HIV/AIDS dan Lelaki Seks Lelaki di Kota Banda Aceh

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Dr. Warqah Helmi: Bukan Warga Asli Banda Aceh

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Dr. Warqah Helmi: Bukan Warga Asli Banda Aceh
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Dr. Warqah Helmi
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Dr. Warqah Helmi mengaku. Kasus HIV/AIDS dialami Lelaki Seks Lelaki di Kota Banda Aceh, umumnya bukan merupakan masyarakat asli atau Aceh.

Itu disampaikannya, saat dikonfirmasi usai menghadiri acara Rapat Paripurna DPRK Banda Aceh. Jl. Teuku Moh. Daud Beureueh Nomor 5, Kp. Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Selasa, 26 November 2019.

“Memang, umumnya bukan dari orang orang kita. Banyak pendatang. Sasaran kita untuk tindakan survey. Tapi, mereka itu ada privasi tersendiri,” jawab Walqah.

Dia mengungkapkan, survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Banda Aceh, bukanlah survei data dan lapangan. Namun data dari pihak Pukesmas.

Biasanya, para penyandang atau penderita itu melakukan konsultasi di Pukesmas di daerahnya masing-masing.

“Jadi mereka datang ke ruang konsultasi, dan ada Pukesmas yang menangani. Misalnya di Pukesmas Kuta Alam. Ada khusus seperti ini untuk ditangani bidang konseling,” ungkapnya.

Pukesmas menyediakan ruang konseling. Bagi para penderita dengan sukarela menceritakan apa yang dilakukan dan dialaminya.

“Artinya mereka bisa menceritakan secara suka rela apa yang mereka lakukan dan alami, namun sifatnya tidak dipublikasi,” jelasnya.

Proses selanjutnya, pihak Pukesmas dan Dinkes Kota Banda Aceh memberikan pengobatan terhadap penderita HIV itu.

“Nanti akan kita berikan pengobatan, setelah diperiksa di Pukesmas lalu akan bawa ke rumah sakit, terus berlanjut agar tidak menyebar,” katanya lagi.

Dia mengungkapkan, kasus HIV di Kota Banda Aceh setiap tahun terjadi peningkatan.

“Tetapi kita harapkan kasus HIV jangan sampai menjadi AIDS. Soalnya untuk tingkat ini lebih berat lagi kasusnya. Biasanya, untuk kasus-kasus tertentu, ada kasus HIV yang akan menjadi AIDS dan penanganannya harus lebih serius,” ungkapnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, jumlah kasus HIV/AIDS secara keseluruhan ada 711 orang. “Tapi itu baru dugaan kita, belum dtelusuri lebih lanjutnya,” jelas Dr. Warqah Helmi.

Penderita HIV/AIDS memang sering dialami para homo seksual atau lelaki seks lelaki atau sering juga dinamai dengan “Kelompok Koci”. Termasuk gay dan lesbian.

“Untuk penanganan selama ini memang sifatnya per kelompok,” sebutnya.

Terkait kasus tersebut, pihaknya telah membuat tim khusus Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P).

“Sudah di bentuk tim khusus untuk menangani hal ini. Memang ada kasus untuk penanganan HIV atau AIDS,” ungkapnya.

“Penanganan untuk "Kelompok Koci" ini misalanya, Lelaki Seks Lelaki atau homo seksual. Karena, pososinya sangat sensitiv sekali. Makanya, penyebaran informasi terhadap oknum atau orangnya tidak kita sebar luaskan, untuk menjaga privasi mereka juga,” jelasnya.***

Komentar

Loading...