Kejati Aceh Mulai Sidik Dugaan Rasuah Pengadaan Lahan Rumah Guru Sabang

Mantan Camat dan Keuchik Diminta Keterangan. Siapa Menyusul?

Mantan Camat dan Keuchik Diminta Keterangan. Siapa Menyusul?
dok. MODUSACEH.CO

 

Banda Aceh | Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh Raja Nafrizal SH, merespon cepat pemberitaan adanya dugaan praktik rasuah, pengadaan dan pembebasan lahan bagi pembangunan rumah guru di Sabang pada 2012 silam. Ini dibuktikan dengan memeriksa dan meminta keterangan mantan Camat Suka Karya dan Keuchik Gampong Paya Seunara.

Kepala Humas Kejati Aceh Amir Hamzah SH membenarkan informasi ini. “Benar, tim sedang bekerja untuk ini,” kata Amir Hamzah saat dikonfirmasi MODUSACEH.CO, Selasa siang (6/12/2006) di Banda Aceh.

Menurut Amir Hamzah, sejauh ini pihaknya sedang mengumpulkan semua data yang ada serta memanggil beberapa pihak yang dinilai tahu dan bertangungjawab dengan masalah ini. “Tidak tertutup kemungkinan, dari hasil pengembangan pemeriksaan ada pihak lain yang akan diperiksa,” sebutnya. Tapi, Amir Hamzah tak menyebut siapa pihak yang akan menyusul itu. “Tentu kawan-kawan MODUSACEH.CO lebih paham dan tahu, sebab ikut membuka kasus ini,” kata Amir Hamzah.

Sekedar mengulang, bau amis kasus pembebasan lahan perumahan guru di Sabang, diduga dan disebut-sebut ikut melibatkan mantan Walikota Sabang Zulkifli Adam serta beberapa oknum anggota DPRK setempat.

Ceritanya begini, lahan itu dibeli Pemerintah Kota Sabang (kota yang dipimpin Zulkifli-red) pada 2012 silam. Nah, kabarnya, dari sinilah Zulkifli mendapat untung besar. Nilai pembebasan lahan kabarnya mencapai Rp 1,4 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota (APBK) 2012.

Sementara, seorang sumber mengatakan, tanah tersebut dibeli Zulkifli hanya senilai Rp 350 juta dari seorang warga berinisial SN pada Februari 2011 lalu. Ini sejalan dengan rencana pengalokasian dana untuk pembebasan lahan seluas sekitar satu hektar di kawasan Cot Damar, Paya Seunara, Suka Karya.

Lahan ini sejatinya untuk pembangunan sekolah menengah atas (SMA) unggul di kawasan itu. Seorang sumber media ini ketika itu mengatakan, Kepala Dinas Pendidikan Sabang (saat itu dijabat Komaruddin-red), kemudian menyampaikan pada dewan mengenai perencanaan pembangunan SMA unggul di kawasan Cot Damar, Paya Seunara, Suka Karya tak sesuai dengan tata ruang. Akibatnya, Dinas Pendidikan Sabang tak menyetujui dilakukan pembangunan. “Ini artinya, pembebasan lahan pun menjadi terkendala alias batal,” kata sumber itu.

Belakangan, anggaran tersebut kemudian digodok kembali dan diperuntukkan untuk pembebasan lahan pembangunan perumahan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Balohan, Kecamatan Suka Jaya. Ini sejalan dengan kebutuhan mendesak guru di sana demi kelancaran proses belajar-mengajar. “Anggaran tersebut masuk dalam APBK 2012,” kata sumber itu.

Sayangnya, rencana pembebasan lahan di kawasan ini tak kunjung terealisasi. “Tiba-tiba, dalam APBK-Perubahan 2012, mata anggaran untuk pembebasan lahan pembangunan rumah guru di SMP 3 Balohan dialihkan untuk pembebasan lahan di kawasan Cot Damar, Paya Seunara, Kecamatan Suka Karya,” kata sumber tersebut.

Selidik punya selidik, ternyata lahan yang dibebaskan tersebut milik Walikota Sabang, Zulkifli. “Inilah yang membuat banyak orang curiga. Awalnya, Pak Komaruddin menolak pembangunan di kawasan Cot Damar, Paya Seunara karena tak sesuai dengan tata ruang. Tapi, ujung-ujungnya, pembebasan juga dilakukan di kawasan tersebut,” lanjut sumber itu.

Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang, Abdullah Imuem, saat itu mengaku, juga ada mendengar trik dan intrik dalam proses pembebasan lahan untuk pembangunan perumahan guru tersebut.  Abdullah menyebutkan, Pemerintah Kota Sabang  awalnya memang berencana mengalokasikan dana APBK 2012 untuk pembebasan tanah seluas kurang lebih satu hektar di kawasan Cot Damar, Paya Seunara. “Ketika itu, saya masih anggota dewan. Saat membahas perencanaan itu, Pak Komaruddin mengatakan, rencana pembangunannya tak sesuai dengan tata ruang,” kata Abdullah yang ketika itu direcal dari Partai Aceh (PA). Itulah sebabnya, kata Abdullah, proses pembebasan di kawasan Cot Damar, Paya Seunara batal dilaksanakan.

Sepengetahuan Abdullah, dana tersebut akhirnya dialokasikan untuk pembebasan lahan pembangunan rumah guru SMP 3 Balohan. “Memang ada usulan mendesak dari masyarakat untuk pembangunan rumah guru SMP 3 Balohan. Sehingga, usulan tersebut dimasukkan dalam APBK Sabang 2012,” katanya.

Meski tak lagi berstatus sebagai anggota dewan, Abdullah tetap mengikuti perkembangan realisasi anggaran tersebut. Ternyata, kata Abdullah saat itu, sepengetahuannya, dalam APBK-Perubahan, tak ada alokasi untuk pembebasan lahan SMP 3 Balohan. Sebaliknya, justru untuk pembebasan lahan pembangunan rumah guru yang berada di Cot Damar, Paya Seunara, Kecamatan Suka Karya. Ini kan aneh. Artinya, ada sesuatu yang harus dicurigai soal anggaran tersebut,” ujar Abdullah.

Mengenai pembangunan rumah guru, tambah Abdullah, dirinya sangat mendukung dan setuju upaya Pemerintah Kota Sabang dalam rangka membangun daerah. “Tetapi, segala sesuatu harus sesuai perencanaan dan kebutuhan,” katanya.

Menurut Abdullah, sudah lazim kalau rumah guru itu tentu dibangun berdekatan dengan lingkungan sekolah. Ini pula dasarnya, sehingga pembebasan lahan untuk pembangunan rumah guru SPM 3 Balohan masuk dalam APBK 2012. “Tapi, realisasinya, pemerintah bukan mempermudah melainkan memberi jarak dengan alasan posisi lahan tersebut terletak di tengah-tengah. Ini kan aneh,” kata Abdullah.

Disinggung soal adanya dugaan anggota dewan “kecipratan” fee dari suksesi pembebasan tersebut, Abdullah tak berani memastikan. Namun, informasi yang ia peroleh, memang ada anggota dewan yang sempat menolak uang tersebut. “Dia khawatir, suatu saat bakal terjadi permasalahan hukum,” ungkap Abdullah. “Saya tidak tahu secara detail siapa anggota dewannya. Tetapi, yang saya tahu, orang itu menolak “amplop tebal” dari pemerintah kota.”

Ketua DPRK Sabang Tgk. Kamaruzzaman saat itu mengakui bahwa pengalihan pembebasan lahan dari Balohan ke Cot Dama, Paya Seunara telah melalui pembahasan di tingkat legislatif dan eksekutif.  “Kebetulan tempat mengajar guru-guru ini sangat jauh. Artinya, di sebelah Kecamatan Suka Karya, ada guru yang berdomisili. Kemudian, ada dari kota yang mengajar ke Keunekai, Batee Shook dan di Iboih. Sehingga, dinas terkait mengusulkan untuk melakukan pengadaan tanah beserta fisiknya.

Nah, kawasan Cot Damar, Paya Seunara ini sangat cocok. Karena dilihat dari posisi lahan tersebut berada di tengah-tengah tempat guru-guru itu mengajar,” jelas Tgk. Kamaruzzaman. Karena itu, Kamaruzzaman beranggapan, tidak ada istilah pemindahan dari Balohan ke Paya Seunara seperti isu yang berkembang saat itu. Melainkan wacana untuk mengurangi beban yang dirasakan pengajar, baik tingkat SD, SMP dan SMA. “Mudah-mudahan ini sudah benar dilaksanakan dan saya lihat juga ada bangunan fisiknya. Kita harap guru yang akan ditempatkan nanti akan lebih maksimal dalam proses belajar dan mengajar,” harap Tgk. Kamaruzzaman. Kamaruzzaman menjelaskan, anggaran pengadaan tanah untuk perumahan guru Rp 1,4 miliar lebih berasal dari APBK Sabang 2012. Sedangkan, pembangunan fisiknya pada APBK 2013.***

Komentar

Loading...