Laporan Herry Dharmawan MEng dari Putrajaya Malaysia

Memenuhi Undangan Tun Dr Mahathir Mohamad

Memenuhi Undangan Tun Dr Mahathir Mohamad
Herry Dharmawan Bersama Mahatir Mohammad/dok pribadi
Penulis
Rubrik

SAYA berkesempatan mengunjungi negeri Jiran Malaysia. Satu setengah jam perjalanan dari Banda Aceh menuju ke Kuala Lumpur. Lalu, saya menentukan kawasan Putrajaya sebagai tujuan awal. Kawasan ini merupakan pusat pemerintahan di Malaysia.

Yang menarik, terdapat beberapa jembatan yang memiliki arsitektur bagus dan cantik untuk difoto maupun dijadikan background. Ada juga masjid yang indah, berada ditengah-tengah danau. Namun tidak banyak area wisata yang di dapat, sekitar Putrajaya mengingat, ini  adalah sebuah kompleks administrasi pemerintahan Malaysia. Maklum, semua kegiatan pemerintahan termasuk kantor kementerian dan perdana menteri, semua terpusat di tempat ini.

Cara menuju Putrajaya tidak begitu sulit. Dari bandara KLIA2, kita hanya perlu membeli tiket KLIA transit,  kemudian menggunakan KLIA transit untuk pergi ke Putrajaya. Perjalanan tidak memakan waktu begitu lama, karena KLIA transit hanya melayani rute ke Bandar Tasik Selatan (BTS) – Putrajaya & Cyberjaya – Salak Tinggi – KLIA – KLIA2. Tarif untuk sampai di Station Putrajaya adalah RM 14 untuk dewasa dan RM 6 untuk anak-anak dibawah 4 tahun. Cukup mahal memang, tetapi tampilan dan interior kereta KLIA, berbeda dengan komuter line lainnya, bayangkan kursi sudah empuk sedangkan komuter line masih menggunakan kursi fiber.

Perjalanan saya ke Putrajaya dalam rangka memenuhi  undangan dari Tun Dr Mahathir Bin Mohamad, tanggal 23 November 2016 lalu, untuk mempresentasikan sebuah ide tentang pengelolaan minyak dan gas bumi yang ada di Aceh, untuk kesejahteraan Aceh di masa datang.

Kita diketahui bahwa Aceh memiliki sumber daya alam (SDA) yang subtansial, termasuk minyak dan gas alam. Bahkan beberapa tempat di Aceh memiliki sumber cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, rakyat Aceh masih hidup dalam kondisi dibawah  garis kemiskinan dan banyak pemuda dari mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka, masih menjadi pengangguran sejak penandatanganan MOU Helsinki hingga sekarang. Nah, atas dasar persoalan tersebutlah,  saya ingin membuat suatu program, membuka kembali lapangan minyak tua dan baru secara terintegrasi, dengan menghidupkan kembali  perusahaan besar di daerah Petro dollar (Aceh Utara). Tujuan akhir memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Aceh serta membangun kehidupan ekonomi yang lebih baik.

Tun Dr Mahathir Bin Mohamad lahir di Alor Star, Kedah, Malaysia, 20 Desember 1925 ( 90 tahun). Dia dijuluki Dr. M, adalah seorang politikus Malaysia. Ia adalah Perdana Menteri Malaysia keempat, menjabat dari 16 Juli 1981 hingga 31 Oktober 2003. Di bawah kepemimpinannya, Malaysia mengalami modernisasi yang pesat dan menikmati kemakmuran di segala lapisan masyarakat.

Yayasan yang beliau pimpin sekarang lebih kepada hal kemanusiaan di seluruh penjuru dunia. Sebagai contoh, Yayasan Kepimpinan Perdana, juga terlibat dalam membantu rakyat Palestina, terutama selepas Israel menyerang Gaza.

Untuk menjalankan usaha ini, secara khusus membantu mereka yang menderita di negara-negara yang musnah akibat peperangan atau yang di sebut “Perdana Global Peace Foundation” (PGPF). Sementara itu Tun Dr Mahathir Bin Mohamad, merupakan Presiden Kehormatan Yayasan Kepemimpinan Perdana, mempersilakan siapa saja untuk mempelajari sejarah kebijakan perdana menteri yang pernah menjabat di Malaysia. Pasalnya, yayasan ini sendiri, didirikan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan informasi mengenai sejarah dan kiprah Perdana Menteri yang pernah menjabat di Malaysia.

Tun Dr Mahathir Bin Mohamad bersemangat menerima kedatangan saya walaupun dengan kondisi badan yang masih lelah, sehabis sampai dari perjalanan kemanusiaan ke Negara Sudan, sehari sebelumnya. Tun Dr Mahathir Bin Mohamad mengapresiasi dengan ide yang saya ajukan dan berharap bisa berlanjut. Namun sebelumnya, beliau berdiskusi lebih lanjut dengan pihak dari Malaysia. Walaupun dengan kondisi harga Minyak dan Gas yang sedang jatuh, Tun Dr Mahathir Bin Mohamad sangat antusias untuk dapat membantu Aceh, terutama dengan ide yang saya paparkan.

Beliau sudah dari dulu berharap Malaysia dan Aceh memiliki komunikasi dan kerjasama untuk segala bidang. Tun Dr. Mahathir sosok yang ramah dan dicintai rakyatnya. Meski lama tidak lagi menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia, karya beliau tetap diingat dan dihargai.***

  • Herry Dharmawan MEng, lahir di Bireun, Desember 1979. Alumni Master Degree (Oil and Gas di Gubkin University, Moscow, Russia), 2011. Kandidat Phd Oil and Gas di Gubkin University, Moscow, Russia 2016-2020. Lebih kurang 14 tahun bekerjasa sebagai professional Migas. Terakhir di Turkmenistan Oil and gas Field. Tinggal di Banda Aceh.

Komentar

Loading...