Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Diduga Korupsi Dana Gampong

Mantan Geuchik dan Sekretaris Gampong Lamreh Bermalam di Sel Poltabes Banda Aceh

Mantan Geuchik dan Sekretaris Gampong Lamreh Bermalam di Sel Poltabes Banda Aceh
Mantan Geuchik dan Sekretaris Gampong Lamreh mulai bermalam di Sel Poltabes Banda Aceh (Foto: M.Yusrizal)

Banda Aceh | Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim), Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polresta Banda Aceh mengungkap dugaan tindak pidana korupsi penyelewengan Dana Desa di Gampong Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Dana tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG), Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK), serta dari dana Pendapatan Asli Gampong (PAG) yang tidak dimasukkan dalam rekening kas Gampong Lamreh dari tahun 2015-2017.

Kapolresta Banda Aceh melalui AKP Muhammad Ryan Citra Yudha, Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh mengungkap itu dalam konferensi pers, Selasa, 10 November 2020 di Banda Aceh.

Kasus tersebut berawal dari laporan masyarakat tahun 2017 lalu, terkait adanya dugaan penyalahgunaan wewenang dana Gampong Lamreh.

Lalu, pihak kepolisian berkoordinasi dengan inspektorat dan mengaudit laporan tersebut. Setelah hasil audit keluar pada 2018, polisi baru melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Tahun 2020, Satreskrim Polresta Banda Aceh mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) dengan dasar Laporan Polisi LPA/92/V tahun 2020, tanggal 13 Mei 2020 dan LPA/93/V tahun 2020 tanggal 13 Mei 2020.

Tanggal 14 Mei 2020, dilakukan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada pihak kejaksaan.

Adapun kegiatan yang ada pada APBG yaitu, kegiatan revitalisasi sumur bor Rp30 juta, pengadaan 1 unit laptop tahun 2016, Rp10.6 juta, pengadaan peralatan rumah tangga PKK tahun 2016, Rp66.6 juta lebih.

Selain itu, pencairan dana pelatihan peningkatan kapasitas aparatur gampong 2017 (Rp3 juta), pengadaan laptop jenis 2017 (Rp8 juta), kegiatan belanja kursi PKK 2017 (Rp23.1 juta lebih) serta tratak jumbo knock down plus atap 2017 (Rp3.6 juta).

Termasuk kegiatan pelatihan menjahit 2017 (Rp12.6 juta lebih),  dan dana PAG yang tidak dimasukkan dalam kas Gampong Lamreh.

Itu sebabnya, menurut hasi audit BPKP ditemukan kerugian negara Rp 232.9 juta lebih.

Dan, 5 November 2020 tersangka ditangkap pihak kepolisian dan ditahan. Mereka adalah, DM (eks Geuchik Lamreh 2013-2018) dan HS (eks Sekretaris Gampong Lamreh).

Dokumen dan barang bukti yang disita berupa kuitansi, Rencana Kerja Pembangunan Gampong (RKPG) 2016-2017, APBG, LPJ Gampong, print out rekening gampong, print out rekening Bantuan Kesejahteraan Peumakmue Gampong (BKPG). Selain itu ada surat perjanjian kontrak lainnya.

Untuk memperkuat temuan, penyidik telah memeriksa 22 saksi, dan dimintai keterangan ahli sebanyak 3 orang.

Pasal yang dikenakan yaitu Pasal 2 Junto pasal 3 junto pasal 8 UU RI Nomor 31 tahun 1999, sebagaimana telah dirubah dengan UU RI Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Modus yang dijalankan tersangka mengadakan kegiatan namun dananya fiktif (penggelembungan anggaran). Dan rata-rata hasil korupsinya dipergunakan untuk keperluan pribadi," ungkap Yudha.*

Komentar

Loading...