Terkait Kesehatan Zaini Abdullah

Karo Humas, Hasbi Abdullah dan Kejujuran Informasi

Karo Humas, Hasbi Abdullah dan Kejujuran Informasi
dok. pribadi

Sejak dua hari lalu, masyarakat Aceh nyaris tersita perhatiannya terhadap Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah.

Maklum, ini terkait dengan kondisi kesehatan Abu Doto, begitu orang nomor satu Aceh ini akrab disapa. 

Tentu, sehat dan sakit adalah hal biasa serta lumrah terjadi dalam kehidupan ini. Yang tak patut ialah, simpang siurnya informasi yang sempat terhembus ke masyarakat, sehingga publik merasa binggung. Apalagi, muncul pemberitaan bahwa Abu Doto, sudah dilarikan ke Singapura untuk perawatan intensif.

Sebenarnya, informasi tadi bisa saja direduksi, jika para pemangku kepentingan seperti Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh Frans Delian, mau sedikit jujur dengan informasi yang dimilikinya, sehingga tidak memancing rasa keingin-tahuan media pers, untuk terus memburu kabar tersebut.

Alasan ini cukup masuk akal. Sebab, Frans adalah ‘mata’ dan ‘telingga’ serta 'hidung' Pemerintah Aceh, khusus Gubernur Aceh dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Dia harus mampu menyerap dan membaca dinamika yang kini mulai terjadi, jelang Pilkada 2017. Untuk mensikapinya secara baik dengan tidak meninggalkan apalagi memenggal kaidah-kaidah dari prinsip komunikasi massa dan politik.

Syahdan, kasak-kusuk tersebut mencapai puncaknya, Minggu malam kemarin. Situs mediaaceh.co mewartakan bahwa Abu Doto, sudah dilarikan ke Singapura, untuk alasan perawatan medis karena sakit.

Nah, berbagai komentar kemudian muncul. Ada yang berdoa semoga cepat sembuh, tapi tak sedikit yang galau dan bertanya-tanya. Benarkah Abu Doto sakit?

Inilah yang kemudian menjadi pangkal persoalan. Malam itu juga, Karo Humas Pemerintah Aceh Frans Delian, membalas ‘serangan’ tersebut melalui siaran pers yang dikirim ke berbagai media: “Pak Gubernur Sehat Wal Afiat,” begitu tulis Frans, lengkap melampirkan Abu Doto dengan Kepala BPBA, Said Rasul.

Kepala Biro Humas Setda Aceh Frans Dellian, juga membantah kabar yang menyebutkan Gubernur Aceh Zaini Abdullah terserang stroke sehingga harus dirawat di Jakarta.

"Pak Gubernur sehat wal afiat. Saat ini beliau sedang berada di Jakarta dalam rangka mengikuti rapat di Kemendagri terkait persiapan pelaksanaan Pilkada,” kata Frans, Minggu (2/10/2016), seraya menyayangkan beredarnya isu yang dihembuskan oleh pihak yang tak bertanggungjawab tersebut.

Meskipun begitu, ia menjelaskan kepulangan Gubernur ke Aceh tertunda karena kelelahan akibat jadwal yang padat sehingga membutuhkan waktu untuk beristirahat.

“Perlu istirahat sebentar karena ada infeksi saluran pernafasan akibat kelelahan selama ini,” katanya. “Selain itu, ada sedikit gangguan pada lutut sebelah kanan, dan beliau saat ini sedang menunggu proses penyembuhan di Jakarta. Itu yang sebenarnya kondisi kesehatan beliau, tidak seperti isu yang berkembang,” tegas Frans.

Menariknya, diakhir ‘klarifikasi’ tersebut. Frans menulis: “Mohon do'a dari seluruh rakyat Aceh semoga Abu (panggilan akrab Zaini Abdullah-red) bisa cepat sembuh dan dapat bersama-sama membangun negeri Aceh yang kita cintai,” pungkas Frans yang memastikan gubernur akan segera kembali ke Aceh setelah proses penyembuhan selesai.

Entah lupa atau memang ‘gagal paham’. Sesungguhnya, pernyataan Frans itulah yang kemudian menjadi pemicu bagi awak media, untuk kemudian mencari kebenaran informasi yang sesungguhnya, terkait kesehatan Abu Doto. Sebab, diawal penjelasannya, dia membantah Abu Doto sakit. Bahkan, dia menyebutkan kondisi Abu Doto sehat wal afiat. Namun, di bagian lain, dia memohon doa dari rakyat Aceh agar Abu Doto cepat sembuh dari gangguan pernafasan ringan akibat kelelahan. Dan, sekali lagi, penjelasan Frans Delian inilah yang membuat bias dan blunder informasi pada publik melalui media pers.

Sebagai Karo Humas Pemerintah Aceh, harusnya Frans bisa lebih lugas dan lihai dalam memainkan kalimat pencitraan, sehingga tidak memunculkan berbagai keraguan dan pertanyaan serta dugaan susul, terkait kondisi kesehatan Abu Doto. Namun, cara dan langkah tersebut tidak dilakukan Frans sehingga publik kadung lebih percaya atau ‘terpancing’ dengan siaran pers yang dia keluarkan.

Kenapa itu terjadi? Sebab, dibalik penjelasan Frans, muncul pernyataan yang dinilai lebih jujur dan terbuka dari Hasbi Abdullah, adik kandung Abu Doto. Seperti diwartakan Harian Serambi Indonesia, mantan Ketua DPR Aceh tadi mengaku bahwa Abu Doto sedang dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, karena gangguan kesehatan. Fakta lebih sahih itu, sesuai dengan hasil penelusuran Serambi di bagian penerimaan pasien. Abu Doto tercatat masuk RSCM sejak, Jumat (30/9). Dia diinapkan di kamar Kencana 2A, Lantai VII, salah satu kamar rawat inap kategori VIP. Sementara Frans mengaku, Abu Doto ada agenda pertemuan dengan Mendagri. Bisa jadi Frans lupa, waktu yang dimaksudkan Frans adalah hari libur yaitu Sabtu dan Minggu, sementara dari penjelasan Hasbi, Abu Doto, sudah dirawat sejak Jumat.

 “Kalau istirahat di Aceh, sudah pasti tak bisa juga istirahat, karena tingginya akitivitas Gubernur dan harus melayani tamu,” kata Hasbi Abdullah. Hasbi juga membantah jika Zaini Abdullah mengalami stroke dan dalam keadaan kritis, serta akan dibawa ke luar negeri. “Ah, tidak benar stroke. Itu berlebihan. Ada-ada saja,” kata sedikit tertawa.

Pengakuan serupa juga disampaikan Direktur RSUZA, dr Fahcrul Jamal pada media pers. Katanya, Gubernur Zaini Abdullah, saat ini memang sedang mengalami batuk. Terkait kedatangannya ke RSCM, Sabtu (1/10) kemarin, Fachrul Jamal mengatakan itu untuk memeriksakan kesehatannya yang sedang batuk. “Sekaligus ambil foto untuk melihat dugaan infeksi pernapasan yang sedang dialaminya sejak sebelum menjalani tes kesehatan (sebagai balon gubernur),” kata Fachrul yang dihubungi kepada Serambi, Minggu (2/10) malam.

Fachrul Jamal mengatakan, saat menjalani tes kesehatan sebagai bakal calon gubernur, Minggu (25/9) lalu, kondisi kesehatan Doto Zaini memang sedang batuk dan flu ringan. Namun begitu, lanjut Fachrul Jamal, Doto Zaini masih sanggup menjalani berbagai tes kesehatan yang dipersyaratkan kepadanya sebagai bakal calon gubernur.

Lantas, apa kata Sekda Aceh Dermawan? Dia mengakui bahwa Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah sedang sakit dan dirawat pada salah satu rumah sakit di Jakarta. Akibatnya, Abu Doto begitu dia akrab disapa tak hadir dalam acara konversi Bank Aceh Syariah. Padahal, sebagai Gubernur Aceh, Zaini Abdullah  juga pemegang saham mayoritas. "Beliau ingin pulang untuk membuka acara ini, cuma dokter belum mengizinkan untuk keluar," ujar Demawan, Senin (3/9/2016).

Pengakuan tersebut disampaikan Dermawan saat menyampaikan sambutannya pada acara Grand Launching Konversi Bank Aceh Syariah mewakili Gubernur Aceh di Anjongan Mon Mata, Banda Aceh. Karena itu, Gubernur Aceh meminta maaf kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), para pihak direksi, dan para undangan lainnya. "Karena Pak Gubernur tidak bisa hadir,  beliau meminta saya menggantikan beliau, dan menyampaikan permohonan maaf," kata Dermawan.

Yang jadi soal adalah, andai saja Karo Humas Frans Delian berbicara jujur alias tak memberikan informasi bias pada awak media melalui siaran persnya, bisa jadi pemberitaan tentang kesehatan Abu Doto tak seheboh yang dibayangkan. Frans harusnya paham, kritis dan lebih sensitif terhadap berbagai masalah yang muncul, terutama mengenai posisi dan kondisi Abu Doto. Sebab, petahana ini merupakan salah satu calon Gubernur Aceh yang akan bertarung pada Pilkada 2017 mendatang. Tentu, semua gerak geriknya menjadi perhatian publik dan media pers. Termasuk dari lawan-lawan politiknya, untuk menyusun serangan.

Nah, andai saja tak ada Hasbi Abdullah dan Sekda Aceh Darmawan yang memberi klarifikasi lebih jujur dan terbuka pada media pers, bukan mustahil informasi tentang kesehatan Abu Doto akan terus berselancar di dunia maya, terutama jejaring media sosial dan media online.

Disinilah butuh kecerdasan seorang Karo Humas Pemerintah Aceh. Frans harusnya lebih paham, sebagai Karo Humas Pemerintah Aceh, dia tak hanya bertugas membuat pecitraan Abu Doto menjadi manis. Tapi juga harus mampu merasakan yang tawar dan asin, untuk kemudian diramu menjadi manis. Bukan sebaliknya, yang telah manis menjadi tawar, apalagi asin. Seorang Karo Humas, tak harus selalu bertindak sebagai ‘pemadam kebakaran’ ketika api mulai tersulut. Tapi dia juga harus mampu menjaga tidak terjadinya ‘kebakaran informasi’ yang kemudian membakar kebenaran informasi itu sendiri. Jika ini terus terjadi, maka yang menjadi ‘sasaran’ dan menerima akibat adalah: Abu Doto!***

 

Komentar

Loading...