Catatan Tanggapan Pansus DPRA Terhadap LKPJ TA 2020

Kepemimpinan Nova Iriansyah Dinilai Sangat Lemah dan Amburadul?

Kepemimpinan Nova Iriansyah Dinilai Sangat Lemah dan Amburadul?
Pansus DPRA menyerahkan rekomendasi terhadap LKPJ Pemerintah Aceh TA 2020. (Foto: Humas Sekretariat DPRA)
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Panitian Khusus (Pansus), Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) membacakan secara bergantian terhadap laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPJ) Pemerintah Aceh tahun 2020.

Diawali Ketua Pansus LKPJ Sulaiman dari Fraksi Partai Aceh (PA), dilanjutkan Rijaluddin (Fraksi PKB-PDA) dan dokter Purnama dari Fraksi PKS.

Wakil rakyat yang tergabung dalam Tim Pansus LKPJ tahun 2020 ini menyoroti amburadulnya pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2020.

Sidang paripurna di Ruang Utama Gedung Sekretariat DPRA, Banda Aceh, Jalan Tgk. Daud Beureueh, Banda Aceh, Senin (7/6/2021), menelanjangi kondisi buruk kinerja Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Hasil telaah tim Pansus DPRA terhadap dokumen LKPJ Gubernur Aceh tahun anggaran 2020 dan dibarengi hasil kunjungan ke lapangan misalnya. Tim Pansus LKPJ DPR Aceh menemukan beberapa masalah pada hampir semua urusan pemerintahan.

Pansus LKPJ DPR Aceh itu mengungkap, beberapa permasalahan yang ditemukan terkait dengan penggunaan dana Otsus, penggunaan anggaran, pengelolaan aset, kemiskinan, tingginya angka pengangguran, kesejahteraan, perumahan, pertumbuhan ekonomi, lembaga keistimewaan, penggunaan wewenang pemerintah dan perundang-undangan. 

“Atas dasar temuan masalah ini, maka DPR Aceh memberikan catatan strategis dan rekomendasi dalam bentuk pendapat, usul dan saran, serta koreksi,” baca Sulaiman, dalam rapat paripurna yang juga bisa disaksikan secara zoom, Senin siang.

Pansus LKPJ DPR Aceh itu menyebut, kinerja ekonomi makro pemerintahan di bawah kepemimpinan Nova Iriansyah pada tahun ke-4, dinilai berdasarkan janji-janji kampanye, sesuai dengan apa yang dituangkan dalam RPJMA, maka masih jauh antara harapan dan kenyataan.

Menurut tim Pansus, semua Visi dan Misi Aceh Hebat yang awalnya bertujuan untuk mensejahterakan rakyat Aceh, ternyata tidak tercapai pada tahun ke-4, dibawah kepemimpinan Ketua DPD Partai Demokrat Aceh itu.

Indikator ini dicontohkan DPRA, Aceh masih dinobatkan sebagai daerah termiskin se-Sumatera, dan peringkat ke-6 termiskin se-Indonesia.

Ketua Pansus LKPJ Sulaiman menegaskan, tingkat pengangguran di Aceh masih nomor 1 di Sumatera.

“Pertumbuhan ekonomi masih jauh dari harapan. Pengangguran dimana-mana, rakyat hidup susah, apalagi di masa Pandemi Covid-19. Sedangkan Pemerataan ekonomi di 23 kabupaten/kota tidak tercapai, dengan angka Gini Ratio 0,319,” kritik mantan DPR Aceh Besar ini.

Bukan hanya itu, menurut Pansus DPRA terhadap LKPJ TA 2020,  pengelolaan keuangan Aceh sangat amburadul. Wakil rakyat ini mencontohkan, pada anggaran tahun 2020, SILPA anggaran Aceh mencapai Rp 3,96 Triliun. 

“Pergeseran anggaran atau refocussing sebanyak empat kali Pergub, menyebabkan anggaran Aceh tidak tepat sasaran,” ungkap wakil rakyat tersebut.

Bahkan kritik DPRA, pengelolaan keuangan di Sekretariat Daerah dan di Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA) juga masih amburadul akibat Pergub berulang kali.

“Ujungnya, kinerja atau capaian Pemerintahan Saudara Gubernur Nova Iriansyah tidak tercapai sesuai dengan Visi dan Misi Aceh Hebat di tahun ke-4,” tegas DPRA.

Sementara itu lanjut DPRA, pelaksanaan program pembangunan di setiap Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA0, banyak sekali ditemukan proyek yang tidak tepat sasaran.

Terutama di Dinas Pendidikan Aceh, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta dinas-dinas yang lain. “Sehingga sangat merugikan Aceh,” kata DPRA.

Mirisnya lagi ungkap Pansus DPRA, selama 15 tahun kepemimpinan Gubernur di Aceh, pasca damai, belum pernah ditemukan sisa anggaran atau SILPA APBA yang hampir mencapai Rp 4 triliun.

“Inilah buktinya bahwa Kepemimpinan Saudara Gubernur Nova Iriansyah sangat lemah dan amburadul dalam memimpin Aceh,” kritik Ketua Pansus Sulaiman dalam catatan, Senin siang.***

Komentar

Loading...