Jelang Munas Kadin Indonesia, Juni 2021 di Bali

Menakar Arus Dukungan Kadin Aceh; Terlalu Becek dan Tabiat "Politik Dua Kaki"

Menakar Arus Dukungan Kadin Aceh; Terlalu Becek dan Tabiat "Politik Dua Kaki"
Baliho Kadin Aceh dukung Anin di Simpang BPKP yang sempat terpasang tapi diturunkan kembali (Foto: Dok.MODUSACEH.CO)
Rubrik

Baliho ukuran besar dan sedang pada beberapa titik di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar itu raib seketika. Sebelumnya, dua pimpinan Kadin Aceh sumingrah dan secara terbuka menyatakan dukungan kepada Anindya Bakrie. Inikah potret “politik dua kaki” yang terus terjadi?

MODUSACEH.CO I Bisa jadi, kehadiran Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, Minggu, 16 Mei 2021 ke Aceh, untuk sementara telah mengubah keputusan Pengurus Kadin Aceh, terkait dukung mendukung calon Ketua Kadin Indonesia yang akan mengelar Munas di Bali antara Mei atau Juni 2021 mendatang di Bali.

Bahlil ke Aceh memang tak sendiri. Mantan Bendahara Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu, terbang ke Bumi Serambi Mekah dengan pesawat charter khusus dan tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar pada pukul 10.20 WIB tadi pagi. 

Baliho dukung Anin di Simpang Lima Banda Aceh (Foto: ajnn.net)

Agenda utamanya bertemu dengan Gubernur Aceh dan sejumlah pengusaha serta pimpinan perusahaan yang ada di Aceh. Tapi, ada pula terselip agenda tambahan. Ya, Bahlil juga berkunjung ke Kantor Kadin Aceh, Jalan Taman Makam Pahlawan, Peuniti, Banda Aceh. 

Entah ada kaitan atau tidak, dalam rombongan 13 orang tersebut tampak ikut serta Arsjad Rasyid, bakal calon (Balon) Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) periode berikutnya.  Itu sebabnya, kehadiran Arsjad Rasyid telah menyita perhatian sejumlah pihak. 

Maklum, dia sudah mendeklarasikan diri menjadi orang yang akan ikut bertarung dalam pemilihan Ketua Umum (Ketum) Kadin akan digelar dalam Musyawarah Nasional Kadin pada Mei atau Juni 2021 mendatang. 

Arsjad Rasyid merupakan Direktur Utama Indika Energy Tbk. Kabarnya, Arsjad Rasjid sebagai “jagoan” pada Munas Kadin mendatang dan sudah mendapat sinyal dari Istana. Asumsi ini menjadi relevan jika dikaitkan dengan posisi Bahlil saat ini.

“Tentulah, sebagai pembantu Presiden pasti Bahlil sudah berkomunikasi dengan Joko Widodo. Hanya saja, masih perlu melakukan pemetaan arus dukungan. Tapi saya yakin, Bahlil akan mampu memainkan peran tersebut," ungkap seorang Pengurus Kadin Aceh pada media ini, Selasa siang di Banda Aceh.

Yang jadi soal kemudian, Kadin Aceh rupanya sudah punya calon untuk digadang-gadang yaitu, Anindya Bakrie. Arus dukungan itu begitu nyata terlihat. Mulai dari pernyataan terbuka di media pers hingga media outdoor yaitu, baliho. 

“Kadin Provinsi Aceh Mendukung Anindya Bakrie Menjadi Ketua Umum Kadin Indonesia Periode 2021-2026,” begitu tulis baliho yang tersebar di sejumlah titik di kota Banda Aceh.

Untuk menyakinkan publik, pada baliho tadi terpasang gambar Pj Ketua Kadin Aceh Muhammad Iqbal, Anin dan Plh Ketua Kadin Aceh Muhammad Mada.

Pengakuan serupa juga disampaikan Wakil Ketua Kadin Aceh Indra Azmi. “Insya Allah Anin akan pimpin Kadin 2021-2026,” kata Indra, dalam silaturahmi Kadin se-Sumatera di Batam, Kepulauan Riau, Kamis, 18 Maret 2021 malam.

Beredar kabar, Azmi memang sengaja diutus Iqbal dan Mada ke Batam untuk menyakinkan Anin bahwa Aceh tetap dari barisan pendukung putra Abu Rizal Bakrie ini. 

Anehnya, pengakuan berbeda justeru datang dari Pelaksana Harian (Plh) Ketua Kadin Aceh Muhammad Mada, di Banda Aceh, Senin.

Dia mengaku Kadin Aceh belum menentukan sikap dukungan terhadap calon Ketua Umum Kadin Indonesia 2021-2026, baik itu ke Arsjad Rasjid maupun Anindya Bakrie. 

"Kita belum ada sikap kepada siapa, dan kita masih membuka ruang untuk semua kandidat," kata Plh Ketua Kadin Aceh Muhammad Mada.

Kata Muhammad Mada, Kadin Aceh belum bersikap karena harus masih memberikan ruang kepada kandidat lainnya, dan dalam waktu dekat ini calon ketua Anindya Bakrie juga akan berkampanye ke Aceh. 

"Kita masih tunggu kampanye dari Anindya, penilaian setelah kampanye, karena rencananya Anindya akan berkunjung ke Aceh pada 21 atau 22 Mei 2021 ini," ujarnya. 

Mada menuturkan, mereka akan ikut bersama kandidat yang bisa memberikan hasil terbaik, khususnya untuk Kadin provinsi hingga kabupaten/kota se-Indonesia. 

"Ketua Kadin ke depan harus memiliki terobosan-terobosan investasi, mampu mengembangkan dunia usaha terutama di sektor UMKM," katanya. 

Mada berharap kepada semua kandidat untuk tidak menjadikan musyawarah nasional (Munas) Kadin ini hanya sebagai ajang seremonial lima tahunan saja, tetapi bagaimana berfikir untuk memperbaiki dunia usaha. 

Munas jangan hanya jadi ajang lima tahunan, tetapi bagaimana menjalankan amanah sesuai dengan visi-misi Kadin sendiri. Harus ada terobosan yang dapat merubah iklim dunia usaha menjadi lebih baik," kata Muhammad Mada seperti diwartawakan laman antaranews.com, Senin, 17 Mei 2021.

Lantas, bagimana dengan pesan yang terpasang di baliho sebelumnya? Sekilas, memang tak ada yang salah dari strategi “jual kecap” yang disampaikan Muhammad Mada.

Namun kalau mau sedikit kritis, tentu tim pemenangan Anin maupun Arsjad bisa jadi “tak sebodoh” yang dibayangkan beberapa oknum Pengurus Kadin Aceh. Artinya, kedua kandidat tersebut tentu memiliki sumber lain yang memantau "permainan" pengurus Kadin Aceh.

“Ini memang penyakit dan tradisi lama yang selalu dimainkan para pimpinan yang minus karakter dan moralitas dalam berorganisasi pada setiap perhelatan akbar seperti Munas. Maklum, mereka memang belum terbiasa dengan dinamika setingkat nasional,” ungkap seorang Pengurus Kadin Aceh pada media ini, Selasa siang.

Hanya saja, karena alasan etika dia minta namanya tidak ditulis. “Harusnya duduk dulu dan putuskan bersama, jangan buru-buru serta prematur. Kini, berbagai kesan negatif muncul, sejalan dengan terpampangnya baliho untuk mendukung Anin,” ujar dia.

Tak hanya itu, sumber tadi menilai. Kondisi ini terjadi karena lemahnya koordinasi dan komunikasi di internal Kadin Aceh paska meninggalnya Makmur Budiman. "Saya tak menyebut soal uang receh, tapi kesan diinternal dan publik memang demikian. Malu kita dengan kawan-kawan di Kadin Pusat," ulas sumber itu.

Kedua, beberapa oknum mulai bermain sendiri. “Tentu tidak gratis dan ada sesuatu yang diharapkan dari kedua calon tersebut. Ini tradisi murahan, terlalu becek dan tidak baik bagi Kadin Aceh,” kata dia. (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...