Kisah Pilu Nek Da Bit, Penghuni Pos Jaga Gampong Kaye Kunyet

Kisah Pilu Nek Da Bit, Penghuni Pos Jaga Gampong Kaye Kunyet
Penulis
Rubrik

Aceh Besar | Kisah pilu warga miskin kembali terlihat di Kabupaten Aceh Besar. Kali ini, seorang nenek sebatangkara, namanyaNek Da Bit (60). Dia warga Gampong Kayee Kunyet, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar.

Kisahnya memang menyayat hati. Lihatlah, lansia ini tak ada rumah sehingga mengharuskannya tinggal di bekas pos gampong.

Senin, 23 September 2019, wartawan MODUSACEH.O, menelusuri kediaman Nek Da Bit. Mirisnya, pos gampong yang ditinggali Nek Da Bit tak layak huni. Terlihat seperti sebuah gubuk.

Tak hanya ukuran yang sempit, bangunan panggung itu juga jauh dari kata layak. Ukurannya kurang lebih hanya 3 meter x 5 meter.

Kondisi seadanya, hanya kain-kain lusuh dan karpet bekas dijadikan sebagai dinding. Kain-kain lusuh itu tak terhubung satu sama lain. Bisa dibayangkan, jika ada angin kencang kain, itu pun bisa beterbangan.

Parahnya, kondisi atap terbuat dari daun kelapa juga telihat berlubang. Sesekali sinar matahari masuk dari lubang atap.

Mirisnya lagi, jika menengok ke dalam. Kelambu berwarna pink terlihat menjuntai terikat, ember yang berisi pakaian, buah kelapa, dan beberapa kardus bertumpukan, menambah suasana carut marut gubuk itu.

Sanking sempitnya, sampai tak ada dapur maupun meja dan kursi. Bahkan karena berantakannya, tercium bau apek di sekitarnya.

Pemandangan miris kediaman Nek Da Bit sangat jauh berbeda dengan beberapa rumah di sekitarnya yang terlihat kokoh dan bagus.

“Setelah lebaran saya tinggal di sini. Rumah dulu roboh ditiup angin sehingga saya tinggal di pos gampong,” cerita Nek Da Bit saat dijumpai wartawan ini.

Rumah Nek Da Bit yang roboh diterpa angin.

Nek Da Bit mengaku tinggal sebatangkara dan tidak bekerja. Kebutuhan hidupnya sehari-hari didapatkan dari belas kasihan masyarakat gampong Kayee Kunyet. “Nggak ada lagi keluarga. Makan dikasih tetangga,” kata lansia itu.

Jika cuaca hujan, Nek Da Bit terpaksa kehujanan dan kedinginan. “Hana le rumoeh. Cit ka meuno kondisi loen (Nggak ada lagi rumah, udah seperti ini kondisi saya),” jelas dia dengan logat kental Bahasa Aceh Besar. 

Pertemuan dengan Nek Da Bit, ternyata membuat warga kampong berdatangan. Salah satunya, Wardinah (60) yang tinggal tidak jauh dari lokasi pos yang ditinggali Nek Da Bit.

Kepada wartawan media ini, dia curhat dan turut prihatin dengan kondisi Nek Da Bit. Namun, karena kondisi keluarga yang juga tidak berkecukupan, dia hanya membantu seadanya saja.

“Kami warga di sini sangat prihatin. Ibu itu sudah tua, tak ada yang urus. Dari kami hanya bisa bantu kasih makan tiga kali sehari, itupun seadanya,” kata Wardinah sambil membawa sepiring nasi untuk Nek Da Bit.

Dulunya, Nek Da Bit tinggal di samping rumahnya. Karena bencana angin beberapa waktu lalu, rumah Nek Da Bit rubuh. “Dulu waktu puasa dia jatuh dari rumah, karena sakit. Terguling, kami ambil dan kemudian mandikan. Makanya sekarang pindah ke pos,” ungkap ibu itu.

Bantuan fakir miskin sering didapat Nek Da Bit, namun tidak setiap hari. “Sebenarnya Nek Da Bit kalau pun ada yang kasih bantuan, cukup dengan membuat rumah panggung dari tiplek. Karena ngak punya tanah, jadi ngak ada yang harus secara permanen. Bisa dibangun ditanah kami,” kata Wardinah.

Sementara saat media ini mendatangi rumah Keuchik (pimpinan desa) setempat, yang juga berdampingan dengan Kantor Keuchik gampong tersebut sedang kosong. "Lagi ada acara," kata warga sekitar.***

Komentar

Loading...