Dibalik Seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Pemerintah Aceh

Ketika Hasrat Nizarli Kandas di Kursi Kepala ULP

Ketika Hasrat Nizarli Kandas di Kursi Kepala ULP
Nizarli dan kawan-kawan bersama Yuyun (Foto: Ist)
Rubrik

MODUSACEH.CO I Tak berapa lama lagi, sejumlah kursi kepala dinas (SKPA) atau pimpinan tinggi pratama Pemerintah Aceh, yang selama ini kosong akan terisi.

Ini sejalan dengan Hasil Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama yang telah memasuki paruh akhir.

Lihat saja, dari ratusan calon yang mendaftar, kini hanya tersisa tiga kandidat (calon) dari setiap posisi yang dibutuhkan. Nama mereka pun telah terpublikasi melalui media pers cetak lokal, media siber maupun sosial. Dan, Gubernur Aceh Nova Iriansyah akan memilih satu nama.

Ada yang tersenyum karena gembira masuk dalam tiga besar, sebaliknya tertunduk lesu setelah gagal meniti karir sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Tapi, ada juga yang biasa-biasa saja. Alasannya, sejak awal sudah sadar bahwa calon yang dijagokan sudah tersedia alias disiapkan. Ini bermakna; dunia memang belum kiamat!

“Ya, saya hanya tes kemampuan saja. Saya masih 10 tahun lagi masa tugas, jadi bersabar dan mungkin ke depan masih ada kesempatan,” ucap seorang calon optimis, Jumat pekan lalu di Banda Aceh.

Sebatas ini tentu tak soal. Ibarat bermain judi, mereka pun mengadu nasib. Bila berhasil berarti “untung”, jika gagal jelas “buntung”.

Yang jadi soal kemudian, bagaimana dengan calon atau kandidat diluar uji kepatutan yang sebelumnya sempat digadang-gadang?

Syahdan, tersebutlah nama Nizarli, seorang dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Dia merupakan teman dekat Gubernur Aceh Nova Iriansyah saat bersama menempuh pendidikan di Institut Teknologi Surabaya (ITS). Hubungan terus berlanjut hingga keduanya juga menjadi dosen di USK Banda Aceh.

Ikatan pertemanan itu pun semakin kuat, karena istri pertama dan kedua Nova, Dyah Erti Idawati serta Yunita Arafah (Yuyun), juga menjadi dosen di USK.

Entah itu sebabnya, saat Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah unggul pada Pilkada Aceh 2017 lalu. Nizarli sempat didapuk sebagai Plt Kepala ULP Pemerintah Aceh. Kabarnya, karena Irwandi suka dan Nova mengaminkannya.

Kursi empuk itu tidaklah asing bagi Nizarli. Sebab, pada periode pertama Prof Dr. Samsul Rijal menjadi Rektor USK, dia dipercaya sebagai Pejabat Pembuat KOmitmen (PPK) perguruan tinggi jantong hate rakyat Aceh ini dari tahun 2011 hingga 2016.

Begitupun, posisi ini tak lama bertahan. Pada periode kedua, Prof Samsul Rijal kabarnya bergesek dengan Nizarli hingga dia memilih untuk berkiprah di luar kampus.

Lalu, karena Irwandi tersangkut kasus korupsi di KPK, posisi Nizarli kemudian berganti.

Tak patah arang, begitu Nova menjadi Plt Gubernur Aceh hingga dikukuhkan sebagai Gubernur Aceh mengantikan kursi Irwandi. Hubungan Nizarli dengan Nova dan Yuyun semakin susah dipisahkan.

Ini dibuktikan bahwa Nova sering bertandang ke rumah Nizarli. Begitu pula sebaliknya. Kedua cepika cepiki hingga larut malam.

Khusus dengan Yuyun, Nizarli pun tak kuasa menolak untuk menemaninya bersepeda ria di sejumlah kabupaten dan kota di Aceh. Termasuk di Bogor, Jawa Barat dan lokasi lainnya.

Lagi-lagi, entah itu alasannya, nama Nizarli kemudian mengemuka. Dia digadang-gadang sebagai calon kuat Kepala ULP Pemerintah Aceh yang silih berganti. Terakhir dari tangan Sayed Azhari kepada Junaidi (Kepala Dishub) Aceh.

Peluang ini sebenarnya tidak sulit diraih Nizarli. Salah satu modal utama adalah, karena kedekatannya dengan Nova Iriansyah serta Yuyun. Dalam banyak kesempatan, kabarnya baik Nova maupun Yuyun, berjanji akan menempatkan Nizarli pada kursi basah tadi.

Hanya saja, kendala dan halangan kabarnya ada di tangan Setda Aceh Taqwallah. Dia terkesan enggan mengeluarkan surat keputusan (SK) dan melantik Nizarli. 

“Padahal Pak Gub sudah berulangkali meminta Taqwallah untuk memprosesnya,” ungkap sumber media ini yang juga orang dekat Nova Iriansyah.

20210322-yuyun-c

Nizarli dan dosen Fakultas Teknik USK bersama Yuyun (Foto: Ist)

Tapi, malang tak dapat ditolak, untuk tidak dapat diraih. Tiba-tiba saja, Pemerintah Aceh mengeluar kesempatan kepada ASN untuk mendaftar pada sejumlah posisi yang dibutuhkan.

Sialnya, kesempatan tersebut tak menjadi peluang bagi Nizarli. Sebab, dia tak mendaftar untuk mengikuti serangkaian tes atau seleksi yang disyaratkan. Disebut-sebut, Nizarli terganjal usia.

Sejalan dengan itu, maka pupuslah  hasrat dan harapan Nizarli untuk menduduki kursi Kepala ULP seperti yang pernah beredar sebelumnya. Nasib, nasib.***

Komentar

Loading...