Aksi Damai Anti Kekerasan Terhadap Wartawan

Lintas Organisasi Wartawan Pase Minta Kapolda Aceh Gunakan UU Pers Jerat Tersangka

Lintas Organisasi Wartawan Pase Minta Kapolda Aceh Gunakan UU Pers Jerat Tersangka
Aksi demo Lintas organisasi profesi wartawan di Wilayah Pase di Lhokseumawe dan Aceh Utara (Foto: Ist)

Lhokseumawe | Lintas organisasi profesi wartawan di Wilayah Pase (Lhokseumawe dan Aceh Utara), menggelar aksi damai di depan Taman Riyadhah Kota Lhokseumawe, Rabu, 15 Januari 2020.

Aksi tersebut terkait peristiwa pengancaman yang dialami Aidil Firmansyah, wartawan Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH Aceh dan media daring MODUSACEH.CO di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Minggu, 5 Januari 2020 dini hari. 

Diduga, Aidil diancam bunuh dengan menggunakan senjata api oleh Akrim, Direktur PT Tuah Akfi Utama, karena terkait  berita perusahaan itu yang tayang di MODUSACEH.CO beberapa jam sebelum pengancaman.

Kasus pengancaman ini sedang ditangani penyidik Polres Aceh Barat setelah korban melaporkan kejadian yang dialaminya.

20200115-aksi2

Polisi juga tidak menahan tersangka dan hanya menjerat dengan Pasal 335 KUHPidana, tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Ironisnya, tersangka tidak dijerat dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 1999, tentang Pers. Padahal, pengancaman itu terjadi terkait pemberitaan yang tayang MODUSACEH.CO.

“Dalam menjalankan profesinya wartawan dilindungi UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers yang berlaku khusus. Mengancam bunuh wartawan, merupakan tindakan membungkam kemerdekaan pers sebagaimana diatur pada Pasal 4 UU Pers, dan bagian dari upaya menghalang-halangi tugas jurnalistik seperti diatur pada Pasal 18 ayat (1),” teriak sejumlah peserta aksi.

Itu sebabnya, mereka meminta penyidik Polres Aceh Barat, menjerat tersangka dengan UU Pers yang berlaku khusus dan di-juncto-kan dengan KUHPidana.

“Selain itu, karena UU khusus dapat mengenyampingkan UU Umum (KUHP), maka penanganan perkara ini harus dilakukan bidang pidana khusus (pidsus), bukan pidana umum (Pidum),” kata peserta aksi secara bergantian.

Dalam aksi tersebut, para wartawan tergabung dalam IJTI, AJI, PWI dan PWA juga meminta Kepolisian mengusut tuntas kasus pembakaran rumah Asnawi Luwi, wartawan Serambi Indonesia di Desa Lawe Loning, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara, Selasa, 30 Juli 2019, pukul 01.30 WIB dini hari.

20200115-aksi3

“Terkait dua kasus tersebut (pengancaman dialami Aidil Firmansyah, dan pembakaran rumah Asnawi Luwi, wartawan Serambi Indonesia), para wartawan dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda Aceh, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Utara-Lhokseumawe, dan Persatuan Wartawan Aceh (PWA) menyatakan sikap.

Pertama, meminta Kapolri dan Kapolda Aceh untuk mengawal penyidikan kasus pengancaman dialami Aidil Firmansyah, wartawan MODUSACEH.CO.

Kedua, meminta Kapolda Aceh memerintahkan penyidik Polres Aceh Barat agar menjerat tersangka dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, karena pengancaman tersebut berkaitan dengan pemberitaan.

Ketiga, meminta Kapolda Aceh memerintahkan penyidik Polres Aceh Barat mengalihkan penanganan kasus ini, dari pidana umum ke bidang pidana khusus, sesuai UU Pers yang berlaku khusus.

Keempat, meminta Kapolda Aceh agar penyidik Polda Aceh mengambil alih penangan kasus ini apabila penyidik Polres Aceh Barat tidak menjerat tersangka dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Kelima, meminta Kejaksaan Tinggi Aceh dan Kejari Aceh Barat, tidak menerima berkas perkara dari kepolisian apabila penyidik tidak menjerat tersangka dengan UU Pers.

Keenam, meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus pembakaran rumah Asnawi Luwi, wartawan Serambi Indonesia di Aceh Tenggara, dan segera menangkap pelaku/tersangkanya.

Ketujuh, meminta semua pihak untuk menghormati kerja-kerja wartawan, dan menempuh cara-cara sebagaimana diatur dalam UU Pers apabila merasa dirugikan atas pemberitaan media massa.***

Komentar

Loading...