Terkait Wacana Qanun Poligami di Aceh

Ketua MPU Aceh, Tgk. H. Muslim Ibrahim: Poligami Lebih Baik dari Nikah Siri!

Ketua MPU Aceh, Tgk. H. Muslim Ibrahim: Poligami Lebih Baik dari Nikah Siri!
Ketua MPU Aceh Prof. Dr.Tgk.H. Muslim Ibrahim M.A
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama  (MPU) Aceh, Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim M.A berpendapat. Seorang suami apabila melakukan poligami lebih baik, dibandingkan nikah siri atau berzina. Karena itu, dia menghimbau kepada istri atau perempuan untuk melihat secara mendalam permasalahan yang terjadi dalam kehidupan ini.

Pendapat itu disampaikan, Senin (8/7/2019), terkait rencana Pemerintah Aceh melegalkan poligami dalam Rancangan Qanun (Raqan) hukum keluarga yang diajukan Komisi VII DPRA. Rencanannya Raqan ini akan disahkan menjadi Qanun Aceh September 2019. Namun, rencana ini masih menuai pro dan kontra di masyarakat, khususnya kaum perempuan.

“Kehidupan di dunia pasti ada problem atau masalah. Lihat dulu secara jeli. Dalam Islam poligami itu disunnnahkan, tak mungkin Allah SWT mensyariatkan sesuatu yang berefek buruk bagi kehidupan. Rugi Allah membenarkan itu, jika tidak ada rahasia yang terkandung untuk  menyelesaikan masalah,” ungkap Tgk. Muslim Ibrahim.

Guru besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh atau yang akrab disapa Abu ini menjelaskan. Nikah siri sangat jelek jika dibandingkan dengan poligami. “Maka jangan kita biarkan suami nikah siri. Di satu sisi, si perempuan yang disirikan statusnya akan hancur jika suaminya suatu saat meninggal dunia, karena harta bisa saja tidak dia dapatkan atau sebaliknya. Tidak ada pengakuan terhadap anak yang dikandung si istri tersebut,” jelas Abu.

Abu menerangkan, terdapat hadist yang menjelaskan, di akhir zaman nanti ada satu laki-laki seimbang dengan 50 wanita. “Itu menjelang kiamat. Seandainya satu orang laki-laki hanya kawin dengan satu orang wanita saja, bagaimana nasib wanita lainnya yang  hidup bertahun-tahun tapi tidak pernah merasakan berkeluarga, sedih juga kan? Karena itu, poligami jalan terkurang ruginya untuk perempuan,” ujar Abu.

Ketua MPU itu menjelaskan, dalam Al-quran Allah AWT berfirman yang artinya, “apabila Anda khawatir tentang pembahagian dan pemeliharaan anak yatim, maka bolehlah Anda berpoligami dengan syarat kawin 1, 2, 3, 4 istri. Tapi, apabila ada kekhawatiran tidak dapat berlaku adil terhadap mereka, maka cukuplah satu orang. Dan, apabila masih takut juga maka beristrikanlah hamba sahaya".

“Dari firman Allah tersebut dapat diartikan, pertama ada hal-hal yang memerlukan atau hajat untuk membolehkan kita kawin. Kemudahan ini dikaitkan oleh keadilan. Apabila dikhawatirkan tidak dapat berlaku adil, cukup satu orang. Malah kalau ada kekhawatiran, tidak mampu memberi nafkah kawinlah hamba sahaya (pada masa Rasulullah).  Apabila khawatir tidak bisa berlaku adil cukup satu orang,” ungkapnya.

Selain itu, Abu mencontohkan di Maroko. Seorang suami mau poligami harus mengajukan dulu permohonan ke Mahkamah Syariah. “Mahkamah mencatat baik-baik dan dicek dulu hartanya berapa. Apabila ternyata memang sanggup. Maka laki-laki tersebut diperbolehkan berpoligami. Jika belum maka harus mencari nafkah yang cukup dulu. Misal, per bulan nafkah untuk seorang istri tiga juta. Anak dua orang berarti harus menanggung enam juta. Jika ada istri dua maka, harus memberi nafkah 12 juta per bulan. Apalagi jika punya anak dan sebagainya,” jelas Abu.

“Itu keadilan dari sisi nafkah atau finansial. Ada lagi lainnya. Malah sebagian ulama menyebutkan adil bukan hanya pada uang atau finansial. Tapi  harus juga berlaku adil saat kunjungan terhadap istri. Sampai harus adil menyebut nama-nama istri per hari.  Sampai disitulah harus berlaku adil mengingat nama-nama istri. Jika tidak sanggup maka urungkan dulu niat itu,” ucap Abu sambil tersenyum.***

Komentar

Loading...