Mengintip Keseharian Keturunan Raja Abiet Setelah Turun Gunung

Mengintip Keseharian Keturunan Raja Abiet Setelah Turun Gunung
Raja Keumala (Anak Raja Ubiet)

Nagan Raya | Perumahan transmigrasi di kaki Gunong Kong, Dusun Blang Tripa, Gampong Alue Aki, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh menjadi perkampungan bagi keturunan Raja Ubiet.

Letaknya di sebelah Krung (sungai) Alem, sekitar 50 kilometer dari Suka Makmu (Ibu Kota Kabupaten Nagan Raya), menuju Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Padahal, untuk mencapai lokasi tersebut bisa menggunakan sepeda motor.

Sayangnya, jembatan besi yang panjangnya sekitar 200 meter telah putus. Sehingga, harus menaiki boat mesin.

20180621-0c72690b-7f59-4766-ac14-f3cc57afb95a

Raja Ubiet merupakan Raja Keumala-Tangse, Aceh Pidie yang membawa pengikut dan keturunannya dahulu kala ke Gunung Itam di gugusan Bukit Barisan, Nagan Raya. Tujuannya, untuk menghindari kejaran penjajah Belanda.

Mereka hidup secara tradisional, mengandalkan kemurahan alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka  juga hidup dalam peradaban yang nyaris tanpa sentuhan modernisasi.

Setelah turun gunung sekitar 15 tahun lalu, sebanyak 25 keluarga Raja Keumala, yang merupakan silsilah Raja Tampok (ayah Raja Ubiet) telah menyusuaikan diri dengan era modernisasi dan hidup normal seperti masyarakat Aceh umumnya.

Amatan media ini, Selasa (19/6/18), banyak dari mereka telah menjadi petani. Ada yang menjadi petani sawit, pinang, coklat hingga kapas.

Setiap pagi, baik pria tua dan dewasa langsung menuju kebun masing-masing. Mereka akan pulang ke rumah menjelang petang. Sementara, para ibu-ibu menjalani rutinitas sehari hari-hari hingga menjemur hasil panen untuk dikeringkan. Tak jarang, menyempatkan diri berkumpul sesama tetangga sekedar bersilaturahmi. 

Namun, masih banyak dari keturunan Raja Ubiet yang hingga kini bertahan di Gunong Itam (Puncak Krung Itam) dan hidup dari hasil hutan. Sehingga, perumahan yang diberikan Pemerintah Aceh di era kepemimpinan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar 2007-2012 lalu, telah banyak rusak atau di makan usia. Sejumlah fasilitas publik seperti Puskesmas dan rumah sekolah juga tidak difungsikan.

Lantas, kenapa keturunan Raja Ubiet masih bertahan dalam hutan dan hidup asing dari masyarakat, dan bagaimana perhatian pemerintah terhadap mereka yang telah turun gunung? Selengkapnya di edisi cetak Tabloid MODUS ACEH, Senin 25 Juni 2018.***  

 

Komentar

Loading...