Terkait Terjemahan Rasial Frasa Frasa Kata Bahasa Aceh

Koalisi NGO HAM Aceh Somasi Google

Koalisi NGO HAM Aceh Somasi Google
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Koalisi NGO Hak Asasi Manusia (HAM) Aceh, memberikan surat peringatan (somasi) kepada Pimpinan Kantor Pusat Google, LLC beserta Pimpinan Kantor Perwakilan Google di Indonesia.

Ini terkait permasalahan dan kejadian melalui fitur Google Translate yang di anggap telah melakukan resilisasi penerjemahan prasa-prasa kata dalam Bahasa Aceh.

Direktur Eksekutif NGO Ham Aceh, Zulfikar Muhammad saat temu pers di satu kafe, Banda Aceh, 21 Oktober 2019 menceritakan. Pihaknya menerima laporan dari Haekal Afifa, seorang warga Aceh.

Dia melayangkan surat terbuka untuk Google Indonesia atas keberatannya terhadap layanan Google Terjemahan yang menampilkan frasa bernada rasis ketika menampilkan opsi terjemahan dari Bahasa Jawa dan Melayu ke Bahasa Indonesia.

Keberatan itu disampaikan, setelah Haikal coba mengakses Google Terjemahan dan menuliskan sebuah kalimat 'Suku Aceh'.

Haikal memilih opsi untuk menerjemahkan kalimat tersebut dari Bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Nah, terjemahan Google, 'Suku Aceh' diartikan sebagai 'Suku yang Sakit'.

Selain itu, Haikal juga menemukan Prasa kata Bahasa Aceh yang mengandung arti radikal lainnya.

"Pelapor Haikal menemukan adanya keadaan atau kejadian dalam fitur Terjemahan Google yang dinilai mengandung diskriminasi rasial, penyebaran kebencian terhadap suku Aceh dan Melayu. Perusakan tatanan bahasa daerah dan keresahan publik dan membuka ruang konflik horizontal atas keberagaman suku di Indonesia", jelas Direktur NGO HAM Aceh itu.

Melalui Forum Masyarakat Melayu Aceh, Haikal mengirim surat terbuka kepada Google Perwakilan Indonesia dengan membuat tembusan kepada Kantor Pusat Google, LLC.

Selanjutnya, laporan Haikal Afifa di terima Google Indonesia. Lalu, Google memberikan tanggapan terhadap surat yang dikirimkan melalui pesan elektronik yang diterima,tanggal 18 Oktober 2019, Pukul 13.46 WIB.

Isinya, pihak Google Indonesia mengakui terjadi kesalahan dalam sistem layanan Google Translate dan meminta maaf. Kedua, Pihak Google Indonesia menyatakan tidak memiliki wewenang luas untuk menindaklanjuti laporan ini.

Ketiga, Google Indonesia meminta agar dilakukan komplain langsung ke Google LLC dengan menggunakan tautan yang mereka kirimkan.

Namun, atas tanggapan tersebut, Koalisi NGO Hak Asasi Manusia (HAM) Aceh merasa Google Indonesia tidak menggambarkan penyelesaian hukum yang signifikan dan menganggap sebagai bentuk i’tikad tidak baik Google.

Melalui perwakilannya di Indonesia, juga dinilai tidak berupaya melesaikan permasalahan tersebut sampai tuntas.

Sebab itu, melalui surat peringatan (somasi) atas nama Rakyat Aceh-Melayu di Indonesia dan berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia dan Internasional, menuntut Google untuk.

Pertama, membuka, melacak dan memberikan data kontributor pembuat terjemahan yang mengandung diskriminasi rasial dan menyebar kebencian yang merendahkan harkat dan martabat suatu suku di Indonesia, agar dapat diselesaikan secara hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kedua, meminta pihak Google baik Kantor Pusat Google, LLC maupun Kantor Perwakilan Google di Indonesia, meminta maaf secara terbuka dan resmi melalui media massa (cetak, elektronik dan daring) di 34 (tiga puluh empat) provinsi di Indonesia.

Ketiga, memberikan jaminan dan memastikan untuk tidak lagi terulang kejadian yang serupa dalam layanan Google Translate khususnya terhadap masyarakat Aceh, Melayu dan kepada bangsa-bangsa lain di dunia pada umumnya.***

Komentar

Loading...