Dugaan Penyalahgunaan Keuangan Negara

Kejari Aceh Besar Sidik Pembangunan Jetty Kuala Krueng Pudeng, Ada Apa?

Kejari Aceh Besar Sidik Pembangunan Jetty Kuala Krueng Pudeng, Ada Apa?
Kasi Penkum Kejati Aceh, H Munawal Hadi SH MH

Aceh Besar I Kejaksan Negeri (Kejari) Kabupaten Aceh Besar di Kota Jantho, Provinsi Aceh, akhirnya meningkatkan status pemeriksaan menjadi penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan keuangan negara pada pekerjaan Pembangunan Jetty Kuala Krueng Pudeng, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar.

Sumber anggaran proyek ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2019 dibawah Dinas Pengairan Aceh.

Sesuai siaran pers, Nomor: PR-01/L.1.27.2/Dit.3/05/2021 yang dikirim Kasi Penkum Kejati Aceh, H Munawal Hadi SH MH pada redaksi media ini, Kamis, 6 Mei 2021 menyebut. Proses pemeriksaan atas dugaan penyalahgunaan keuangan Negara dalam pekerjaan Pembangunan Jetty Kuala Krueng Pudeng, Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar Tahun 2019.

Proyek ini berada dibawah Dinas Pengairan Provinsi Aceh dan telah ditingkatkan menjadi tahap penyidikan, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Bidang Tindak Pidana Khusus kejaksaan Negeri Aceh Besar.

Penyelidikan dilaksanakan Bidang Intelijen Kejaksaan Negeri Aceh Besar yang kemudian dilimpahkan kepada Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Aceh Besar. Tujuannya, untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut dan telah ditingkatkan ke tahap penyidikan.

Disebutkan, kegiatan Pembangunan Jetty Kuala Krueng Pudeng Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar Tahun 2019, dibawah Dinas Pengairan Provinsi Aceh dengan menggunakan APBA Tahun 2019, Rp17.459.999.601. “Dan nilai kontrak pekerjaan Rp 13.353.329.000,” tulis Kepala Seksi Intelijen Kejari Jantho, Deddi Maryadi SH.

Sementara hasil penelusuran tim redaksi media ini terungkap. Proses lelang (tender) pekerjaan tersebut berlangsung 12 tahap. Dimulai pengumuman pasca kualifikasi, download dokumen pemilihan, pemberian penjelasan, upload dokumen penawaran hingga pembukaan dokumen penawaran.

Sebatas ini memang tak ada persoalan. Hanya saja, sempat terjadi satu kali perubahaanpada evaluasi administrasi, kualifikasi, teknis, dan harga ( 19 Juli 2019).

Sementara itu, untuk pembuktian kualifikasi (8 Juli 2019) sempat terjadi dua kali perubahaan dan penetapan pemenang (22 Juli 2019), juga terjadi dua kali perubahaan.

Selain itu, pengumuman pemenang (22 Juli 2019), masa sanggah (23 Juli 2019) juga dua kali perubahaan dan surat penunjukan penyedia barang/jasa (30 Juli 2019) maupun penandatanganan kontrak    (5 Agustus 2019) terjadi satu kali perubahaan.

Dari  101 peserta lelang, panitia akhirnya memenangkan atau memilih PT. BINA YUSTA AZ ZUHRI sebagai pemenang dengan harga Rp 12.197.901.499,08. Nah, akankah berlanjut hingga ke meja hijau atau berhenti di tengah jalan? Biar waktu menjawabnya.***

Komentar

Loading...