Breaking News

Di Balik Aksi Terkait Dugaan Pengancaman Wartawan

Mahasiswa Menduga Ada Sesuatu yang Disembunyikan

Mahasiswa Menduga Ada Sesuatu yang Disembunyikan
Penulis
Rubrik

Meulaboh | Orasi bergiliran itu berlangsung di depan pintu masuk Mapolres Aceh Barat, Jalan Swadaya, Meulaboh, Rabu (29/01/2020).

Massa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Teuku Umar (FISIP UTU), ini tiba di Mapolres Aceh Barat sekira Pukul 11.00 WIB.

Setibanya di sana, mahasiswa yang dipimpin Hidayatullah (koordinator aksi), menyuarakan penegakan hukum.

Massa berjumlah puluhan tersebut,  mendesak Polres Aceh Barat mengusut tuntas kasus dugaan pengancaman dan intimidasi terhadap jurnalis Aceh Barat.

Mereka juga menyuarakan pada polisi, agar menjerat pelaku dengan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. "Bukan  dengan KUHP pasal 335," tegas mahasiswa tadi.

Bukan hanya itu, massa juga mendesak Polres Aceh Barat untuk bersikap profesional dan netral dalam mengusut kasus tersebut.

Kasat Reskrim Aceh Barat Muhammad Isral mengatakan, terkait kasus Aidil Firmansyah sudah tahap penyidikan. Karena itu, Kasat Reskrim meminta mahasiswa untuk bersabar.

"Saya jelaskan proses permasalahan korban Aidil masih proses tahap penyidikan, jadi rakan-rakan sekalian bersabar dalam proses ini. Disini kami sangkakan Pasal 335 ayat (1) tidak menggunakan Undang-Undang Pers. Apabila dari Kejaksaan unsur itu terpenuhi kita tindak lanjuti nanti," kata Kasat Reskrim Polres Aceh Barat.

Lalu usai aksi mahasiswa tadi, mereka mengaku kecewa pada Polres Aceh Barat. Dan, menduga dalam kasus dugaan pengancaman wartawan di Aceh Barat, ada sesuatu yang disembunyikan.

"Kami rasa ada sesuatu yang disembunyikan dari kami mahasiswa," kata Hidayatullah.

Perwakilan massa tersebut mengaku tanggapan yang disampaikan Kasat Reskrim Polres Aceh Barat Muhammad Isral, dinilai sangat bertele-tele. "Kami rasa ada hal yang disembunyikan dari publik," tambah Egi Saputra.

Egi berlasan, aksi yang dilakukan mereka karena menilai pengusutan dugaan pengancaman terhadap jurnalis, bertele-tele dan aksi itu juga merupan lanjutan dari aksi-aksi sebelumnya-dilakukan massa lain.

"Harapan kami di kasus ini harus diusut secara tuntas. Karena jika tidak, kita bisa yakinkan ke depan wartawan tidak bebas lagi menyampaikan informasi pada masyarakat," ujar Egi.

Sekretaris Jenderal Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) Oges, menilai bahwa polisi tidak memasukan surat Dewan Pers. Padahal surat tersebut sebagai bukti pendukung.

"Surat Dewan Pers yang dilayangkan kepada Kepolisian, itu tidak dimasukan sebagai BB untuk memperkuat kasus tersebut," sebut Oges.***

Komentar

Loading...