Breaking News

Maret 2020 sampai Juli 2021, 545 Dokter dan 445 Perawat Gugur Akibat Covid

Maret 2020 sampai Juli 2021, 545 Dokter dan 445 Perawat Gugur Akibat Covid
Proses pemakaman jenazah dokter Imai Indra oleh tim gugus tugas penanganan Covid-19 di Tempat Pekaman Umum (TPU) Desa Blang Kreung, Aceh Besar, Rabu, 2 September 2020 (Foto: SerambiNews.com)
Penulis
Rubrik
Sumber
CNN Indonesia

Jakarta I Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan layanan rumah sakit (RS) di beberapa wilayah sudah runtuh secara fungsional (functional collapse). Hal ini tercermin dari tingkat kematian dokter akibat terpapar virus corona yang sudah mencapai 545 orang dari Maret 2020 sampai Juli 2021.

"Angkanya sudah melebihi 100 persen dari jumlah kematian bulan lalu. Jadi total kematian dokter telah mencapai 545 orang," kataKetua Pelaksana Harian Mitigasi PB IDI Mahesa Paranadipa di konferensi pers virtual pada Minggu (18/7).

Dari 545 dokter yang meninggal, kata Mahesa, kematian dokter pada Juli 2021 tercatat sebagai rekor tertinggi yakni 114 orang.

Sementara berdasarkan wilayah, kematian dokter tertinggi ada di Jawa Timur sebanyak 110 orang, DKI Jakarta 83 orang, Jawa Tengah 81 orang, Jawa Barat 76 orang, Sumatera Utara 38 orang, dan sisanya di provinsi lain.

Berdasarkan jenis kelamin, dokter yang meninggal didominasi oleh laki-laki 84 persen dan sisanya perempuan. Berdasarkan spesialisasinya, mayoritas dokter yang meninggal merupakan dokter umum, diikuti dokter spesialis kandungan dan kebidanan, penyakit dalam, anak, bedah, hingga anestesi.

IDI turut mencatat data per 18 Juli 2021 ada 7.392 perawat yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan 445 perawat telah meninggal.

Selanjutnya ada satu sampai dua apoteker yang terjangkit covid-19, 223 bidan, dan 25 tenaga laboratorium yang juga terjangkit virus corona.

Ketua Tim Mitigasi PB IDI Mohammad Adib Khumaidi menambahkan functional collapse rumah sakit tak hanya dilihat dari angka kematian dokter. Hal lain yang jadi sorotan IDI adalah kurangnya pasokan obat, alat kesehatan, hingga oksigen di beberapa wilayah.

"Kondisi-kondisi ini yang saya kira functional collapse-nya sudah terjadi, tapi kita tidak bisa mengatakan secara general," ungkap

Adib mengatakan tingginya angka kematian dokter terjadi akibat lonjakan jumlah pertambahan kasus positif Covid-19 dari hari ke hari. Apalagi rekor-rekor baru terus terjadi dalam beberapa hari terakhir dengan tertinggi mencapai 56 ribu kasus Covid-19 dalam sehari.

Hal ini, kata Adib, membuat beban kerja dokter meningkat, sementara imunitas mereka melemah karena kelelahan. Bahkan, IDI mencatat ada sekitar 20 dari 86 dokter yang meninggal padahal sudah divaksin.

"Sampai sekarang masih kita update terkait masalah vaksinasinya, data komorbidnya, karena kita lihat pada Juni-Juli ini bahkan (jumlah kematian dokter) telah melebihi puncak di Januari lalu. Jadi banyak faktor yang kami analisa dengan tingginya kasus, overload kerjaan, ini semua menjadi salah satu faktor kematian," jelasnya.

Adib juga menilai potensi functional collapse terbuka karena beberapa daerah mengalami tingkat kewalahan yang tinggi. "Contoh, kondisi di Kudus, Pati, Rembang, sekarang sudah lebih baik, jauh lebih baik dari bulan sebelumnya, cuma berpindah sekarang, overload-nya di mana? Semarang," imbuhnya.

Selain itu, ia melihat potensi functional collapse juga berasal dari keterbatasan obat-obatan, alat kesehatan, hingga oksigen di beberapa wilayah. Begitu juga dengan fasilitas hingga tempat tidur di rumah sakit, di mana kini banyak pelayanan justru diberikan di tenda-tenda darurat di halaman rumah sakit.

"Kemudian masalah oksigen yang kurang dan sekarang ada laporan yang menyatakan begitu. Kemudian ada masalah obat dan alat kesehatan," terangnya.

Kendati sudah mulai functional collapse, namun Adib menilai Indonesia belum perlu 'mengimpor' dokter dari luar negeri. Yang perlu diimpor saat ini erupa obat-obatan, alat kesehatan, hingga oksigen.

"Sampai saat ini kita belum butuh dokter dari luar negeri, kita masih mampu, tinggal bagaimana pola pemberdayaannya temasuk maping kebutuhan di mana saja akan ditempatkan dan kualifikasi dan kompetensinya seperti itu. Yang kita butuhkan saat ini adalah obat, alat kesehatan, oksigen, jadi tiga hal itu yang perlu ada support dari luar, tapi untuk SDM mudah-mudahan kita masih bisa," jelasnya.***

Komentar

Loading...