Breaking News

Terkait Investasi di Aceh

Ketua DPD REI Aceh, Muhammad Noval: Investor Masuk ke Aceh, Jika Iklim Usaha Kondusif

Ketua DPD REI Aceh, Muhammad Noval: Investor Masuk ke Aceh, Jika Iklim Usaha Kondusif
Penulis
Rubrik
Sumber
Laporan Mirna Gustina

Banda Aceh | Pemerintah Aceh, harus sangat serius menangani persoalan investasi di Aceh, terutama masalah energi listrik. Karena, kurangnya energi listrik akan menghambat dan menjadi pertimbangan yang matang bagi para investor untuk masuk ke Aceh.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Aceh, Muhammad Noval saat diwawancarai media ini, usai acara Costume and Investor Forum di Hermes Hotel, Rabu (19/7/2017).

Diakui Noval, kekurangan energi listrik di Aceh merupakan hal klise. Sebab Provinsi Aceh adalah daerah ketiga yang mendapat anggaran tertinggi dari Pemerintah Pusat, setelah DKI Jakarta dan Papua. Aceh punya Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA). Idealnya Pemerintah Aceh melakukan investasi di bidang energi. Namun, untuk pengelolaannya harus diserahkan kepada tenaga ahli dibidangnya yang profesional.

“Saya berfikir kebutuhan energi setiap tahun  terus meningkat, seiring bertambahnya industri properti, industri kecil, menengah, besar dan sebagainya. Saya juga yakin, selain dapat memenuhi suplai energi ke masyarakat Aceh sendiri, juga dapat dijual ke wilayah luar Aceh. Itu sudah dilakukan daerah-daerah lain untuk mengatasi kekurangan energi listrik di daerahnya masing-masing,” kata Noval.

Lanjutnya, untuk fokus di dunia investasi di Aceh, Pemerintah Aceh harus membentuk tim Satgas Khusus guna menyelesaikan masalah-masalah yang terkait sosial dan lingkungan seperti, lahan masyarakat setempat, agar para investor merasa nyaman dalam berinvestasi.

Seperti halnya yang terjadi pada pembangunan PT. Semen Indonesia Aceh di Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie.

Kejadian tersebut katanya, menjadi pemberitaan yang sangat tidak mengenakkan bagi investor luar untuk masuk ke Aceh.

“Aceh inikan daerah bekas konflik, jadi ketika ada orang lain masuk maka tidak menutup kemungkinan akan sedikit muncul rasa curiga dan takut tersingkir. Ini biasa terjadi di daerah pedalaman yang jauh dengan perkotaan. Seharusnya, pemerintah jauh responsif dengan masalah yang dialami antara masyarakat dan PT. Semen Indonesia,” ungkapnya. 

Menurut Noval, semua hanya masalah komunikasi. Seharusnya pemerintah lebih gencar dalam mensosialisasi manfaat investasi terhadap masyarakat Aceh sendiri agar masyarakat paham. Namun, harus sesuai etika dan adat yang berlaku di daerah tersebut.

Seperti diketahui, Provinsi Aceh urutan tertinggi angka kemiskinan di Pulau Sumatera, belum lagi jumlah pengangguran terdidik setiap tahunnya meningkat, serta tingginya angka perceraian yang disebabkan  faktor ekonomi. Semua itu karena minimnya lahan lapangan kerja untuk masyarakat Aceh. Sehingga, akan menimbulkan dampak negatif.

Ada sebagian Masyarakat akibat himpitan ekonomi cenderung berusaha melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum akibatnya mereka terpaksa menjadi kurir penjualan narkoba.

“Begitu juga dengan pemerintah dan para investor, jangan melupakan masyarakat setempat, rangkul mereka, ajak mereka untuk dapat bekerja sama, karena yang sangat dibutuhkan masyarakat Aceh saat ini adalah lapangan kerja,” ujarnya.

Ia berharap di era pemerintahan Gubernur Aceh baru ini, mampu mensejahtrakan rakyat Aceh dengan cara memperbanyak investor-investor ke Aceh.

“Saya optimis akan banyak masuk investor ke Aceh selama pemerintah mampu menciptakan iklim kondusif untuk dunia investasi, sementara dari segi keamanan sudah sangat baik dan kondusif di Aceh”, ungkap Ketua DPD REI Aceh, Muhammad Noval.***

Komentar

Loading...