Kulat Jempung di Sekitar Penguasa dan Kekuasaan

Kulat Jempung di Sekitar Penguasa dan Kekuasaan
Foto: Ilustrasi. Dok. MODUSACEH.CO
Penulis
Sumber
Muhammad Saleh, Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

MODUSACEH.CO | Ada sejumlah kulat atau jamur yang dikenal di Aceh atau daerah lain di Indonesia.

Mulai dari Kulat Jempung atau Jamur Merang yang tumbuh pada sekam padi, usai panen raya hingga Kulat Ek Leumo, yang tumbuh di atas kotoran sapi atau kerbau.

Bedanya, Kulat Jempung bisa dikonsumsi dan dimasak dengan cara khusus, sehingga menghasilkan cita rasa yang nikmat.

20191020-jubir-pa

H.Muhammad Saleh, Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO (Foto: Dok. MODUSACEH.CO)

Sebaliknya, jika gagal, maka malapetaka yang datang.

Kulat Jempung atau Jamur Merang, bisa beracun dan mematikan.

Sementara Kulat Ek Leumo (Jamur Kotoran Sapi), jelas-jelas beracun. Namun, bukan berarti tak digunakan.

Syahdan, para pengguna narkoba mulai memilih jamur tahi sapi ini, karena mengandung psilosibina dan psilosina yang termasuk dalam narkotika golongan I.

Setiap pemakai atau pengunanya akan mengalami efek samping berupa; euforia dan kesedihan yang berlebihan pada indra perasa.

Terutama kulit dan lidah akan menjadi lebih sensitif.

Dan, bila dikonsumsi berlebihan bisa menyebabkan kematian.

Sebab, Jamur Tahi Sapi tumbuh dan hidup di atas permukaan kotoran hewan, seperti sapi, kerbau, banteng dan lain-lain.

Jamur ini dapat tumbuh subur pada iklim manapun, baik di pegunungan maupun di pinggir pantai. Bisa disebut hidup dalam iklim apa saja.

Lantas, bagaimana dengan Jamur Merang (volvariella vovacea). Ini adalah salah satu spesies jamur pangan Asia Timur dan Asia Tenggara yang beriklim tropis atau subtropics.

Jamur ini disebut dengan “jamur merang” karena umumnya ditanam di media merang (sekam padi), yang banyak dibudidayakan.

Sesuai nama ilmiahnya volvariella volvacea,  jamur ini memiliki volva atau cawan berwarna cokelat muda, yang awalnya merupakan selubung pembungkus tubuh buah saat masih stadia telur (masih muda).

Tubuh buah yang masih muda berbentuk bulat telur, berwarna cokelat gelap hingga abu-abu dan dilindungi selubung.

Pada tubuh buah jamur merang dewasa, tudung berkembang seperti cawan berwarna coklat tua keabu-abuan dengan bagian batang berwarna coklat muda.

Kulat Jempung atau Jamur Merang, dijual untuk keperluan konsumsi adalah tubuh buah yang masih muda dan tudungnya belum berkembang.

Jamur Merang dapat dibudidayakan dalam bangunan yang disebut kumbung. Sesuai namanya, jamur ini tumbuh baik pada media merang dan jerami yang telah terkomposkan.

Namun praktik budidaya lebih lanjut juga mendapati jamur ini tumbuh baik pada kompos sampah kertas, tandan kosong sawit, kompos batang pisang dan kompos bio massa pada umumnya.

Menurut penelitian, limbah kapas adalah media yang memberikan hasil produksi dan pertumbuhan yang terbaik bagi jamur merang.

Jamur merang dikenal sebagai warm mushroom, hidup dan mampu bertahan pada suhu yang relatif tinggi, antara 30-38 °C dengan suhu optimum pada 35 °C.

Jamur ini mempunyai nilai gizi tinggi terutama kandungan proteinnya (15-20 persen berat keringnya).

Daya cernanya pun tinggi (34-89 persen). Sifat nutrisi (kelengkapan asam amino) yang dimiliki jamur ini lebih menentukan mutu gizinya.

Jamur segar umumnya mengandung 85-89 persen air. Kandungan lemak cukup rendah antara 1,08-9.4 persen (berat kering) terdiri dari asam lemak bebas mono ditriglieserida, sterol,  dan phoshpolipida.

Karbohidrat terbesar dalam bentuk heksosan dan pentosan polimer karbohidrat dapat berupa glikogen,  khitin dan sebuah polimer N-asetil glikosamin yang merupakan komponen struktural sel jamur.

Khitin merupakan unsur utama serat jamur titam putih.

Jamur juga merupakan sumber vitamin antara lain thiamin, niacin, biotin dan asam askorbat.

Vitamin A dan D jarang ditemukan pada jamur.  Namun dalam jamur tiram putih terdapat ergosterol yang merupakan prekursor vitamin D.

Jamur umumnya kaya akan mineral terutama phosphor, mineral lain yang dikandung di antaranya kalsium dan zat besi.

Begitupun, lepas dari semua itu, Kulat Jempung atau Jamur Merang, tumbuh sesuai musim.

Dia akan tumbuh satu atau dua kali setahun.

Ini sesuai dengan musim panen padi. Setelah itu, ia pun lenyap bersama alam.

Dalam realitas politik, juga ada sosok atau kelompok Kulat Jempung (Jamur Merang) dan Kulat Ek Leumo (Jamur Kotoran Sapi).

Mereka hidup dan tumbuh di sekitar pemimpin atau kekuasaan di Aceh. Baik di sekitar Plt Gubernur Aceh maupun para Bupati dan Walikota di Aceh.

Karena itu dapat dipastikan, setiap pergantian kepemimpinan daerah. Seperti layaknya musim panen padi, Kulat Jempung akan tumbuh dan bersemi.

Tapi awas, kehadiran Kulat Jempung tak selalu memberi rasa aman bagi penguasa dan kekuasaan.

Mereka bisa berasal dari keluarga dekat atau tim sukses. Bahkan, kalangan politisi dan pengusaha culas!

Maklum, dibalik warna dan bentuknya yang mengoda, sesungguhnya membawa dan mengandung racun yang fatal bagi kehidupan dan kekuasaan.

Itu sebabnya, tidak sedikit kepala daerah di Aceh atau daerah lain di negeri ini, yang terpaksa turun dari kursi kekuasaan, karena terjerat kasus korupsi.

Atau mengalami pecah kongsi di paruh kedua, kepemimpinan mereka.

Ambol contoh, Irwandi Yusuf dan Abdullah Puteh, mantan Gubernur Aceh ini, terpaksa berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), akibat ulah Kulat Jempung atau Jamur Merang di sekelilingnya.

Termasuk yang kini sedang terjadi di Aceh Besar. Perseteruan antara Bupati versus Wakil Bupati.

Diduga, penyebab utamanya karena Kulat Jempung yang berada di sekitar Bupati Mawardi Ali.

Tragisnya, ibarat musin panen, begitu kekuasaan terhenti atau hilang, maka Kulat Jempung itu pun menghilang atau pergi dari jerami yang telah menghidupkannya.

Nasib yang kini dialami Irwandi Yusuf, setidaknya dapat menjadi contoh.

Sementara Kulat Ek Leumo (Jamur Kotoran Sapi), sesuai kodratnya memang berasal dari kotoran.

Dan, dia pun siap mengotori lingkaran kekuasaan dan penguasa dengan “racun” yang dimilikinya. Jadi, waspadalah!

Komentar

Loading...