Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Ketika Sang Loyalis Terhempas

Ketika Sang Loyalis Terhempas
Pengurus DWP PAN Aceh bersama Pengurus DPP, Yandri Susanto dan Mumtaz Rais, mengikuti Muswil Ke-5 di Banda Aceh (Foto: serambinews.com)

Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) akhirnya menetapkan Mawardi Ali sebagai Ketua DPW PAN Aceh Periode 2020-2025. Haru biru dan puja puji mengalir deras kepada Bupati Aceh Besar Periode 2017-2022 tersebut. Mantan anggota DPR Aceh ini pun sesumbar akan meraih 10 kursi DPRA dan tiga untuk DPR RI pada Pileg 2024 mendatang. Semudah itukah? Wartawan MODUSACEH.CO Muhammad Saleh menulisnya untuk Liputan politik.

“ITULAH politik,” tulis T. Hasbullah atau akrab disapa Bob ini melalui pesan WhatsApp (WA) kepada media ini beberapa waktu lalu, usai mendapat kabar tentang penetapan Mawardi Ali sebagai Ketua DPW PAN Aceh Periode 2020-2025.

Sebelumnya, Bob adalah Penjabat (Pj) Ketua DPW PAN Aceh, mengantikan Anwar Ahmad yang maju sebagai calon anggota DPD RI pada Pileg 2019 lalu. Namun menuai gagal untuk keduakalinya.

Seiring berjalannya waktu, Bob memiliki tanggunjawab besar untuk mendongkrak elektabilitas PAN di Aceh, khususnya pada kontestasi Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 lalu.

Hasilnya memang miris, PAN hanya meraih 6 kursi DPRA dan satu kursi DPR RI. Sementara periode lalu atau 2014, PAN justeru meraih tujuh kursi. Ini berarti kehilangan satu kursi. Sementara untuk DPR RI tak bergerak atau tetap satu kursi.

Begitupun, di pentas nasional posisi Bob boleh disebut hoki alias beruntung. Sebab, dua Kongres PAN, dia berada di gerbong Zulkifli Hasan (Zulhas) yang kembali unggul pada Kongres V PAN di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin, 10 Februari 2020 lalu. Disebut-sebut Bob memang loyalis Zulhas.

Entah itu sebabnya, Bob begitu optimis dan haqqul yakin kepemimpinan PAN Aceh untuk satu periode berikutnya akan dia raih.

Pertaruhan nasib itu pun kian kuat, setelah Bob gagal menuju kursi DPR RI dari Dapil II Aceh pada Pileg 2019 lalu. Modal utama, ya sebagai loyalis Zulhas.

Tapi, politik rupanya tak hitam putih. Selain itu, untuk menduduki jabatan tertinggi semisal ketua partai di level daerah, tak cukup loyalis dan mengikuti jenjang perkaderan yang mumpuni, jika tidak dibekali dana pribadi yang cukup.

Asumsi ini semakin kuat saat Muswil Ke-5 PAN Aceh yang digelar, Rabu, 2 September 2020 lalu.

Awalnya muncul 13 kader yang mendaftar sebagai calon ketua yaitu, H Nazaruddin Dek Gam, Ir Mawardi Ali, Irfannusir SAg, Asrizal H Asnawi, Ir Tun Azhari, Syafriadi, Aiyub, Faisal Ibrahim, Syamsul Bahri, Tarmidinsyah Abubakar, Asrul Abbas, Ismaniar, dan T. Habusllah HD.

Nah, dari 13 nama tadi, peserta (DPD II PAN) se-Aceh akhirnya memilih empat formatur adalah; T. Hasbullah HD (mantan Ketua PAN Aceh), Irfannusir (mantan Sekretaris PAN Aceh), Nazaruddin Dek Gam (anggota DPR RI), dan Mawardi Ali (Bupati Aceh Besar).

Hasilnya? Setelah sekian lama dan kuatnya tarik ulur dukungan, Zulhas akhirnya menetapkan Mawardi Ali sebagai Ketua DPW PAN Aceh Periode 2020-2025. Sementara Bob didapuk sebagai sekretaris dan Irfannusir sebagai bendahara.

Sumber media ini mengungkap. Munculnya nama Mawardi Ali tidaklah serta merta. Dia didukung Nazaruddin Dek Gam dalam posisinya sebagai Korwil Aceh di DPP PAN.

Maklum, antara Mawardi Ali dan Dek Gam memang berasal dari satu daerah yaitu; Aceh Besar. Walau pun pada Pileg 2019 lalu, Mawardi Ali tidak mendukung Dek Gam sebagai caleg DPR RI Dapil I Aceh dari PAN.

Namun, untuk soal Ketua DPW PAN Aceh, hubungan antara Mawardi Ali dan Dek Gam akhirnya mencair.

Selain itu, ada nama Farhan Hamid dan Azwar Abu Bakar yang dianggap Zulhas sebagai tokoh PAN Aceh.

Kabarnya, Farhan memang ada bergesek dengan Bob terkait nomor urut pada Pileg 2019 lalu.

Farhan ingin nomor satu di Dapil II Aceh. Tapi, nomor tersebut justeru berada di tangan Bob. Sementara Azwar Abu Bakar, memang sejak awal menunjukkan ketidak-sukaannya pada Bob.

“Ya, bahkan sempat muncul kabar, apabila Zulhas tidak menetapkan Mawardi sebagai ketua, maka keduanya akan berpindah ke Partai Umat pimpinan Amien Rais,” ujar seorang politisi PAN Aceh pada media ini, Rabu sore di Banda Aceh.

Yang  jadi masalah adalah, akankah Bob bisa berjalan seiring dengan Mawardi Ali setelah terhempas dari peluang dan kursi Ketua DPW PAN Aceh?

Sebab, secara politik posisi Bob memang free atau bebas dari “cengkraman” Mawardi, karena dia tidak menduduki kursi anggota DPR RI, DPRA maupun DPRK yang rawan dengan pergantian.

Berbeda dengan Irfannusir. Anggota DPR Aceh dari Fraksi PAN ini memang harus bermain cantik jika tak elok disebut; menjaga ritme dan keseimbangan. Bila tidak, tentu kursinya di DPR Aceh akan sangat rawan. (bersambung).***

Komentar

Loading...