Dugaan Pungli dan Nasib Tenaga Honorer

Mahasiswa, Tenaga Kesehatan Datangi DPRK  

Mahasiswa, Tenaga Kesehatan Datangi DPRK  
Mahasiswa dari Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat Aceh (SMUR) mengelar aksi di DPRK Lhokseumawe (Foto: Din Pasee)

 

Lhokseumawe | Ternyata, kasus dugaan pungutan liar (pungli) dan pemerasan terhadap pedagang di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe, belum reda juga.

Buktinya, Senin, 2 Desember 2019, belasan mahasiswa dari SMUR Kota Lhokseumawe, melakukan aksi damai di Gedung DPKR setempat. Mereka meminta wakil rakyat untuk turun dan mengecek kondisi Pasar Inpres di Jalan Listrik, Kecamatan  Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Seperti aksi sebelumnya, para mahasiswa dari Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat Aceh (SMUR) itu, penuh semangat mengelar aksi damai sejak pukul 11.00 WIB hingga selesai. Berorasi dengan suara lantang, meminta anggota legislatif dan eksekutif untuk dan melihat kondisi pasar.

Mereka memaparkan kondisi karut marut hingga dugaan pemerasan dan pungli terhadap pedagang. Itu sebabnya, mereka menilai kondisi preman yang merajalela di pasar itu telah meresahkan pedagang. 

“Ini terjadi lantaran Kadisperindagkop Lhokseumawe Ramli tidak becus atau tidak mampu menjalankan tugasnya untuk mendongkrak ekonomi pedagang,” kata Ketua SMUR Aceh Riski Rahmatullah Sinabung dalam orasinya.

Karena itulah, mereka melakukan aksi damai mahasiswa, menagih janji Kadisperindagkop Lhokseumawe Ramli, yang akan melakukan pendataan ulang kondisi pasar.

Kenyataannya, Ramli belum juga melunasi janjinya dan masih membiarkan kondisi pasar tidak terkendali. Padahal, untuk pendataan pasar sudah sesuai dengan qanun retribusi pasar Kota Lhokseumawe.

Selain itu, mahasiswa juga meminta DPRK mengawasi agar kasus indikasi penggelapan dana puluhan juta di di Pasar Inpres segera diusut tuntas. "Kami mendesak anggota dewan mengontrol dan mengawasinya dengan turun ke lokasi untuk memantau," teriaknya.

Aksi damai ini direspon Wakil Ketua DPRK T. Sofianus. Dia mendengar dan mencoba memenuhi segala tuntut mahasiswa tadi.

Setelah didesak, T. Sofianus memenuhi permintaan mahasiswa untuk turun ke pasar bersama. Hasilnya, hingga pada pukul 14.00 WIB, mahasiswa membawa T. Sofianus menyambangi kondisi pedagang Pasar Inpres Jalan Listrik.

Sebelumnya, pedagang dan SMUR menyurati Kapolda Aceh terkait kasus indikasi pemerasan dan pungli di Pasar Inpres, yang dianggap selesai dan dihentikan penyelidikannya oleh penyidik Polres Lhokseumawe. Alasannya, karena tidak cukup bukti.

Akibatnya, mahasiswa merasa tidak mendapatkan keadilan, lalu melakukan aksi damai dan berdelegasi ke Kantor Walikota Lhokseumawe serta Gedung DPRK Lhokseumawe.

20191202-honor

Tenaga Honorer Kesehatan (K-3) berdegelasi ke DPRK (Foto: Din Pasee)

Masih di hari yang sama. Ada 31 tenaga honorer Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lhokseumawe golongan K-3, juga berdelegasi ke Gedung DPRK Lhokseumawe.

Kedatangan mereka, juga disambut T. Sofianus di ruang kerja dewan setempat.

Puluhan tenaga honorer ini kompak berunjuk rasa dan meminta wakil rakyat memperjuangkan status mereka (golongan K-3), untuk  diangkat menjadi PNS.

T. Sofianus mengaku telah mendengar permintaan tenaga honorer K-3 yang ingin diangkat jadi PNS. Namun, untuk mencari solusi, dia berjanji akan memanggil pihak Dinkes Lhokseumawe untuk dipertemukan dengan para tenaga honorer.

"Kami akan panggil pihak Dinkes dan mempertemukan dengan tenaga honorer agar bisa duduk bersama, mencari jalan keluar, " tegasnya.***

Komentar

Loading...