Setelah Tahun 2014 dan 2016

Kembali 4 Napi Kasus Narkoba LP Kahju Kabur dari Tahanan

Kembali 4 Napi Kasus Narkoba LP Kahju Kabur dari Tahanan
Napi yang kabur (Foto: Ist)

Banda Aceh | Tinta hitam kembali mencoreng kalangan lembaga pemasyarakatan (LP) di Aceh. Kisah miris ini belum bergesert pada peristiwa kaburnya narapidana dan tahanan.

Rabu, 14 Oktober 2020, sekirat pukul 05.00 WIB. Tiga tahanan dan seorang narapidana Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Banda Aceh di kawasan Kahju, Kabupaten Aceh Besar, kabur.

Kabarnya, aksi ini bisa berjalan mulus setelah napi dan tahanan tersebut, menjebol teruji besi di atas pintu sel atau kamar tahanan. Begitu mudahkah?

Kepala Rutan Kelas IIB Banda Aceh Irhamuddin kepada media pers, membenarkan kejadian itu. "Mereka kabur tadi pagi (Rabu, 14/10) sekitar pukul 05.00 WIB setelah ada teriakan dari kamar sel mereka. Mereka menjebol jeruji besi, lari menaiki atap dan memanjat tembok rutan menggunakan kain," ungkap Irhamuddin.

Nah, penghuni Rutan yang melarikan diri tersebut yakni Zuhri bin M Yasin. Dia tahanan kasus narkoba yang saat ini masih dalam proses persidangan.

20201014-kabur2

Foto: Ist

"Zuhri bin M Yasin juga merupakan narapidana narkoba yang melarikan dari Lembaga Pemasyarakatan Banda Aceh di Lambaro, Aceh Besar, beberapa waktu lalu," ucap Irhamuddin.

Lalu Azmi Hanafiah dengan status narapidana 14 tahun. Azmi Hanfiah merupakan narapidana narkoba yang putusan hukumnya baru memiliki kekuatan hukum tetap.

"Narapidana Azmi Hanafiah ini rencana akan dipindahkan ke Nusakambangan, Jawa Tengah. Namun, karena pandemik COVID-19, pemindahan yang bersangkutan ditunda," ujarIrhamuddin.

Dan Muliadi bin Suid Ali, merupakan tahanan majelis hakim dalam perkara narkoba serta Sulaiman bin Abdul Hamid merupakan tahanan penyidik kepolisian, juga dalam kasus narkoba.

Irhamuddin menyebutkan tiga tahanan dan satu narapidana yang melarikan diri tersebut merupakan penghuni kamar isolasi atau karantina.

Alasannya, karena berupaya melarikan diri beberapa waktu lalu bersama tujuh orang lainnya. Namun, upaya mereka gagal.

"Waktu itu, ada 11 orang, namun mereka gagal kabur. Mereka kemudian dimasukkan ke kamar isolasi. Setelah pembinaan, seorang di antara sadar dan dikembalikan ke sel umum. Jadi, tinggal 10 orang. Dari 10 orang tersebut, empat di antaranya melarikan diri," papar dia.

Irhamuddin menyebutkan setelah diketahui ada empat penghuni rutan yang melarikan, pihaknya langsung berkoordinasi dengan kepolisian untuk penyisiran awal. Namun, mereka yang melarikan diri tersebut tidak ditemukan.

"Kami juga sudah memanggil semua petugas jaga untuk pemeriksaan internal. Kami juga sudah melaporkan ke polisi guna membantu mencari dan mengejar mereka yang melarikan tersebut," ujarnya.

Sebenarnya, cerita kaburnya napi di LP Kahju bukan cerita baru. Bahkan, ada keterlibatan petugas atau orang dalam.

Tahun 2014 lalu misalnya, petugas Rutan Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, diduga melepas seorang napi kasus peredaran sabu-sabu, M Zaini (40) dan seorang tahanan titipan majelis hakim atas perkara sabu, Sofyan A Jalil (32), dari rutan setempat. Itu terjadi, Minggu (20/4/2014) malam.

Informasi ini terkuat, karena Sofyan gagal disidangkan kemarin karena sudah kabur. Kepala Rutan Kahju saat itu Fahyudi SH membenarkan informasi ini. Bahkan menurutnya, ia sedang di Kanwil Kemenkumham Aceh untuk melapor kejadian itu.

Disusul tahun 2016. Seorang narapidana warga binaan permasyarakatan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Banda Aceh di Jalan Laksamana Malahayati, Kecamatan Baitussalam Aceh Besar, Jumat, (22/42016) malam kabur.

Napi ini diketahui bernama Heri Susanto Bin Sangat (22). Dia kabur dengan memanfaatkan kemudahan yang diterimannya sebagai tahanan pendamping (tamping).***

Komentar

Loading...