Kasus Terus Bertambah, Warga Simeulue Masih Anggap Corona Tidak Ada

Kasus Terus Bertambah, Warga Simeulue Masih Anggap Corona Tidak Ada
Sejumlah ASN Simeulue sedang menjalani rapid test covid-19.

Simeulue | Korban yang disebabkan terinfeksi virus Covid-19 di Kabupaten Simeulue terus bertambah. Dari sebelumnya sembilan orang saat ini tercatat menjadi 15 orang.

Bahkan, kabar terbaru yang disampaikan Ali Muhayatsah, SH, Juru Bicara Satgas Covid-19 Simeulue. Berdasarkan hasil rapid test yang dilakukan pada 27 orang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Daerah Simeulue. sembilan orang abdi negara itu reaktif Covid-19.

"Dari 27 orang yang di rapid tes, sembilan orang reaktif Covid-19, sementara 18 orang negatif,"  terang Ali Muhayatsah, Kamis, 10 September 2020.

Adapun sembilan orang yang reaktif hasil rapid test tersebut berinisial IA , HH, FY, PR, DE, MM, SG, AS, FM. Saat ini semuanya telah menjalani karantina mandiri selama 14 hari. Setelah itu akan dilakukan tes Swab untuk memastikan apakah orang tadi benar-banar terinfeksi virus corona.

Meski demikian,, masih ada saja sebagian warga kabupaten paling ujung Sumatera ini yang tidak percaya dengan keberadaan virus yang berasal dari China itu.

Lihat saja, meski berbagai himbauan, sosialisasi, bahkan menerapkan denda bagi yang melanggar aturan Covid-19. Masih banyak warga Simeulue yang enggan bahkan memberontak dengan diterapkannya protokol kesehatan Covid-19. Misal, memakai masker, jaga jarak, serta senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan.

Sahirman, M.Si, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Simeulue mengaku. Hingga saat ini masih banyak warga Simeulue yang belum mengetahui kalau ada aturan wajib memakai masker apabila keluar rumah dan pergi ketempat keramaian.

Padahal sosialisasi langsung, lewat media masa, serta berbagai himbauan lain terkait keberadaan virus itu telah dilakukan hingga ke desa-desa.

Apa yang dikatakan Sahirman ini juga terbukti di lapangan. Saat Satpol PP melakukan razia masker di seputaran Kota Sinabang, Simeulue. Banyak masyarakat tidak tahu atau pura-pura lupa terkait adanya peraturan itu.

Akibatnya, Satuan Polisi Pamong Praja terpaksa memberi hukuman push up (sejenis olahraga menguatkan otot tangan serta dada) di depan umum untuk memberi efek jera.

Bukan itu saja, ada sebagian orang yang 'nyinyir' serta terkesan melawan penerapan aturan protokol kesehatan.Baik melalui media sosial Facebook, WhatsApp, serta berbagai media sosial lainnya.

Mereka menyampaikan kalau virus itu masih diragukan keberadaanya.

Alibi mereka corona itu tidak ada, hanya dibesar-besarkan saja pemberitaannya. 

"Corona itu belum tentu ada, kasusnya hanya dibesar-besarkan saja. Kita demam dibilang corona, kita pilek karena kehujanan juga dikatakan terkena corona," kata seorang warga Simeulue yang tidak ingin disebut namanya.

Bahkan ada segelintir orang yang mengaitkan keberadaan virus corona dengan anggaran yang disediakan untuk penanganannya. Kata mereka, corona ini akan habis apabila anggarannya juga habis.***

Komentar

Loading...