Jejak TKA China di PLTU Nagan Raya (bagian satu)

Mencari Kerja Hingga Negeri Aceh

Mencari Kerja Hingga Negeri Aceh
Puluhan TKA asal China mendarat di Bandara Cut Nyak Dhien, Nagan Raya (Foto: Ist)
Rubrik

MODUSACEH.CO | Jika ada pepatah carilah ilmu hingga ke negeri China. Kini, kata bijak itu sepertinya mulai berubah. Rakyat China, carilah kerja hingga ke negeri Aceh. Ini sejalan dengan berbagai masalah yang muncul, ketika rakyat asal negeri tirai bambu masuk ke Bumi Serambi Mekah.

Simak saja, mulai soal visa kerja yang tak dan sesuai, hingga masuk melalui "jalan tikus". Jangan tanya soal jenis pekerjaan. Kabarnya, posisi untuk mereka juga pantas dilakukan tenaga kerja lokal.

Begitupun, berbagai upaya penolakan dari warga setempat, justeru tak menyurutkan perusahaan jasa tenaga kerja di China dan Indonesia, untuk terus memasok mereka ke negeri ini, termasuk Aceh. Sementara,  Pemerintah Aceh belum menunjukkan sikap tegasnya. Ada apa?

Selasa (31/3/2020) malam lalu misalnya, tujuh tenaga kerja asing (TKA) China dihadang warga Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.

Sebelumnya mereka sudah diusir duluan oleh warga di Desa Langkak, kecamatan setempat. Disebut-sebut, mereka dipulangkan kembali ke Jakarta melalui Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Kabupaten Aceh Besar.

Tapi, sebelum dipulangkan, ketujuh TKA itu sudah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kesehatan di mess ke PLTU 3-4 Nagan Raya. Hasilnya tidak ada dari mereka yang terindikasi Covid 19.

Tanggal 14 Juni 2020. Puluhan tenaga kerja asing (TKA) asal negara China yang bekerja di proyek PLTU 3 dan 4 Nagan Raya, Provinsi Aceh, dinyatakan menyalahi prosedur perizinan tinggal dan tidak sesuai dengan izin visa.

Lalu, 29 TKA yang bermasalah dan tersebar masing-masing lima orang dari PT PMG, enam orang konsultan di PT PMG serta 18 orang dari PT Tianjin ini, semuanya bekerja di proyek PLTU Nagan Raya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnakermobduk) Aceh, Iskandar Syukri membenarkan bahwa TKA asal China yang bekerja di PLTU Nagan Raya ada yang bermasalah. Tapi, lagi-lagi tak ada sikap tegas dan tindakan nyata dari Pemerintah Aceh.

Entah itu sebabnya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Aceh (DPRA) Tarmizi mendesak otoritas Imigrasi Aceh, segera melakukan tindakan tegas kepada puluhan tenaga kerja asing (TKA) yang diduga ilegal bekerja di Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3-4 Nagan Raya.

“Kita berharap semua tenaga kerja asing di Aceh harus lengkap dokumen saat bekerja, kalau tidak ada, mereka harus angkat kaki dari Aceh,” kata Tarmizi, di Meulaboh, Sabtu, 13 Juni 2020.

20200906-tka1

Ilustrasi, TKA asal China masuk ke Indonesia. (Foto: asiatoday)

Pernyataan itu ia sampaikan terkait temuan petugas pengawas dari Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Provinsi Aceh di Proyek PLTU 3-4 Nagan Raya, Aceh karena tidak memiliki dokumen resmi untuk bekerja.

Berikutnya, 29 Agustus 2020. Warga Desa Simpang Peut, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh mengusir 39 tenaga kerja asing (TKA) asal China yang baru saja datang ke wilayah itu. Awalnya, para TKA itu bakal bekerja di PLTU 3-4 Nagan Rayaasiatoday)

Pengusiran dilakukan warga setempat, karena kedatangan TKA ini tidak dikoordinasikan kepada perangkat desa maupun kecamatan. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh, Iskandar Syukri mengatakan, 39 warga China yang datang ke Nagan Raya tidak mengantongi visa kerja.

"Hanya mengantongi visa kunjungan wisata. Bukan kartu KITAS yang wajib untuk setiap TKA yang memiliki izin kerja dari Kementerian Tenaga Kerja," kata Iskandar.

Selesaikah masalah? Tidak juga. Lihat saja, Kamis, 3 September 2020. Tak sampai 1×24 jam, bahkan 37 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China tadi justeru digelandang keluar lokasi PLTU 3 dan PLTU 4 Nagan Raya. Itu dilakukan Tim Pengawas Ketenagakerjaan Kementerian Tenaga Kerja RI.

Ironisnya mereka (TKA) tersebut kembali lagi ke PLTU Nagan Raya, Aceh. Informasi yang dihimpun media ini mengungkap, tiga mobil rental dan satu mobil milik konsorsium yang membawa TKA China tersebut keluar dari lokasi PLTU 3 dan PLTU 4 pada Kamis (3/9/2020), pukul 14:10 WIB. Mereka diangkut menuju Banda Aceh.

Mereka sempat berhenti di perbatasan antara Aceh Barat-Aceh Jaya, persisnya di SPBU Suak Raya, kemudian mobil yang mereka tumpangi berjalan lagi sampai ke Alue Pit, Kecamatan Panga, Aceh Jaya.

Sampai di Alue Pit sekira pukul 17.00 WIB, rombongan TKA asal Tiongkok itu juga didatangi tiga mobil proyek milik sebuah perusahaan, para TKA itu berganti mobil ke mobil proyek, dan dibawa kembali ke arah Meulaboh.

Sementara sisa TKA lain, diangkut dengan mobil pribadi yang datang belakangan. Rombongan TKA terakhir masuk kembali ke lokasi proyek PLTU 3 dan PLTU 4 sekitar pukul 20:00 Wib, Kamis malam, sedangkan yang diangkut dengan mobil proyek masuk ke PLTU tersebut lebih awal, ungkap sumber media ini.

Mengapa sikap membandel itu terus terjadi? Menteri Ketenagkerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menyebut. Tenaga kerja asing (TKA) yang masuk ke Indonesia, termasuk di Konawe, Sulawesi Tenggara, jumlahnya mencapai 500 orang. Memang, lebih besar dari di Aceh.

Menurut Ida Fauziah, ada sejumlah alasan diizinkannya TKA China bekerja di Indonesia. Pertama, mereka akan membantu ribuan tenaga kerja lokal terserap oleh perusahaan yang membutuhkan di sana.

"Jadi tenaga kerja (TKA) yang akan datang direncanakan masuk 500 orang. Dengan mereka (TKA) bisa mengoperasikan perusahaan yang dibangun, maka akan bisa menyerap 5.000 tenaga kerja lokal, bukan 5.000 TKA," kata Ida disela-sela rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Jakarta, Rabu, 8 Juli 2020 lalu.

Kedua, sudah ada nota kesepahaman antara perusahaan dengan Pemkab Konawe untuk merekrut tenaga kerja lokal secara bertahap. TKA sebanyak 500 orang itu telah dikoordinasikan dengan Forkopimda, Pemerintah Daerah di Sulawesi Tenggara dan kabupaten/kota.

Ketiga, dia berharap banyak tenaga kerja lokal terserap di berbagai daerah di masa pandemi COVID-19 ini. Sebab, jutaan pekerja telah menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan akibat merebaknya virus Corona.

"Alasan pemerintah menyetujui masuknya TKA China tersebut karena keahliannya dibutuhkan oleh dua perusahaan yang ada di Konawe. Kita minta juga ada tenaga kerja lokal yang akan mendampingi mereka, agar terjadi transfer of knowledge. Pada akhirnya tenaga kerja lokal kita sudah bisa memahami teknologinya, maka operasional selanjutnya akan diserahkan kepada tenaga kerja lokal kita," tambahnya.

Tapi, asalan Ida tak begitu mudah diaminkan anggota Komisi IX DPR RI Intan Fitriana Fauzi. Dia mempertanyakan alasan pemerintah memperbolehkan 500 TKA China masuk ke proyek di Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

"Saya ingin bertanya sebetulnya spesifik itu apa sih, Bu? Artinya pekerjaan itu sampai kemudian harus 500 TKA dari China yang harus didatangkan dan resistensinya besar," kata dia di Ruang Rapat Komisi IX DPR RI, Jakarta, Rabu (8/7/2020).

Dia ingin mendapat penjelasan mengenai spesifikasi TKA China yang masuk ke Indonesia mulai dari pekerjaannya, waktu bekerjanya, dan jabatannya.

"Saya penasaran Bu, karena ini menyangkut nurani kita semua, spesifik pekerjaan yang dimaksud dengan pekerjaan tertentu, mungkin kalau jangka waktu tertentu dan sebagainya. Spesifik pekerjaan tertentu dan jabatan tertentu itu mohon dijawab. Terima kasih," lanjutnya.

Ida merespons hal tersebut. Dirinya tampak tak nyaman karena disinggung soal nurani berkaitan dengan diizinkannya TKA China masuk Indonesia.

"Saya kira kalau bicara nurani, saya kira kayaknya kita semua punya hal yang sama. Mohon maaf. Kalau misalnya kami mengeluarkan RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing), kiranya bukan berarti kami tidak punya nurani. Saya kira ini, pengin nangis jadinya. Kita bisa mengatasnamakan nurani dengan secara proporsional tentu saja," ujarnya.

Intan pun menjelaskan bahwa yang dia tekankan bukan soal nurani tapi spesifikasi TKA China yang dipekerjakan di Indonesia. Nah, begitulah jadinya bila dua perempuan berbicara soal nurani.

Tapi, dibalik itu semua, kenyataan di lapangan tetap saja seperti pepatah; "anjing menggonggong kafilah berlalu. TKA asal China terus masuk melaju, termasuk di Aceh.***

Komentar

Loading...