Kolonel (Purn) Achmad Amin

Menolak Rayuan Thaib Adamy dan Ismail Dalim (Bagian Kedelapan)

Menolak Rayuan Thaib Adamy dan Ismail Dalim (Bagian Kedelapan)
Penulis
Rubrik

Usia Kolonel (Purn) Achmad Amin memang tidak muda lagi. Tapi, mantan Tentara Nasional Indonesia, Angkatan Darat (TNI-AD) yang pernah dipercaya sebagai Komandan Batalion Meulaboh dan Kasrem Lhokseumawe, masih ingat beberapa tokoh PKI di Aceh. “Jujur saja, pada masa PKI dulu, saya sebagai Komandan Batalion. Memang kami diincar oleh tokoh PKI,” ungkap Kolonel (Purn) Achmad Amin  di rumahnya, Geuceu Komplek, Banda Aceh, Kamis 26 Mei 2016 lalu.

Menyandang Komandan Batalion, Achmad Amin asal Lueng Putu, Pidie ini pernah didekati dua tokoh PKI yaitu Thaib Adamy dan Ismail Dalim (tokoh PKI Aceh Utara). Sebagai jebakan, agar Achmad Amin terlibat dalam struktur PKI, ia ditawarkan sebuah proyek. Menurut Achmad Amins yang saat itu masih berumur 35 tahun dan tinggal di Banda Aceh, Thaib Adamy menawarkan dirinya untuk kerja sama mendirikan surat kabar di Aceh. Namanya Pikiran Rakyat. “Saya didekati Thaib Adamy, bukan diajak masuk PKI. Tapi, Pak Amin, kita bangun di Aceh ini surat kabar Pikiran Rakyat dengan itu kita bisa komunikasi,” kata Achmad Amin, mengulang ajakan Thaib Adamy ketika itu. Masih kata Achmad Amins, “Ini jebakan pertama dari dia terhadap saya,” ujar kakek berusia 93 tahun, Kamis pekan lalu.

Namun, ajakan itu tidak diamini Achmad Amin. Sebab, mantan TNI itu sudah tahu gelagat Thaib Adamy untuk menjebaknya masuk PKI. Karena ia menolak, Thaib Adamy pun tak pernah mendekatinya lagi. “Saya bilang nantilah. Setelah itu, dia tidak mau dekati lagi. Ini terjadi sebelum 1965,” ujar Achmad Amin. Selain Thaib Adamy, ada juga Ismail Dalim di Aceh Utara. Ismail Dalim, kata ayah lima anak itu, pernah mendekatinya. Dia sempat mempelesetkan nama Ismail Dalim. “Saya olok-olok dia. ‘Nama kamu bukan Ismail Dalim, tapi Ismailove Daliski.’ Saat itu dia marah sekali,” kenang Achmad Amins, mengenang tokoh PKI di Aceh saat itu.

Kedua tokoh PKI itu, kata Achmad Amin sangat vokal dan cerdas. Tapi, dengan Achmad Amins, diakuinya dua tokoh PKI itu tidak berani mendekatinya, setelah mengabaikan tawaran untuk mendirikan media cetak di Aceh. Seingat Achmad Amin, Thaib Adamy saat itu pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Istimewa Aceh. Sebagai markas--tempat tinggalnya di Stadion Kerata Api sekarang persis di Mall Barata, Banda Aceh. Achmad Amin juga tidak ingat asal muasal Thaib Adamy. Tapi, abang kandung Thaib Adamy bernama Usman Adamy yang berasal dari Idi, Aceh Timur. “Abangnya tidak masuk PKI,” ujarnya.

Selain Mall Barata, Kantor Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) juga pernah ditinggal orang PKI. Sedangkan tokoh PKI perempuan Aceh, Achmad Amin mengingatnya bernama Mutmainnah. Begitu juga dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), PKI membentuknya. Hanya saja, Achmad Amin tidak ingat lagi siapa tokohnya. “Lekra ada di Aceh tetapi saya tidak ingat siapa. Saya pikir Lekra itu banyak anak-anak gadis dan para seminan Aceh ketika itu,” ujar kakek dari 19 cucu ini.

Diakui Achmad Amin, cara PKI merekrut kadernya di Aceh sangat lihai. Misalnya, pegawai ada gaji 105 sen, maka lima sen dimasukkan ke PKI. “Ini jebakan kedua, itu adalah cara mereka merekrut, kemudian yang lain tidak jelas bagaimana cara mereka,” ujarnya. Cara lain yang dilakukan PKI melalui berkebun dan pendekatan kepada masyarakat.  Kemudian, ada juga tokoh PKI berlagak bodoh--sebagai pekerja tukang sapu di salah satu toko Cina, Jalan Muhammad Jam, Banda Aceh. “Sebenarnya PKI yang setel bukan dia, tetapi misalnya ada toko Cina, di situ ada tukang sapu. Malah tukang sapu yang memimpin, saya lupa namanya,” sebut Achmad Amins. Namun, di Aceh diakui Achmad Amin, tidak begitu banyak PKI di Aceh, tidak seperti di Pulau Jawa. Makanya, basis PKI tidak tahu pasti di mana. “Yang terkenal memang di wilayah Aceh Timur,” ungkap Acmad Amin.***

Komentar

Loading...