda umumnya.

“Saya tidak tahu, apakah setelah mereka ini (wafat) bakalan ada generasi Aceh yang mampu memainkan tradisi kesenian Mop-Mop. Tradisi yang dulunya dijadikan sebagai kesenian hiburan bagi masyarakat”, sebut Tejo yang giat melakukan penelitian Mop-Mop sejak tahun 2011.

Foto: M.Yusrizal | MODUSACEH.CO

Amatan MODUSACEH.CO, pagelaran Mop-Mop di Kamp Biawak dipenuhi pengunjung terutama anak muda.

Tawa penonton tak terbendung setiap adegan kocak yang dimainkan dan terselip kesedihan. Bagaimana tidak, tiga orang pemain ini adalah generasi terakhir yang bahunya memapah kesenian Aceh berumur ratusan tahun lamanya.

Syeh Kawi (71) dari Sawang, Aceh Utara, berperan sebagai Ayah. Dok Alim atau akrab disapa Habibi (73) asal Simpang Keuramat, Aceh Utara, berperan sebagai Linto Baro. Serta A’an, lelaki beralamat Paloh, Aceh Utara, berperan sebagai Dara Baro. Inilah ujung tombak terakhir Mop-Mop.

Setelah mereka siapa lagi? Begitulah pertanyaan berat yang harus dijawab generasi muda Aceh, sebagai penyambung tongkat estafet melestarikan kesenian Mop-Mop.

Begitupun, niat Tejo mendatangkan para pemain ini jauh dari Aceh Utara ke Banda Aceh untuk mengampanyekan kembali pada generasi muda bahwa Mop-Mop perlu untuk dijaga dan dipelajari agar tidak hilang dalam peradaban.

Dari dokumen tulisan ilmiah maupun syair, serta berbentuk video, para pemuda Aceh diharapkan bisa memainkan kesenian Mop-Mop.

Selain itu, bisa dijadikan sebagai daya tawar tersendiri bagi Aceh dan tidak berlebihan jika disebut sebagai salah satu lumbung tradisi kesenian nusantara.***

Komentar

Loading...