Jejak TKA China di PLTU Nagan Raya (selesai)

Melirik Konawe, Virtue Dragon dan “Naga Celebes”

Melirik Konawe, Virtue Dragon dan “Naga Celebes”
Smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (Foto: ekonomi.bisnis.com)
Rubrik

Berbeda dengan Aceh. Pulau Sulawesi telah menjadi "rumah" bagi sedikitnya 373 perusahaan tambang. Mereka mengeksploitasi mineral dari seluruh penjuru Celebes (nama lama Sulawesi) yang berada di daerah kepulauan besar hingga kecil dengan total luas area tambang yang besar.

MODUSACEH.CO | Tak hanya Aceh, ratusan pekerja asing asal China juga merambah Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara  (Sultra). Jumlahnya ada 500 orang yang berada di lokasi perusahaan pemurnian (smelter) di Morosi, Kabupaten Konawe, Sultra.

Namun, kehadiran mereka dengan bendera PT. Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), sempat ditolak pemerintah daerah dan DPRD Sulawesi Tenggara.

PT. Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) merupakan perusahaan berstatus Penanaman Modal Asing (PMA) yang berdiri sejak Agustus 2014. 

Perusahaan ini berkantor pusat di Jakarta dan memiliki kantor cabang di Kendari, Sulawesi Tenggara.  Induk perusahaan ini adalah De Long Nickel Co.LTD di JiangSu, China dan memiliki wilayah operasi di Konawe, Sulawesi Tenggara. 

Seperti diwartawkan Kontan, 9 Januari 2015. Perusahaan pengolahan feronikel ini menginvestasikan 5 miliar dollar AS atau Rp75 triliun untuk membangun pabrik feronikel di kawasan industri Konawe di Sulawesi Tenggara.

Selain itu, perusahaan ini juga akan membangun infrastruktur penunjang seperti pembangkit listrik dan pelabuhan sendiri. "Kami akan membangun smelter hingga 2020 dengan kapasitas total 3 juta ton feronikel per tahun. Selain itu kami juga akan bangun pembangkit listrik dan pelabuhan sendiri," ujar Andrew Zhu, President Director Virtue Dragon Nickel Industry, Jumat, (9/1/2015).

Dia menjelaskan, jumlah tersebut merupakan nilai total investasi untuk membeli 500 hektar lahan, membangun smelter pengolahan feronikel, pembangkit listrik, dan pelabuhan. Perusahaan akan membangun pembangkit listrik untuk kebutuhan investasi tahap pertama dengan kapasitas 335 megawatt.

Sementara itu, pembangkit listrik untuk investasi tahap kedua dan ketiga, masih akan dihitung dan dibangun menyusul. Perusahaan juga berencana untuk membangun pelabuhan dengan kapasitas muatan hingga 50.000 ton. 

Masih dilansir Kontan, 6 Juli 2017, saat ini Virtue Dragon hanya mengantongi perizinan untuk dua fase pembangunan industri nikel. Pertama seluas 500 hektar (ha) dengan investasi senilai 1 miliar dollar AS. Kedua, seluas 700 ha dengan investasi senilai 2,5 miliar dollar AS.

Namun, Virtue Dragon mengajukan penambahan lahan seluas 1.000 ha dengan total pengajuan izin pengelolaan lahan seluas 2.200 ha untuk dibangun Virtue Dragon Industrial Park.

Tetapi permasalahnnya, lahan yang diajukan perusahaan nikel asal China tersebut harus menggeser lahan pertanian pangan berkelanjutan. Pemerintah pun berniat berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencarikan wilayah pertanian pengganti. 

Begitupun, wabah corona mulai berdampak terhadap pengerjaan proyek smelter di tanah air. Melansir Kontan, Kamis (12/3/2020), Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot mengungkap persoalan yang dialami PT Virtue Dragon Nickel Industry di Konawe, Sulawesi Tenggara ini.

Menurut Bambang, pengerjaan konstruksi proyek pengembangan smelter stainless steel Virtue Dragon terganggu lantaran ratusan pekerja yang berasal dari China belum bisa kembali mengerjakan proyek. 

"Virtue Dragon mengembangkan pabrik baja stainless steel. Mereka terganggu karena lebih dari 300 atau 400-an pekerja belum kembali," kata Bambang dalam Coffe Morning di kantornya, Kamis, 12 Maret 2020 lalu di Jakarata.

Bambang bilang, proyek smelter yang sudah beroperasi kemungkinan tidak akan mengalami gangguan. Hanya saja, untuk proyek yang sedang konstruksi, Bambang tak menutup potensi akan terganggu karena wabah corona.  Sebab, banyak smelter yang bekerja sama dengan perusahaan China dan memakai tenaga kerja dari Negeri Tirai Bambu itu.

Memang, Pulau Sulawesi telah menjadi "rumah" bagi setidaknya 373 perusahaan tambang. Mereka mengeksploitasi mineral dari seluruh penjuru Celebes (nama lama Sulawesi). Letaknya di daerah kepulauan besar hingga kecil dengan total luas area tambang yang besar.

Sebagian besar perusahaan mengeksploitasi mineral nikel yang kaya di Sulawesi. Mineral mentah, termasuk nikel, yang dieksploitasi tak lagi dapat diekspor sejak pemerintah Indonesia melarang pada Januari 2014 dan mendorong ada pembangunan perusahaan pengolah dan pemurnian (smelter).

Hingga akhir 2019, sudah ada 11 smelter nikel beroperasi dan 25 smelter lain dalam proses pembangunan. Dua smelter nikel di antaranya tengah menjadi sorotan karena berusaha membawa masuk 500 tenaga kerja asing (TKA) asal Cina, negara episentrum pandemi COVID-19 di dunia.

Kedatangan mereka tertunda setelah ada protes keras pejabat pemerintah daerah Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan alasan Indonesia tengah dilanda virus SARS-CoV-2. Per 4 Mei, ada 64 kasus COVID-19 terkonfirmasi di Sultra. Di antaranya ada 11 kasus sembuh dan dua orang meninggal.

Perusahaan yang membawa TKA Cina itu adalah PT. Virtue Dragon Nickel Industries (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel. Keduanya berada di Kawasan Industri Konawe; satu dari lima kawasan industri di Pulau Sulawesi.

20200907-nikel1

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama DPRD sepakat menolak rencana kedatangan 500 tenaga kerja asing (TKA) asal China yang bekerja di PT VDNI (Virtue Dragon Nickel Industry), perusahaan pemurnian nikel (smelter) di Morosi, Kabupaten Konawe. (Foto: sultrasatu.id).

Sebelum berhasil mendatangkan 500 TKA, Virtue Dragon sudah lebih dahulu membawa masuk 49 TKA Tiongkok yang ditampung di Thailand lalu terbang ke Jakarta, Maret 2020 lalu. Saat masuk ke Indonesia, kondisi mereka diklaim sehat dan telah menjalani karantina selama di Thailand.

Smelter Nikel terbesar di Indonesia adalah Virtue Dragon. Ini merupakan salah satu pemain besar pasar nikel di Tiongkok yang masuk Indonesia bertepatan dengan kebijakan pemerintah melarang ekspor mineral mentah.

Perusahaan induk VDNI ada di Cina, Jiangsu Delong Nickel Industry Co. Ltd., yang menguasai 99 persen saham. Virtue Dragon bukan satu-satunya “naga” di Celebes.

Di kawasan industri Morowali, bagian tengah Sulawesi, ada pemain lain dari Tiongkok seperti Tsingshan Group, terdiri atas tiga perusahaan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS), dan PT Sulawesi Mining Investment (SMI).

Virtue Dragon memperoleh dukungan pendanaan dari ‘BUMN Cina’, China First Heavy Industry, senilai 1 miliar dolar AS yang diinvestaskan untuk membangun smelter, pembangkit listrik batubara, dan pelabuhan.

Mereka juga membangun pabrik baja nirkarat (stainless steel) dan kapasitas tambahan lain senilai 5 miliar dolar AS, seperti dikutip dari Nikkei Asian Review. Perusahaan yang disebut punya salah satu fasilitas pemurnian nikel terbesar di Indonesia itu, diresmikan pada 25 Februari 2019 oleh Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian (kini Menko Perekonomian).

Beroperasinya Virtue Dragon pada area 700 hektare, kata Airlangga, “menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil baja terbesar di dunia dengan produksi enam juta ton per tahun.”

Virtue Dragon pada akhir 2017 ditarget memproduksi 600.000 ton nickel pig iron (NPI) dengan kadar nikel 10 persen-12 persen, kata Andrew Zhu, presiden direktur VDNI, dalam sebuah wawancara dengan Nikke Asian Review pada 2016. Saat itu Zhu bilang ada sekitar 1.000 pekerja Indonesia dan 2.000-3.000 pekerja Cina dalam tahap konstruksi VDNI.

Ia mengklaim berkomitmen melatih pekerja lokal dan mengurangi secara bertahap pekerja Tiongkok. Namun, hingga tahun ini, Virtue Dragon tetap mendatangkan pekerja dari Cina, kendati dunia dilanda wabah corona.  

Setidaknya hingga Agustus 2018, ada 40 perusahaan dari 50 perusahaan yang menambang nikel di kawasan hutan Sulawesi. Nikel melimpah mengundang perusahaan Cina yang lain untuk mendirikan smelter.

PT. OSS memproduksi pemurnian nikel dan baja nirkarat dengan kapasitas tahunan mencapai 3 juta ton. Induk PT OSS adalah Hongkong Xiangyu Hansheng Co. Ltd. & Singapore Xiangyu Hansheng Pte. Ltd. PT. OSS berdiri pada Juni 2016 di area tambang sekitar 398 hektare dengan nilai investasi mencapai 2 miliar dolar AS, berdasarkan data Ditjen Pengembangan Wilayah Industri Kemenperin.

PT. OSS pernah mengumumkan kepada publik saat menyusun dokumen analisis dampak lingkungan (amdal) beralamat di Synergy Building, Budi Serpong Damai, Tangerang Selatan.  Berbeda dengan alamat yang diumumkan pada situs web resmi, kantor pusat PT OSS di Indonesia berada di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Dalam sejumlah pemberitaan, PT OSS terjerat kasus tambang ilegal tanpa mengantongi izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH). Polisi telah menindak PT OSS pada Juni 2019 dengan menyita ratusan alat berat yang menambang di kawasan hutan. Saat itu, mahasiswa dan organisasi lokal di Sultra mendesak kepada kepolisian untuk menuntaskan kasus itu. Lantas, bagaimana dengan Aceh?***

Komentar

Loading...