Breaking News

Mengungkap Dugaan Mark Up Dana Desa Temuan Inspektorat Aceh Barat Rp18 Miliar

Mengungkap Dugaan Mark Up Dana Desa Temuan Inspektorat Aceh Barat Rp18 Miliar
Inspektur Sirajulfata, ST/ Foto Juli Saidi
Penulis
Rubrik

Meulaboh | Inspektorat Aceh Barat mengungkap modus operandi temuan dana desa Rp18 miliar, mulai tahun anggaran 2015 sampai 2019.

“Yang banyak temuan dana desa tahun 2015 dan 2016,” ungkp Inspektur Sirajulfata, ST, di ruang kerjanya, Kantor Inspektorat Aceh Barat, Rabu sore, 10 Februari 2021.

Menurut Sirajulfata, temuan tadi tak terlepas kelemahan pihak terkait. Termasuk faktor minimnya sosialisasi terhadap penggunaan dana desa itu sendiri. “Kayaknya dulu tidak diaudit dana desa,” ujarnya pada media ini.

Lantas seperti apa modus operandi dari temuan Rp 18 miliar dana desa tersebut? Inspektur Sirajulfata menegaskan, ada dugaan kekurangan volume pekerjaan, tidak bayar pajak PPh-PPn dan pajak galian C.

Tak hanya itu, ada juga dugaan mark up (pengelembungan) dan tak membuat laporan pertanggungjawaban (SPJ).

Sirajulfata mencontohkan, terkait dugaan mark up penggunaan dana desa. Misal pada satu kecamatan harga batu kerikil satu truck harcules Rp250 ribu dengan muatan sebanyak 4 kubik.

Sementara, dalam rencana anggaran biaya (RAB) dana desa, perangkat pemerintahan gampong  membuat harga dalam RAB, Rp110 ribu per kubik.

Sehingga keluar harga dalam satu truck Rp 450 ribu, sedangkan harga batu kerikil satu truck Rp 250 ribu.

“Satu mobil itu muatan 4 kubik. Kita membagi kubikasi ini 4 bagian dan kita kalikan dengan harga satu mobil, lahirlah dugaan mark up,” ungkap Inspektur Sirajulfata.***

Komentar

Loading...