Kasus Cerai di Aceh Barat Masih Tinggi

Kasus Cerai di Aceh Barat Masih Tinggi

Meulaboh | Setiap tahun, kasus percerain masih tinggi terjadi di Kabupaten Aceh Barat.

Mahkamah Syariah (MS) setempat mencatat. Dalam kurang waktu 12 bulan, terjadi hampir seribu kasus.

Untuk kasus perceraian tertinggi hingga saat ini, didominasi persoalan ekonomi yang mendorong adanya gugatan cerai oleh sang istri.

Memasuki triwulan ketiga mencapai 407 kasus, disusul dengan gugatan ahli waris atau warisan.

"Untuk saat ini kasus tertinggi dalam perceraian terjadi akibat faktor ekonomi.

Selanjutnya disusul kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) baik  fisik maupun non fisik.

Kasus selanjutnya perselingkuhan namun sangat kecil, hanya beberapa persen saja," kata Ketua MS Meulaboh, Syahril, Rabu (2/10/2019).

Kata dia, untuk gugatan perceraian atas kasus KDRT, didominasi usia muda atau pasangan suami istri dengan usia di bawah 40 tahun.

Namun Syahril enggan menyebutkan penyebab dari KDRT tersebut.

Dari data yang dihimpun media ini,  untuk jumlah gugatan di MS Meulaboh, kasus gugat cerai memiliki angka rata-rata 80 persen dari jumlah keseluruhan.

Tahun 2018 misalnya,  dari 859 kasus, angka perceraian mencapai 687 kasus.

Tahun 2017, dari jumlah 865 kasus  ada 692 kasus perceraian, sedangkan tahun 2016, dari jumlah 1,170 gugatan, ada 936 jumlah  kasus gugatan cerai.

Meski demikian, dari data tersebut angka perceraian yang masuk di MS Meulaboh terjadi tren penurunan dari tahun ke tahun.

Jumlah kasus gugatan cerai tiga tahun terakhir tadi, merupakan gugat cerai yang dilayangkan  pasangan suami-istri (pasutri) dari dua kabupaten yaitu, Aceh Barat maupun Nagan Raya.

"Angka perceraian sejak tahun 2018 ke bawah itu perkara dari Aceh Barat dan Nagan Raya. Kecuali 2019 karena di Nagan sudah ada MS sendiri saat ini," ujar Syahril.***

Komentar

Loading...