Dari Bahasa Hingga Gerakan Mata

Makna Mendalam Pidato SBY Soal Moeldoko

Makna Mendalam Pidato SBY Soal Moeldoko
Analisis gerakan mata SBY saat pidato menanggapi Moeldoko. (Screenshot video)
Penulis
Sumber
detik.com

Jakarta I Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY berpidato mengutuk acara yang diklaim sebagai KLB Demokrat yang mana menetapkan Kepala KSP Moeldoko sebagai ketua umum baru. Pidato SBY dinilai bermakna mendalam.

Analisis ini disampaikan pakar gestur Handoko Gani yang merupakan instruktur ahli deteksi kebohongan dari dunia sipil yang memiliki gelar diploma di bidangnya serta terotorisasi dalam penggunaan alat layered voice analysis (LVA). Handoko mulanya memaparkan bahasa dan gestur tertentu yang dia tangkap dari pidato SBY.

"Teks pidato ini sangat dalam maknanya secara linguistik. Bukan secara gestur saja. Antara lain penggunaan kata 'Yang Mulia' di awal, dan langsung 'Bapak Presiden Jokowi'. Di akhir, 'Yang Mulia' digunakan ketika menceritakan soal ngirim surat ke Jokowi. Langsung 'Bapak Presiden' ketika meminta keadilan hukum pada Presiden Jokowi sambil telapak tangan dan tangan menunjuk ke depan," kata Handoko Gani kepada wartawan, Minggu (7/3/2021).

"Versus penggunaan kata 'KSP Moeldoko pasti diberi sanksi oleh atasannya karena ulahnya itu', 'Pejabat pemerintahan', 'berada di lingkar dalam lembaga kepresidenan'," jelas Handoko.

Handoko menilai pidato SBY bergaya perspektif perasaan dan emosi 'saya' atau 'kita'. Handoko kemudian memerinci sejumlah gestur unik yang dia temukan dari pidato SBY.

"Namun uniknya di balik semua kata yakin dan percaya ketemu 1 gesture mata di terakhir ini. Mata menengadah ke atas yang sebetulnya bermakna masih ada ketidakyakinan dan ketidakpercayaan pada pemerintah dan presiden khususnya, di mana beliau juga mengajak para anggota untuk berperang untuk partai dalam bahasa metaforanya. Perang suci, war of necessities, just war," sebut Handoko Gani.

Gestur selanjutnya yang ditangkap Handoko Gani ialah tangan SBY menunjuk ke bawah. Dia menilai itu sebagai bentuk kekecewaan SBY kepada Moeldoko sembari mengingatkan atasan Moeldoko.

"Dan gestur nunjuk tangan ke bawah ketika berbicara tentang Indonesia. Artinya begini. Di awal SBY menunjukkan bahwa, tuh kan saya/kita benar soal gerakan kudeta ini sambil menunjukkan kekecewaan terhadap Moeldoko yang sudah diberikan jabatan dulu (hingga bawa-bawa pengampunan Allah)," jelas Handoko.

"Namun juga mencolek soal pejabat pemerintah dan atasan Moeldoko. Di akhir, menyatakan yakin/percaya pada Jokowi dan pemerintah. Tetapi gestur mata dan gestur tangan di akhir menunjukkan kekurangyakinan pada Jokowi dan pemerintah. Sambil meminta agar kader partai bersatu berjuang di bawah komando Ketum AHY dengan menggunakan metafora perang suci," sebut dia.

Kesimpulannya, Handoko Gani menyebut SBY kesal dan mungkin menyalahkan Presiden Jokowi atas tindakan Moeldoko. SBY juga dinilai amat kesal kepada Moeldoko, tapi itu hanya isu kecil menurut analisis Handoko Gani.

"Singkat kata, ada kekesalan, ketidakyakinan/kepercayaan, dan mungkin juga menyalahkan Jokowi sebagai atasan, khususnya, penegak hukum, dan pemerintah pada umumnya atas ulah KSP Moeldoko seorang pejabat pemerintah di ring dalam kepresidenan. Ya di sisi beliau pribadi, kesal karena dulu percaya dan ngangkat Moeldoko, tapi itu hanya isu kecil saja," ucapnya.

Di balik itu semua, Handoko menyoroti penggunaan khusus nama Jokowi dalam pidato SBY yang disandingkan dengan integritas. Meski SBY dinilai tak percaya kepada pemerintah, SBY juga dinilai lebih percaya kepada Jokowi untuk menyikapi KLB Demokrat.

"Terakhir, yang menarik ini adalah penggunaan khusus nama Jokowi yang dikaitkan dengan integritas. Saya ingin katakan di antara semua ketidakyakinan dan ketidakpercayaan kepada pihak-pihak tersebut, beliau lebih percaya pada Jokowi. Semoga Jokowi bisa menggerakkan jajaran pemerintahannya selaku presiden," ucap Handoko Gani.***

Komentar

Loading...