Mengendus Kematian DL 

Menggugat Perbuatan tak Patut Oknum Polisi Polres Agara

Menggugat Perbuatan tak Patut Oknum Polisi Polres Agara
Almarhumah DL (Foto: Ist)

Andai DL (21) tewas karena diduga over dosis setelah mengkonsumsi sendiri narkoba jenis pil ekstasi, mungkin tak begitu jauh viral. Sebaliknya, karena dia bersama oknum polisi, inilah yang kemudian menjadi persoalan. Rakyat Aceh menunggu tindakan tegas Kapolda Aceh Irjen Pol. Wahyu Widada.

MODUSACEH.CO I Walau peristiwa serupa jamak terjadi di negeri ini. Boleh jadi, Kapolda Aceh Irjen Pol. Wahyu Widada “sedang mendapat ujian” di bulan suci ramadhan berjalan tahun ini.

Lihat saja tingkah oknum anak buahnya di jajaran Polres Aceh Tenggara. Bukannya menyambut bulan penuh ampunan ini dengan meningkatkan amal dan ibadah.

Sebaliknya, justeru berbuat dosa hingga akhirnya nyawa DL (21), seorang perempuan muda melayang sia-sia. Konon, masih berstatus istri orang pula.

Tentu, bukan kematian yang ratapi. Tapi penyebabnya yang mungkin disesali. DL yang lahir  5 Juni 2000 itu pergi untuk selamanya karena diduga over dosis, setelah menegak narkoba jenis ekstasi.

Syahdan, bila pil ekstasi tadi  ditelan sendiri dan kemudian DL dijemput ajal. Tentu, tak banyak bahan cerita untuk dikisahkan.

Hanya saja beredar kabar, ada KA, oknum anggota polisi dari Polres Aceh Tenggara yang memaksa ibu muda ini buka mulut. Pluuut! beberapa butir barang haram itu pun masuk ke mulut DL.

Hasilnya, langkah, rezeki, pertemuan dan maut adalah takdir Allah SWT. Spontan DL jatuh terkulai hingga mengerang nyawa. 

Lantas, benarkah DL tewas karena diduga over dosis atau memang ada penyakit penyerta lain?

Sejauh ini memang belum ada pernyataan resmi dari Kapolres Aceh Tenggara maupun tim dokter di rumah sakit setempat.

Bila asumsi pertama benar, maka patut diduga bahwa sebelumnya DL memang sudah akrab dengan oknum KA dan barang haram tadi.

Bisa jadi, peristiwa malam naas itu merupakan yang kesekaian kali dilakukan DL bersama oknum polisi tadi. Tapi tidak berakibat fatal.

Sebaliknya, jika DL baru pertama kali menegak pil “setan” tersebut, lalu meninggal dunia. Bisa jadi diakibatkan adanya penyakit penyerta seperti jantung, sesak nafas atau lambung. Jadi, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, dibalik kematian DL.

Begitupun, lepas dengan berbagai asumis tadi, Bupati Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Aceh Tenggara Muhammad Saleh Selian, mendesak aparat Kepolisian segera menyingkap tabir, tewasnya seorang wanita muda yang jenajahnya sempat dititipkan di RSUD H. Sahudin Kutacane, Sabtu, 10 April 2021 lalu.

Kepada media pers di Kutacane, Minggu, 11 April 2021, Bupati LIRA itu menegaskan. Kematian ID yang sebelumnya disebut tewas di kamar mandi pada sebuah cafe, ternyata bukan di lokasi itu. Tapi, di satu villa yang terletak di objek wisata Ketambe.

Menurut Muhammad Saleh Selain, korban sebenarnya masih berstatus punya suami, namun sedang berada di luar daerah.

Itu sebabnya, jika ada yang menyebut korban seorang janda juga tidak benar, karena memang masih terikat tali pernikahan.

“Saya minta dan mendesak Kapolres untuk segera mengungkap kasus ini, bila  perlu secepatnya lakukan pengamanan terhadap oknum-oknum yang membawa korban pergi maupun saat mengantar mayat korban ke RSUD H Sahudin Kutacane, supaya dapat dimintai keterangan, sekaligus agar tidak menghilangkan diri sementara waktu untuk menghindari dilakukan cek urine,” tegas Bupati LIRA Aceh Tenggara tersebut.

Tak hanya itu, Muhammad Saleh Selian juga mendesak penyidik Propam Polres Aceh Tenggara untuk membuka CCTV di UGD RSU H Sahudin Kutacane, mulai durasi pukul 04.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB, Sabtu pagi (10/04/2021).

Sebab, menurut keterangan anggota Satpol PP yang jaga saat itu, mayat DL diantar dengan mobil warna merah dan disusul mobil Inova warna hitam.

“Saya sangat mencurigai kalau mobil yang disebutkan itu adalah mobil yang sering digunakan oknum aparat kepolisian. Jadi saya menduga sebelum korban tewas mereka itu melakukan pesta narkoba di salah satu villa di objek wisata ketambe,” jelas Muhammad Saleh Selian.

Masih kata Muhammad Saleh Selian.

“Saya tahu oknum yang terlibat tersebut dari Satres Narkoba. Bahkan saya pernah menyampaikan kepada Wakapolres Aceh Tenggara supaya mengganti semua anggotanya yang ada di Satres Narkoba sekalian cuci gudang, kalau kita ingin memberantas narkoba. Namun Wakapolres tidak menggubris masukan dari LIRA Aceh Tenggara, jadi buat apa menangkap pemakai narkoba sementara oknum-oknum disitu ikut bermain,” ujar dia.

Nah, untuk sementara dugaan Ketua LIRA Aceh Tenggara Muhammad Saleh Selian mengarah benar. Sebab, hingga Jumat, 16 April 2021, satu oknum anggota Polres Aceh Tenggara berinisial KA telah ditetapkan sebagai tersangka. Dia teman dugem DL sebelum tewas. 

Penetapan tersangka dilakukan dalam konferensi pers di Mapolres Aceh Tenggara yang dipimpin Kapolres Aceh Tenggara, AKBP Wanito Eko Sulistyo SIK, Kasat Narkoba Iptu Sabrianda dan dihadiri Kasat Reskrim, AKP Suparwanto SH di Mapolres Aceh Tenggara, Kutacane, Jumat.

Kapolres Aceh Tenggara, AKBP Wanito Eko Sulistyo SIK melalui Kasat Narkoba, Iptu Sabrianda, membenarkan seorang oknum polisidi Polres Aceh Tenggara inisial KA dari Sat Resnarkoba Polres Aceh Tenggara ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus meninggalnya DL.

Kata Kasat Narkoba, Iptu Sabrianda, diduga tersangka terlibat menggunakan narkoba jenis pil ekstasi dengan memerintahkan korban membuka mulut dan diduga memasukan pil ekstasi ke mulut korban.

Akibatnya, korban tidak sadarkan diri dan akhirnya terjatuh sehingga meninggal dunia serta mayatnya dibawa ke RSU Sahuddin Kutacane.

Menurut Kasat Narkoba, sebelumnya mereka melakukan pesta narkoba (dugem) bersama tersangka BLK di sebuah kafe di Lawe Gerger.

Korban menjemput rekan wanitanya berinisial RN dan mereka berdua dari rumah korban pergi ke arah sebuah kafe di Lawe Gerger di tengah perkebunan.

Korban mengajak RN karena ada ajakan dari tersangka untuk dugem bersama dan mereka pergi menuju Lawe Gerger.

Dalam perjalan menuju lokasi di Lawe Gerger, tersangka bersama korban dan ditemani saksi RN membeli 10 bungkus nasi goreng bersama minuman air mineral di depan RSU Sahuddin Kutacane.

Selanjutnya mereka melakukan perjalanan dan singgah di Desa Peranginan dengan membeli dua botol miras jenis anggur merah.

Lalu, mereka bergerak kembali dan melakukan pesta narkoba dengan sound system yang dibawa dan diturunkan dari mobil serta diletakkan pada satu pondok di Lawe Gerger.

Tragisnya, sebelum korban turun dari mobil jenis avanza warna silver, tersangka KA meminta korban DL untuk membuka mulut. Dan langsung memasukan pil ekstasi.

Seketika korban bereaksi dan mulai terpengaruh dengan pil tadi. Lalu, tiba-tiba terjatuh saat sedang berjoget alias dugem. Setelah diangkat tersangka, korban sudah meninggal dunia. Diduga, over dosis.

Lantas, saksi RN memanggil tersangka KA untuk segera membawa korban DL ke RSU Sahuddin Kutacane. Mereka memasukkan korban ke dalam mobil Avanza warna silver. Tapi entah mengapa, mobil yang dikemudian tersangka KA mengalami mati mesin.

Tak mau buang waktu, korban kemudian diangkat dari mobil Avanza warna silver dan dinaikan ke mobil warna hitam, lalu dibawa ke RSU Sahuddin Kutacane.

Dalam perjalanan, saksi RN yang tampak panik, memegang urat nadi korban DL, namun sudah tidak berdetak lagi. Selanjutnya korban diserahkan ke RSU Sahuddin Kutacane.

Entah merasa takut dan khawatir, saksi RN kemudian mengajak tersangka menjumpai ibu korban di Titi Panjang dan memberitahukan kepada keluarganya di Lawe Sagu.

Saksi RN juga meminta tersangka KA untuk bertanggungjawab terhadap musibah itu.

Tuntutan KA bertanggungjawab terhadap kematian DL memang pantas diajukan RN. Sebab, sebagai seorang anggota Polri, seharusnya KA memberantas dan melindungi masyarakat dari peredaran dan pengunaan narkoba.

Almarhumah DL (Foto: Ist)

Bukan sebaliknya, justeru dia menjadi penguna narkoba serta melibat masyarakat sipil seperti RN dan korban DL.

Ini sungguh perbuatan yang tak patut dan melanggar hukum, sehingga menuntut adanya sikap tegas Kapolda Aceh Irjen Pol. Wahyu Widada untuk menindaknya.

Akibat kejadian yang telah mencoreng wajah jajaran Polres Aceh Tenggara ini, polisi telah mengamankan barang bukti (BB) pakaian korban dan mobil Avanza warna silver. Selain itu mengamankan KA.

Sumber media ini di Kutacane menyebutkan. Malam naas itu, ada lima anggota polisi bersama KA. Dan KA sendiri, terancam dijerat Pasal 116 Pasal 1 dan 1, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, tentang narkoba.

Pasal 1 berbunyi; setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menggunakan narkotika golongan satu terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan satu untuk digunakan orang lain dipidana penjara paling singkat lima tahun paling lama 15 tahun.

Sedangkan pada ayat (2) menegaskan; dalam hal penggunaan narkotika terhadap orang lain atau pemberian narkotika golongan satu untuk digunakan orang lain yang mengakibatkan orang lain meninggal atau cacat permanen, maka pelaku dapat dipidana dengan pidana mati, pidana seumur hidup.***

Komentar

Loading...